Siapa yang tidak tahu lagu Indonesia Raya?
Lagu kebangsaan ini pertama kali dikumandangkan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, bertepatan dengan peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda.
Di balik lagu yang sakral ini, terdapat sosok Wage Rudolf Supratman sebagai penciptanya.
Tak hanya dikenal sebagai musisi, Wage juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat nada dan kata.
Ia merupakan jurnalis sekaligus komponis yang peran dan pengorbanannya sering luput dari sorotan.
Berikut adalah sisi lain dari hidup Wage Rudolf Supratman yang jarang diungkap:
1. Sekilas Tentang Wage Rudolf Supratman
Wage Rudolf (WR) Supratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903, di Purworejo, Jawa Tengah.
Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.
Ayahnya, Sersan Jumeno Senen, adalah seorang tentara KNIL sekaligus pendeta.
Sejak tahun 1914, WR Supratman tinggal di Makassar bersama kakaknya, Roekijem.
Kehidupan pendidikannya mulai terbentuk di sana setelah suami Roekijem, Willem van Eldik, membiayai sekolahnya.
Van Eldik juga yang mengenalkan Supratman pada alat musik, termasuk biola.
Bakat musiknya semakin terasah seiring waktu, bersamaan dengan ketertarikannya pada dunia jurnalistik.
2. Dibalik Nama Rudolf
Nama lengkapnya adalah Wage Rudolf Supratman.
Nama "Rudolf" diberikan oleh ayahnya, Djoemeno Senen, yang terinspirasi dari tokoh-tokoh Barat.
Namun, seiring berjalannya waktu, WR Soepratman lebih dikenal dengan nama singkatnya, di mana inisial “WR” diambil dari Wage Rudolf.
3. Penciptaan Indonesia Raya Terinspirasi dari Revolusi Turki
WR Supratman mendapatkan dorongan kuat untuk menciptakan lagu kebangsaan setelah membaca kisah Revolusi Turki di tahun 1920-an.
Semangat nasionalisme yang tumbuh di negara lain itu memotivasinya membuat lagu yang bisa membakar semangat rakyat Indonesia.
4. Mengumandangkan Lagu Indonesia Raya secara Diam-Diam
Lagu Indonesia Raya pertama kali dimainkan secara diam-diam menggunakan biola pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Saat itu lagu dimainkan tanpa lirik agar tidak memancing perhatian Belanda, karena bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan.
5. Aktif sebagai Jurnalis
Selain bermusik, ia juga aktif sebagai jurnalis.
WR Supratman pernah bekerja di beberapa surat kabar seperti Kaoem Moeda dan Sin Po.
Tulisannya sering kali berisi kritik terhadap kolonialisme dan ajakan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya kemerdekaan.
6. Agama WR Supratman
Akibat namanya yang sangat “Barat”, banyak orang mengira bahwa WR Supratman adalah seorang Katolik.
Namun faktanya, sejak lahir hingga wafat, WR Supratman adalah seorang Muslim.
Hal ini juga ditegaskan oleh keluarganya untuk meluruskan informasi yang simpang siur di masyarakat.
Dalam sebuah wawancara, keluarganya menjelaskan bahwa sejak lahir hingga akhir hayatnya, WR Supratman adalah seorang Muslim yang taat.
Tidak ada catatan dalam sejarah keluarga yang menyebutkan bahwa beliau pernah memeluk agama lain
7. Akhir Hayat yang Penuh Tekanan
WR Supratman sempat ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda pada 7 Agustus 1938 di studio Radio NIROM Surabaya.
Penangkapannya terkait lagu Matahari Terbit yang dianggap sebagai bentuk simpati terhadap Jepang.
Ia sempat dipenjara di Kalisosok, Surabaya, sebelum akhirnya dibebaskan karena tidak ditemukan bukti keterlibatan politik.
Namun setelah peristiwa itu, kesehatannya memburuk.
WR Supratman menghembuskan napas terakhir pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka.
Ia wafat dalam usia muda, 35 tahun, dan dimakamkan di TPU Kapasan, Surabaya.
Editor : Zaki Jazai