TRENGGALEKJENGGELEK - Dalam legenda agung yang melampaui zaman, tersimpan kisah cinta spiritual antara Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan, dan Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram.
Sebuah perjumpaan mistis yang sarat makna terjadi di antara mereka, ketika cinta tidak hanya menyatukan jiwa, tetapi juga menjadi jembatan kekuatan gaib dan amanat leluhur.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Serahkan Kesaktian dan Pusaka Ampuh pada Panembahan Senopati, Ini Namanya
Salah satu bagian paling menggetarkan dari kisah ini terekam dalam bait-bait puisi tembang Jawa klasik, terutama pada bait 13 hingga 16.
Di sana digambarkan bagaimana Nyi Roro Kidul, dengan segenap kelembutan sekaligus kekuatan batinnya, mencoba menahan kepulangan Sang Panembahan yang harus kembali ke dunia manusia dan memimpin kerajaan.
Baca Juga: Setulus Hati, Begini Sumpah Janji Nyi Roro Kidul untuk Keturunan Panembahan Senopati
“Dhuh Pangeran yen marengi karsi, ing panuwun ingong...”
"Aduh Pangeran, jika bersedia memenuhi permintaan hamba, tundalah kepulanganmu, menurutku belum saatnya. Bagaimana aku jika engkau benar-benar pergi?"
Seruan lirih penuh harap itu lahir dari hati Nyi Roro Kidul yang tengah dilanda kegelisahan.
Momen spiritual yang mereka alami belum sepenuhnya usai, sementara Sang Panembahan harus kembali menunaikan tugas kenegaraan.
Baca Juga: Ini Tekad Nyi Roro Kidul Usai Panembahan Senopati Pamit Pulang ke Mataram
Kepedihan mendalam tidak ia sembunyikan, namun ia tetap menjaga wibawanya sebagai ratu.
Panembahan Senopati pun tak kalah tersayat. Dalam bait 14, ia mencoba menenangkan Sang Dyah:
“Raka ngimur mrih lipuri yayi...”
"Kanda menghibur dinda, cinta kasihmu telah engkau buktikan dan aku terima sepenuhnya. Namun, aku harus tetap pamit, meski berat berpisah denganmu."
Cinta mereka bukan cinta biasa. Cinta itu tak menuntut kepemilikan, melainkan saling memahami takdir masing-masing.
Panembahan Senopati tahu, meski batinnya terpaut pada sang ratu Laut Selatan, kewajiban sebagai raja harus ia jalankan. Ia meyakinkan, bahwa perpisahan ini bukanlah akhir:
“Aja brangta mirah wong akuning...”
"Jangan bersedih karena rindu, relakan aku kembali ke Mataram. Tak lama lagi aku akan datang kembali ke Pureng Jêladri, menemuimu, emasku."
Kalimat itu menyiratkan janji sakral, bahwa meskipun secara fisik mereka akan berjauhan, ikatan batin dan spiritual akan tetap menyatu.
Ia tak sekadar menjanjikan kunjungan kembali, namun memastikan hubungan batin mereka tetap terjalin di antara dunia nyata dan dunia gaib.
Klimaks emosional muncul pada bait ke-16. Di sana, Sang Ratu Kidul menundukkan kepala di pangkuan Panembahan Senopati, sebagai lambang kepasrahan dan harap yang dalam.
“Saking labêt datan bêtah mami, pisah lan mas ingong...”
"Sungguh aku tak tahan berpisah denganmu, hanya karena engkau adalah raja, maka aku relakan. Jangan terlalu lama, segeralah kembali."
Narasi ini bukan sekadar kisah cinta, melainkan simbol dari perjanjian spiritual abadi antara kekuatan bumi dan lautan.
Kepergian Panembahan Senopati adalah langkah menuju pemenuhan dharma sebagai raja, namun di balik itu terpatri kesepakatan suci bahwa kekuatan gaib Laut Selatan akan selamanya menjadi pelindung bagi Mataram dan keturunannya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana