TRENGGALEKNJENGGELEK - September Hitam menjadi istilah yang lekat dengan ingatan kolektif bangsa Indonesia.
Istilah ini merujuk pada serangkaian tragedi yang terjadi di bulan September dan meninggalkan luka mendalam.
Relevansi masa kini dari peristiwa September Hitam tak bisa diabaikan karena isu pelanggaran HAM masih kerap menghantui bangsa.
Baca Juga: Aparat Serang Unisba dan Unpas dengan Gas Air Mata, Tagar All Eyes on Bandung Viral
Setiap kali bulan September tiba, memori bangsa seolah dipaksa kembali membuka lembaran kelam sejarah.
Tidak sedikit keluarga korban tragedi yang masih mencari keadilan hingga hari ini.
Karena itu, September bukan hanya bulan dalam kalender, melainkan simbol peringatan agar bangsa tak lagi mengulang kesalahan serupa.
Baca Juga: Warna Pink Hijau Jadi Latar 17+8 Tuntutan Rakyat, Apa Sebenarnya Arti dan Makna Dibaliknya?
1. Apa Itu September Hitam?
September Hitam adalah istilah yang merujuk pada rangkaian peristiwa politik dan kemanusiaan di Indonesia yang terjadi pada bulan September.
Istilah ini mulai populer karena sejumlah tragedi besar jatuh pada periode yang sama, sehingga September sering diasosiasikan dengan luka sejarah.
Bagi masyarakat Indonesia, September Hitam bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga peringatan tentang pentingnya keadilan dan hak asasi manusia.
Baca Juga: Indonesia di Persimpangan: Krisis Ekonomi, Krisis Kepercayaan, dan Suara Rakyat
2. Tragedi September Hitam
Sejarah mencatat, ada beberapa tragedi besar yang membuat istilah September Hitam begitu dikenal di Indonesia.
Berikut adalah daftar tragedi September Hitam yang ada di Indonesia
A. Gerakan 30 September (1965)
30 September 1965, menjadi titik mula dari rentetan tragedi September Hitam
Peristiwa yang disebut juga dengan Gerakan 30 September (G30S) ini menelan korban sebanyak tujuh perwira tinggi TNI AD.
Insiden ini kemudian dijadikan dasar untuk menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang.
Baca Juga: Tagar ACAB 1312 Mencuat Usai Insiden Affan, Apa Artinya?
Pasca itu, operasi penumpasan dilakukan secara masif, mengakibatkan ratusan ribu orang yang dituduh simpatisan PKI ditangkap, dieksekusi, atau hilang tanpa proses hukum yang jelas.
Tragedi G30S bukan hanya soal konflik politik, tetapi juga menyisakan trauma kolektif dan perdebatan panjang mengenai kebenaran sejarah yang belum selesai hingga hari ini.
B. Tragedi Tanjung Priok (1984)
Pada 12 September 1984, ribuan massa melakukan aksi protes di Tanjung Priok setelah empat jamaah ditangkap akibat insiden di masjid.
Aksi tersebut berakhir tragis ketika aparat mengepung dan menembaki kerumunan secara membabi buta.
Puluhan hingga ratusan orang menjadi korban jiwa, sementara banyak lainnya hilang tanpa kabar.
Tragedi Tanjung Priok memperlihatkan bagaimana gesekan kecil bisa berujung pada kekerasan besar ketika negara gagal mengelola konflik dengan adil.
C. Tragedi Semanggi I dan II (1998-1999)
Tragedi Semanggi terjadi di era reformasi, ketika mahasiswa turun ke jalan menuntut perubahan politik.
Semanggi I pada 1998 dan Semanggi II pada 1999 sama-sama berakhir dengan penembakan aparat terhadap demonstran.
Puluhan mahasiswa tewas, ratusan lainnya luka-luka, meninggalkan luka baru di tengah semangat demokratisasi yang seharusnya membawa harapan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa meski rezim sudah berganti, praktik kekerasan negara masih membayangi perjalanan demokrasi Indonesia.
D. Pembunuhan Munir (2004)
Pada 7 September 2004, aktivis HAM Munir Said Thalib tewas dalam penerbangan menuju Belanda setelah diracun arsenik.
Munir dikenal vokal membela korban pelanggaran HAM berat, dari tragedi 1965 hingga penghilangan paksa aktivis 1998.
Kematian Munir mengguncang publik nasional maupun internasional karena dianggap sebagai upaya sistematis membungkam suara kritis.
Hingga kini, otak intelektual di balik pembunuhan tersebut belum pernah benar-benar terungkap, sehingga menjadikannya simbol perjuangan panjang menuntut keadilan yang tak kunjung selesai.
3. Relevansi di Masa Kini
Mesk telahi terjadi puluhan tahun lalu, September Hitam masih memiliki relevansi yang kuat di masa kini.
Isu pelanggaran HAM belum sepenuhnya tuntas, bahkan masih muncul dalam dinamika politik sekarang.
Kasus kekerasan aparat saat mengawal demonstrasi atau konflik sosial seringkali kembali memunculkan luka lama.
Di tengah situasi politik yang penuh ketidakpastian, muncul pertanyaan: sejauh mana negara sudah belajar dari tragedi masa lalu?
Mengingat September Hitam bukanlah upaya untuk membuka kembali luka, melainkan ajakan refleksi agar sejarah tidak berulang.
Generasi muda perlu melihat peristiwa ini sebagai bahan pelajaran penting, bahwa demokrasi dan hak asasi manusia harus terus dijaga.
Di tengah kecarut-marutan politik, mengingat sejarah bisa menjadi penopang moral agar bangsa tidak mudah terjebak dalam siklus kekerasan.
September Hitam adalah pengingat bahwa tragedi kemanusiaan bisa terjadi ketika negara abai terhadap rakyatnya.
Relevansi masa kini dari peristiwa itu menunjukkan bahwa ingatan kolektif memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi.
Selama kita tidak melupakan sejarah, ada harapan bahwa tragedi serupa tidak akan kembali mengisi lembaran bangsa.
Editor : Akhmad Nur Khoiri