TRENGGALEKNJENGGELEK - Peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan momen sakral yang menandai lahirnya bangsa Indonesia.
Peristiwa ini menjadi puncak dari perjuangan panjang rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan.
Namun, di balik kemerdekaan itu, ternyata ada peran tak terduga dari seorang berkebangsaan Jepang bernama Laksamana Maeda.
Baca Juga: TACB Trenggalek Dorong Partisipasi Warga Desa Selamatkan Cagar Budaya, Bisakah Wujudkan Pokdarla?
Laksamana Maeda adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Hindia Belanda pada saat perang Asia Pasifik.
Meskipun seorang Jepang, justru Laksamana Maeda sangat berperan besar dalam mendukung proses penyusunan teks proklamasi.
Baca Juga: Rempah-rempah Indonesia Tarik Perhatian Ryan Crewe dari Universitas Colorado Denver, Kenapa?
Lantas, siapakah sosok Laksamana Maeda sebenarnya dan mengapa ia begitu berani membantu bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan?
Simak profil lengkapnya di bawah ini:
Baca Juga: Panembahan Senopati Benar-benar Pulang ke Mataram, Keajaiban Tetap Mengiringi Langkahnya
1. Nama Lengkap dan Kelahiran
Laksamana Maeda, atau yang bernama lengkap Tadashi Maeda, lahir di Kagoshima, Jepang pada tanggal 3 Maret 1898.
Ia berasal dari keluarga terpandang yang konon masih memiliki garis keturunan samurai.
Ayahnya juga diketahui menjabat sebagai kepala sekolah di daerah Kajiki, wilayah Kagoshima, yang kala itu dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Jepang.
Latar belakang keluarganya yang kuat dalam nilai disiplin dan pendidikan turut membentuk karakter Maeda sebagai sosok militer yang cerdas dan berpandangan luas.
2. Karir Militer
Karir militer Maeda dimulai sejak ia masih remaja.
Pada saat usianya 18 tahun, Maeda melanjutkan pendidikannya di Akademi Angkatan Laut Jepang dengan mengambil spesialisasi navigasi.
Baca Juga: Prasasti Yupa, Peninggalan Kerajaan Kutai Belum Masuk Memory of The World UNESCO, Kenapa?
Pada tahun 1930, Maeda akhirnya berhasil mendapatkan gelar sebagai letnan pangkat satu di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.
Berkat pangkat yang diraihnya ini, Maeda ditunjuk menjadi wakil dari Angkatan Laut Jepang untuk urusan diplomatik dengan Belanda pada tahun 1940.
Maeda sempat kembali ke Jepang pada 1941 untuk menangani urusan Eropa, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942.
Sekembalinya ke Indonesia, ia ditugaskan mengatur operasi Angkatan Laut Jepang di wilayah Papua.
Baca Juga: Gunung Wilis Dikenal Angker dan Misterius, Konon Tercipta dari Puncak Gunung Mahameru
Tak lama kemudian, Maeda dipindahkan ke Batavia (kini Jakarta) setelah Belanda menyerah.
Di sana, ia menjabat sebagai perantara antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat ke-16 Jepang.
Kepindahan Maeda ke Batavia ini menjadi titik awal perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
3. Peran Laksamana Maeda dalam Proklamasi Kemerdekaan
Laksamana Maeda memiliki peran penting dalam proses proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, meski ia merupakan perwira tinggi Angkatan Laut Jepang.
Pada Oktober 1944, ia membentuk Asrama Indonesia Merdeka untuk mencetak calon-calon pemimpin bangsa setelah Jepang menjanjikan kemerdekaan.
Kedekatannya dengan tokoh-tokoh nasional membuat Maeda bersimpati terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
Salah satu bentuk bantuannya terlihat saat Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh para pemuda pada 16 Agustus 1945 dan tidak hadir di Sidang PPKI.
Achmad Soebardjo lalu meminta bantuan Maeda untuk melacak keberadaan mereka, yang berhasil ditemukan lewat jaringan intelijen Angkatan Laut Jepang (Kaigun).
Maeda kemudian menjadi penjamin agar Soekarno dan Hatta bisa kembali ke Jakarta dengan aman.
Setelah itu, ia mengizinkan rumah dinasnya di Jalan Imam Bonjol No. 1 digunakan sebagai tempat penyusunan teks proklamasi.
Tak hanya itu, Maeda juga menjamin keamanan mereka selama proses perumusan dengan perlindungan dari Kaigun.
Ia bahkan menolak perintah atasannya, Jenderal Nishimura dari Angkatan Darat Jepang (Rikugun), yang menentang keterlibatan Jepang dalam kemerdekaan Indonesia.
4. Kisah Hidup Laksamana Maeda Usai Proklamasi Kemerdekaan
Meskipun jasanya begitu besar bagi bangsa Indonesia, nasib Laksamana Maeda justru berakhir tragis.
Setelah keberaniannya mendukung proses proklamasi, Maeda harus menanggung risiko besar.
Ia ditangkap oleh pasukan Sekutu setelah kedatangan Inggris ke Indonesia pada September 1945.
Bersama stafnya, Shigetada Nishijima, Maeda dijebloskan ke penjara Glodok dan Salemba.
Di sana, ia diinterogasi dan dipaksa mengakui bahwa Republik Indonesia adalah buatan Jepang.
Alasannya, karena pada naskah proklamasi tertera tahun ‘05, yang mana itu mengikuti kalender Jepang.
Setelah ditahan dan dipulangkan ke Jepang, Maeda diseret ke pengadilan militer.
Namun, ia akhirnya dinyatakan tidak bersalah karena dianggap tidak ikut campur langsung dalam penyusunan naskah proklamasi.
Laksamana Maeda pun akhirnya dibebaskan pada tahun 1947.
Namun, demi prinsip dan solidaritasnya terhadap kemerdekaan Indonesia, ia memilih mengundurkan diri dari dunia militer.
Ia hidup sebagai rakyat biasa tanpa menerima tunjangan pensiun sepeser pun.
Editor : Akhmad Nur Khoiri