TRENGGALEKJENGGELEK - Di kedalaman samudera selatan, di istana megah yang tak terlihat oleh mata manusia biasa, terjadi peristiwa yang kelak membentuk poros kekuasaan spiritual Kerajaan Mataram.
Setelah menjalin ikrar gaib dengan Nyi Roro Kidul, tiba waktunya bagi Panembahan Senopati untuk kembali ke dunia kasatmata. Meninggalkan istana gaib Laut Selatan dan memulai perjalanan pulang menuju tanah Jawa.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Serahkan Kesaktian dan Pusaka Ampuh pada Panembahan Senopati, Ini Namanya
Pada puncak perpisahan yang menggetarkan rasa, Panembahan Senopati, sang raja muda, melangkah keluar dari istana gaib.
Nyi Roro Kidul, simbol kecantikan abadi dan kekuasaan laut, menyertainya dengan penuh cinta.
Baca Juga: Setulus Hati, Begini Sumpah Janji Nyi Roro Kidul untuk Keturunan Panembahan Senopati
Mereka berjalan beriringan dan bergandengan tangan, langkah-langkah mereka mengarah ke Srimanganti yakni wilayah batas antara dunia gaib dan dunia manusia
Di sinilah sang raja memulai ucapannya, halus dan penuh penghayatan. Ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas cinta dan kesetiaan sang Ratu.
Baca Juga: Ini Tekad Nyi Roro Kidul Usai Panembahan Senopati Pamit Pulang ke Mataram
Namun, sebelum benar-benar berpisah, Senopati meminta satu tanda kasih terakhir sebagai tumbal cinta yang akan menjadi penawar rindu selama mereka berjauhan.
Tanpa ragu, Ratu Kidul menyambut permintaan itu dengan kelembutan penuh pengabdian. Ia menyodorkan bibir indahnya, menerima belaian lembut dari sang Panembahan.
Baca Juga: Remuk Redam Hati Nyi Roro Kidul saat Panembahan Senapati Pamit Pulang ke Mataram, Dia Bilang Begini
Bibir mereka bertaut, gigi menyentuh, sebuah ciuman yang bukan sekadar hasrat, melainkan ritual pengesahan cinta agung antara penguasa bumi dan penguasa laut.
Kejutan kecil sempat terbit dari Sang Dyah, namun segera ia membalas, menyempurnakan pertemuan batin yang telah lama terjalin.
Dengan ciuman itu, berakhir pula keintiman yang terlahir dari ruang mistis. Perpisahan tak bisa ditunda, dan mereka pun berpisah dalam hening yang penuh makna.
Begitu Panembahan Senopati keluar dari batas istana, segala kemegahan Laut Selatan sirna seketika.
Istana Ratu Kidul lenyap seperti kabut, berganti menjadi hamparan samudera luas yang bergelombang tenang.
Namun, keajaiban masih berlangsung, Sang Panembahan menapaki air laut tanpa tenggelam, seakan berjalan di atas daratan.
Langkahnya tegap, penuh wibawa, meninggalkan jejak keagungan spiritual yang tak terhapus oleh ombak.
Perjalanan pulang ini bukan sekadar kembalinya seorang raja, melainkan penegasan kekuatan metafisik yang melandasi tahta Mataram.
Ia kini tidak hanya membawa restu leluhur, tetapi juga ikatan mistis abadi dengan penguasa Laut Selatan.
Editor : Dharaka R. Perdana