TRENGGALEK NJENGGELEK – Pernyataan bahwa Indonesia dijajah 350 tahun kembali ramai diperdebatkan di media sosial. Narasi ini kerap dikaitkan dengan pidato Presiden pertama RI, Soekarno, pada 1950. Namun, sebuah video sejarah populer di YouTube mengulas panjang lebar fakta sejarah dari kedatangan bangsa Eropa hingga Jepang, sekaligus mempertanyakan: benarkah Indonesia dijajah selama itu?
Video tersebut membuka pembahasan dari era rempah-rempah yang membuat Nusantara menjadi incaran bangsa Barat. Portugis tercatat sebagai bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku pada 1512. Saat itu, rempah-rempah bernilai setara emas dan menjadi komoditas strategis dunia. Persaingan kemudian melibatkan Spanyol, Inggris, hingga Belanda yang akhirnya mendominasi lewat VOC.
Awal Kolonialisme: Dari Rempah hingga VOC
Kehadiran Belanda di Nusantara dimulai pada 1596 ketika armada Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Namun, kala itu Belanda belum membentuk pemerintahan kolonial. Mereka datang sebagai pedagang yang ingin menguasai jalur rempah-rempah. Untuk menghindari persaingan internal, Belanda mendirikan VOC pada 1602.
VOC kemudian berkembang menjadi kekuatan politik dan militer setelah mendapat hak octrooi dari pemerintah Belanda. Hak ini memungkinkan VOC mencetak uang sendiri, membangun benteng, membentuk tentara, bahkan berperang dan memerintah wilayah jajahan. Sejak saat itulah praktik kolonialisme mulai terasa nyata, terutama setelah VOC menguasai Batavia dan memonopoli perdagangan.
Dalam perjalanannya, VOC dikenal sangat kejam. Di Kepulauan Banda, misalnya, pembantaian terjadi karena penduduk menjual pala kepada pedagang Inggris. Banyak rakyat Nusantara dipaksa menjadi budak di perkebunan rempah. Keserakahan dan manajemen buruk akhirnya membuat VOC bangkrut pada akhir abad ke-18.
Dari Belanda, Inggris, hingga Tanam Paksa
Setelah VOC runtuh, wilayah Nusantara diambil alih langsung oleh pemerintahan Belanda. Pada 1808–1811, Herman Willem Daendels memimpin sebagai gubernur jenderal. Ia dikenal membangun infrastruktur besar, salah satunya Jalan Raya Anyer–Panarukan sepanjang 1.100 kilometer. Namun pembangunan ini dilakukan dengan sistem kerja paksa yang menelan ribuan korban jiwa.
Kekuasaan Belanda sempat terhenti ketika Inggris merebut Jawa pada 1811. Di bawah Thomas Stamford Raffles, kerja paksa dan monopoli dihapus, meski diganti dengan sistem sewa tanah. Inggris hanya berkuasa lima tahun sebelum Nusantara dikembalikan kepada Belanda pada 1816.
Kondisi keuangan Belanda yang buruk mendorong lahirnya sistem tanam paksa atau cultuurstelsel pada 1830-an. Rakyat dipaksa menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, dan nila. Sistem ini menghasilkan keuntungan besar bagi Belanda, tetapi membawa penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan bagi rakyat Nusantara.
Politik Etis hingga Pendudukan Jepang
Kritik keras terhadap tanam paksa, salah satunya lewat novel Max Havelaar karya Multatuli, mendorong lahirnya Politik Etis pada 1901. Meski bertujuan meningkatkan kesejahteraan pribumi lewat irigasi, pendidikan, dan transmigrasi, kebijakan ini justru melahirkan kaum terdidik yang sadar akan ketidakadilan kolonial.
Pendudukan Jepang dimulai pada 1942 setelah Belanda menyerah melalui Perjanjian Kalijati. Awalnya Jepang menjanjikan pembebasan Asia, tetapi kenyataannya menerapkan romusha dan kekerasan yang bahkan lebih brutal. Masa ini berakhir dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Jadi, Benarkah Indonesia Dijajah 350 Tahun?
Perdebatan muncul dari definisi “penjajahan”. Ahli hukum internasional G.J. Resink menyebut Indonesia baru benar-benar dijajah setelah 1904, ketika Aceh mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Sejarawan lain berpendapat kolonialisme efektif terjadi sejak 1800 hingga 1945, sekitar 140-an tahun.
Dengan demikian, klaim Indonesia dijajah 350 tahun lebih merupakan simbol panjangnya penderitaan akibat kolonialisme, bukan hitungan kronologis yang mutlak. Sejarah menunjukkan penjajahan berlangsung bertahap, berbeda di tiap wilayah, dan sangat kompleks.
Editor : Findika Pratama