TRENGGALEKJENGGELEK - Kisah asmara spiritual antara Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, Ratu Laut Selatan, tidak hanya diwarnai oleh cinta yang suci.
Tetapi juga oleh sebuah ikrar abadi yang penuh kekuatan gaib dan perlindungan sakral antara keduanya.
Baca Juga: Setulus Hati, Begini Sumpah Janji Nyi Roro Kidul untuk Keturunan Panembahan Senopati
Dalam bait 9 hingga 12 dari Tembang Mijil, terekam detik-detik terakhir pertemuan keduanya, yang sekaligus menjadi momen penyerahan warisan kekuatan mistis kepada Sang Raja Mataram.
Dalam keheningan perpisahan, Nyi Roro Kidul mendekat dan memberikan sebuah winasis (petunjuk rahasia) kepada Panembahan Senopati. Ia berkata pelan namun pasti:
Baca Juga: Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul Gundah Gulana, Ternyata Hal Ini yang Mereka Rasakan
“Bersendekaplah sembari menahan napas, dan jejakan kakimu ke bumi sebanyak tiga kali. Maka aku akan datang, membawa pasukan makhluk halus.”
Itu adalah kode gaib pemanggilannya, sebuah janji bahwa kapan pun Sang Raja atau keturunannya menghadapi kesulitan besar, Ratu Laut Selatan akan hadir dengan kekuatan tak kasat mata, membawa pasukan jin dan lelembut dari laut selatan.
Baca Juga: Ini Tekad Nyi Roro Kidul Usai Panembahan Senopati Pamit Pulang ke Mataram
Tak hanya petunjuk gaib, Nyi Roro Kidul juga mewariskan dua pusaka sakti:
1. Telur Lungsung Jagad
Sebuah benda gaib yang memiliki khasiat luar biasa: menambah kesaktian, memperpanjang usia, dan membangkitkan kekuatan tersembunyi.
2. Minyak Jayengkatong
Minyak mistik pemberian para dewa, yang menjadi pelindung dan memperkuat jiwa kepemimpinan serta daya magis sang raja.
Kedua benda tersebut dipersembahkan langsung kepada Panembahan Senopati, yang menerimanya dengan rasa syukur dan bahagia.
Karena kini Panembahan Senopati tidak hanya memimpin manusia, tapi juga memegang kendali atas kekuatan lelembut dari Pantai Selatan.
Sebagai penutup, Nyi Roro Kidul memberikan ilmu pamungkas berupa sebuah ajaran rahasia tentang tata kelola “keraton lelembut”.
Ilmu ini bukan sekadar strategi kepemimpinan, melainkan cara mengelola kekuasaan yang dihormati oleh dunia gaib, agar kerajaan Mataram menjadi besar dan disegani oleh makhluk halus dari berbagai penjuru.
Panembahan Senopati menerima seluruh petunjuk itu dengan hati terbuka. Ia memahami bahwa kekuasaannya sebagai raja Mataram tidak hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga dunia spiritual.
Setelah semua ilmu dan pusaka diserahkan, Nyi Roro Kidul memeluk erat Panembahan Senopati.
Sebuah pelukan yang bukan sekadar perpisahan, tapi lambang ikatan abadi antara dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia lelembut.
Sejak saat itu, ikatan antara Mataram dan Laut Selatan menjadi pakem yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan setiap keturunan Panembahan Senopati terhubung secara spiritual dengan sang Ratu Laut Selatan. ****