TRENGGALEKNJENGGELEK - Nama Supriyadi tak pernah lepas dari kisah heroiknya yang melawan Jepang dalam pemberontakan PETA tahun 1945.
Pemuda asal Trenggalek ini menjadi tokoh utama dalam aksi militer yang terjadi beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka.
Setelah pemberontakan itu, Supriyadi menghilang dan tak pernah ditemukan hingga hari ini.
BACA JUGA: Deretan Pahlawan Asal Trenggalek yang Perlu Kamu Tahu Jelang Hari Kemerdekaan RI
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Untuk mengenal lebih jauh sosok Supriyadi, berikut profil singkat Supriyadi sejak masa muda hingga akhir hayatnya yang penuh misteri.
Baca Juga: Gus Ipul Nilai Petisi Penolakan Gelar Pahlawan untuk Soeharto sebagai Bagian dari Proses Demokrasi
Masa Kecil
Supriyadi atau yang bernama asli Priyambodo, lahir di Trenggalek pada 13 April 1923.
Ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang.
Ayahnya, Darmadi, merupakan pegawai Pamong Praja yang juga menjabat sebagai Patih (Fungkaico) di Nganjuk pada masa pendudukan Jepang.
Baca Juga: Cara Menghargai Perjuangan Pahlawan Pendidikan: Dari Ki Hajar Dewantara hingga Guru-Guru Masa Kini
Sejak kecil, Supriyadi sudah kehilangan ibunya, Rahayu, yang meninggal saat ia masih anak-anak.
Ia juga memiliki seorang saudara bernama Wiyono, yang wafat pada tahun 1951.
Melihat Priyambodo yang masih kecil dan tumbuh tanpa asuhan ibu, Darmadi memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang kerabatnya bernama Susilih.
Sejak saat itu, Priyambodo diasuh oleh ayah tiri dari Susilih, yaitu Sosrodiharjo.
Sosrodiharjo merupakan seorang mantri guru yang tinggal dan mengajar di daerah Kertosono.
Baca Juga: Profil Laksamana Maeda, Sosok Perwira Jepang yang Bantu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Bakat istimewa yang dimiliki Priyambodo rupanya menarik perhatian Sosrodiharjo, sang kakek tiri.
Melihat potensi besar bersemayam dalam diri cucunya, Sosrodiharjo kemudian memberikan nama baru kepadanya, yaitu Supriyadi.
Nama tersebut diberikan dengan harapan agar kelak sang cucu tumbuh sebagai sosok pejuang yang mengutamakan kepentingan rakyat, layaknya tokoh-tokoh pahlawan dalam kisah pewayangan.
Baca Juga: Jarang Diungkap, Ini Sisi Lain WR Supratman sang Pencipta Indonesia Raya
Pendidikan
Berasal dari keluarga terpandang, Darmadi, ayah Supriyadi, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anaknya untuk menempuh pendidikan.
Meski pada masa itu akses sekolah bagi masyarakat bumiputera masih sangat terbatas, Darmadi tetap bersikeras menyekolahkan anaknya, bahkan hingga ke sekolah Eropa.
Supriyadi pun menempuh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School), yang setara dengan Sekolah Dasar saat ini.
Setelah lulus dari ELS, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Madiun.
Dari MULO, Supriyadi kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mosvia yang ada di Magelang, hingga tentara Jepang menduduki Indonesia.
Awal Mula Supriyadi Masuk PETA
Setelah menamatkan pendidikan di Mosvia Magelang, Supriyadi sempat ditugaskan sebagai pegawai pemerintah di daerah Grobogan, Jawa Tengah.
Namun masa pengabdiannya di bidang administrasi tidak berlangsung lama.
Hal ini dikarenakan situasi Indonesia pada saat itu tengah berada di bawah pendudukan Jepang membuat banyak perubahan terjadi, termasuk di bidang militer.
