TRENGGALEKJENGGELEK - Dalam khazanah sastra Jawa klasik, tersimpan kisah agung yang melampaui batas dunia fana.
Yakni kisah cinta antara Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan, dan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Baca Juga: Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul Gundah Gulana, Ternyata Hal Ini yang Mereka Rasakan
Bukan sekadar romansa, kisah ini menjadi fondasi spiritual yang menyatukan langit dan laut, Panembahan Senopati dan ratu gaib Nyi Roro Kidul, dalam ikatan yang tak lekang oleh waktu.
Dalam bait kelima tembang Mijil, terlukis bagaimana kata-kata lembut Panembahan Senopati mampu menusuk hati Sang Dewi bagaikan jarum halus penenun benang.
Baca Juga: Ini Tekad Nyi Roro Kidul Usai Panembahan Senopati Pamit Pulang ke Mataram
Sang ratu Laut Selatan terdiam, tak kuasa menahan getar cinta yang perlahan menyelimuti seluruh jiwanya.
Terperangah oleh manisnya tutur sang raja, ia akhirnya berkata lirih: "Turunkan aku, Pangeran." Sebuah isyarat bahwa dirinya telah luluh, siap menyatukan rasa dengan sang penguasa daratan.
Turun dari pangkuan Panembahan Senopati, Nyi Roro Kidul duduk bersila sejajar, lalu menyampaikan permohonan maaf.
Bukan karena bersalah, melainkan karena merasa rendah diri telah mencintai seorang pria yang ia anggap sebagai junjungan.
Baca Juga: Remuk Redam Hati Nyi Roro Kidul saat Panembahan Senapati Pamit Pulang ke Mataram, Dia Bilang Begini
Ini bukan cinta biasa, melainkan bentuk tertinggi pengabdian seorang ratu gaib kepada penguasa manusia.
Namun cinta yang dibangun bukan untuk sesaat. Dalam bait ketujuh, Nyi Roro Kidul memohon dengan tulus agar cinta mereka tak hanya abadi untuk mereka berdua, tetapi juga diteruskan kepada seluruh keturunan Panembahan Senopati.
Dia berharap agar darah raja Mataram kelak menjadi penerus ikatan spiritual itu, menjadikannya kekasih abadi, bukan secara jasmani, tetapi secara gaib dan ruhani.
Panembahan Senopati tak hanya menyanggupi, ia merengkuh sang Dewi penuh kasih, menyatukan cinta dan restu dalam pelukan yang mengikat dua alam.
Dalam bait kedelapan, Nyi Roro Kidul menegaskan kesetiaannya. Ia tidak hanya menjadi kekasih, tetapi juga pelindung.
Saat perang besar atau bencana menghadang keturunan Panembahan Senopati, ia bersumpah akan hadir memberi pertolongan secepatnya.
Sebuah ikrar yang menjadikan lautan selatan sebagai benteng gaib bagi trah Mataram. ****
Editor : Dharaka R. Perdana