TRENGGALEKNJENGGELEK - Masjid Agung Trenggalek sejak awal berdiri menempati sisi barat alun-alun kota.
Letaknya di barat alun-alun bukan kebetulan, melainkan bagian dari tradisi tata ruang Jawa yang sarat dengan makna.
Filosofi ini menjadikan Masjid Agung Trenggalek tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simbol budaya yang masih bertahan hingga kini.
Baca Juga: Sejarah dan Makna Puasa di Luar Ramadan yang Jarang Diketahui
Menurut Handinoto dalam bukunya berjudul Perkembangan Kota di Jawa, alun-alun dipandang sebagai pusat kehidupan masyarakat.
Ruang terbuka itu bukan sekadar lapangan, melainkan lambang keseimbangan antara pemerintahan, rakyat, dan spiritualitas.
Konsep ini dikenal dengan nama catur gatra tunggal, yaitu empat elemen utama yang mengelilingi alun-alun.
Baca Juga: Rebo Wekasan: Sejarah, Makna, dan Amalan dalam Tradisi Islam Nusantara
Sisi selatan ditempati pusat pemerintahan sekaligus rumah tinggal bupati.
Sisi utara, pada masa kolonial, digunakan sebagai kediaman asisten residen Belanda.
Sisi timur difungsikan sebagai pusat perekonomian atau pasar.
Baca Juga: Menak Sopal: Tokoh Legendaris yang Membuka Babak Sejarah Trenggalek
Sedangkan sisi barat diperuntukkan bagi masjid agung sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus moral masyarakat.
Selain itu, penempatan masjid di barat memiliki alasan praktis sekaligus simbolis.
Secara praktis, umat Islam shalat menghadap kiblat yang berada di arah barat.
Hal ini melambangkan keterhubungan antara ibadah kepada Tuhan dan kehidupan sosial bersama masyarakat.
Secara filosofis, barat juga dimaknai sebagai arah matahari terbenam.
Baca Juga: Sungai Ngasinan Trenggalek, Hulu Brantas yang Mengubur Banyak Peninggalan Sejarah
Arah ini sering dipandang sebagai simbol kefanaan hidup dunia.
Masjid di barat alun-alun menjadi pengingat bahwa manusia perlu mencari cahaya spiritual di tengah kehidupan yang fana.
Masjid Agung Trenggalek sendiri dibangun pertama kali pada tahun 1743.
Pembangunannya diprakarsai oleh Bupati Sumotruno, putra Bupati Ponorogo Mertodiningrat.
Imam besar pertamanya adalah Kyai Mbah Nur Kholifah yang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid.
Sejak berdiri, masjid ini menjadi pusat syiar Islam sekaligus titik penting identitas Trenggalek.
Pada awal abad ke-20, masjid ini pernah mengalami renovasi besar.
Bupati Purbonegoro membangun ulang masjid antara tahun 1913 hingga 1916 dengan penambahan saka guru dari kayu jati dan lantai marmer.
Namun musibah banjir bandang tahun 1916 merusak bangunan tersebut sehingga beberapa bagian harus dipindahkan ke daerah lain.
Meski begitu, keberadaan Masjid Agung tetap menjadi ikon kota dan pusat aktivitas masyarakat.
Hingga kini, posisi masjid di barat alun-alun tetap dipertahankan sesuai tradisi catur gatra tunggal.
Masjid Agung Trenggalek tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga ruang pertemuan, pendidikan, dan pusat kebudayaan.
Filosofi tata kota lama yang diwariskan sejak era kerajaan masih terasa relevan meski masyarakat hidup di era modern.
Dengan memahami mengapa Masjid Agung Trenggalek ada di barat alun-alun, kita melihat bahwa bangunan ini bukan sekadar peninggalan arsitektur.
Ia merefleksikan hubungan antara Tuhan, manusia, dan pemerintah yang berpadu dalam satu ruang kota.
Filosofi itu membuat masjid agung menjadi simbol keseimbangan sekaligus identitas kultural yang melekat kuat di Trenggalek.
Editor : Akhmad Nur Khoiri