Pada akhir tahun 1943, Jepang membentuk organisasi militer semi-formal bernama PETA (Pembela Tanah Air) sebagai bagian dari strategi menghadapi Sekutu.
Melihat kesempatan itu, Supriyadi memutuskan bergabung dan mengikuti pelatihan militer di pusat pendidikan PETA di Bogor.
Selama masa pelatihan, ia dikenal sebagai peserta yang disiplin, cerdas, dan memiliki semangat nasionalisme yang kuat.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Supriyadi diangkat sebagai Shodancho atau komandan peleton, dan kemudian ditempatkan di Blitar.
Dari sinilah perjalanan militer Supriyadi dimulai, yang kelak membawanya memimpin pemberontakan PETA melawan Jepang pada 14 Februari 1945.
Memimpin Pemberontakan PETA
Menjalani tugasnya sebagai Shodancho di Blitar, Supriyadi banyak menyaksikan penderitaan rakyat di bawah kekuasaan Jepang.
Kebijakan kerja paksa (romusha) yang diberlakukan Jepang, serta kekerasan terhadap penduduk sipil menjadi pemicu utama munculnya semangat perlawanan.
Situasi ini membuat Supriyadi dan sejumlah anggota PETA mulai menyusun rencana pemberontakan secara diam-diam.
Tujuan mereka bukan hanya menggulingkan kekuatan militer Jepang di Blitar, tetapi juga untuk menggugah kesadaran nasional dan membuka jalan menuju kemerdekaan.
Rencana pemberontakan ini disusun bersama tokoh-tokoh muda lainnya di tubuh PETA, seperti Soejono dan Soedarmo.
Mereka menjadwalkan pemberontakan secara terkoordinasi, dengan menyerang markas Jepang, merusak jalur komunikasi, dan menguasai persenjataan musuh.
Pemberontakan dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 1945, namun rencana ini bocor lebih awal.
Karena adanya pengkhianatan dari dalam, tentara Jepang mulai mencurigai gerak-gerik pasukan PETA.
Akhirnya, pada 14 Februari 1945, sebelum rencana benar-benar matang, pemberontakan meletus lebih cepat dari yang direncanakan.
Pada malam hari, pasukan PETA menyerbu markas tentara Jepang di Lodoyo dan beberapa titik strategis lainnya di Blitar.
Mereka sempat berhasil melumpuhkan pos penjagaan dan membakar gudang logistik milik Jepang.
Namun karena keterbatasan senjata dan tidak adanya bantuan dari daerah lain, pemberontakan tidak bertahan lama.
Pasukan Jepang segera mengirimkan bala bantuan dari luar kota dan melakukan penumpasan besar-besaran.
Sebagian besar anggota pemberontakan ditangkap di tempat dan dihukum mati setelah diadili oleh pihak militer Jepang.
Sementara itu, Supriyadi, yang menjadi pemimpin utama, tidak ditemukan setelah peristiwa tersebut.
Misteri Hilangnya Supriyadi
Sejak pemberontakan PETA dipadamkan, jejak Supriyadi menghilang dan tidak pernah tercatat secara pasti dalam sejarah.
Ia tidak termasuk dalam daftar prajurit yang ditangkap, diadili, maupun dieksekusi oleh Jepang.
Hal ini memunculkan banyak spekulasi dan misteri tentang nasibnya.
Beberapa sumber menyebut jika Supriyadi berhasil melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat terpencil.
Versi lain mengatakan ia gugur saat mencoba melarikan diri dari kejaran tentara Jepang.
Namun hingga kini, tidak ada bukti yang dapat memastikan kebenaran dari versi-versi tersebut.
Menariknya, setelah Indonesia merdeka, nama Supriyadi sempat tercantum sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam kabinet pertama pada tahun 1945.
Namun ia tak pernah muncul atau menjalankan tugasnya, sehingga posisinya kemudian dinyatakan kosong.
Kondisi ini makin memperkuat misteri keberadaannya di masa-masa awal kemerdekaan.
Editor : Zaki Jazai