Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Bandung Lautan Api: Ultimatum Sekutu, Kota Dibakar, hingga Lahirnya Lagu Halo-Halo Bandung

Findika Pratama • Senin, 12 Januari 2026 | 21:45 WIB
Sejarah Bandung Lautan Api: Ultimatum Sekutu, Kota Dibakar, hingga Lahirnya Lagu Halo-Halo Bandung
Sejarah Bandung Lautan Api: Ultimatum Sekutu, Kota Dibakar, hingga Lahirnya Lagu Halo-Halo Bandung

TRENGGALEK NJENGGELEK –Peristiwa Bandung Lautan Api menjadi salah satu episode paling heroik sekaligus tragis dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Aksi pembumihangusan Kota Bandung pada 24 Maret 1946 bukan sekadar strategi militer, melainkan simbol perlawanan rakyat terhadap kembalinya penjajahan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sejarah Bandung Lautan Api berawal dari situasi pasca-Perang Dunia II. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada Agustus 1945, menciptakan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di Indonesia. Momentum inilah yang dimanfaatkan para pendiri bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan itu tidak serta-merta diakui semua pihak.

Tak lama berselang, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison, mendarat di Indonesia. Di Bandung, pasukan Inggris di bawah Brigadir Jenderal McDonald tiba pada Oktober 1945 dengan dalih melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan Belanda. Situasi memanas ketika kedatangan mereka diboncengi NICA, administrasi sipil Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial.

Ultimatum Sekutu dan Perlawanan Rakyat Bandung

Awalnya, rakyat Bandung bersikap netral. Namun provokasi NICA, ditambah pembekalan senjata kepada mantan tawanan Belanda, memicu bentrokan bersenjata dengan pejuang Indonesia. Ketegangan mencapai puncaknya pada malam 24 November 1945, ketika para pejuang menyerang markas Sekutu di Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.

Tiga hari kemudian, Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama. Kota Bandung diminta dibagi dua: Bandung Utara untuk Sekutu dan Bandung Selatan untuk Republik Indonesia, dibatasi rel kereta api. Ultimatum itu diiringi ancaman penangkapan dan penembakan bagi siapa pun yang melanggar. Namun rakyat Bandung menolak tunduk. Mereka curiga pembagian wilayah hanyalah siasat untuk menguasai kota sepenuhnya.

Bentrok senjata pun terus berlangsung berbulan-bulan. Perlawanan tidak hanya datang dari laskar bersenjata, tetapi juga warga sipil. Para pedagang memboikot Sekutu, sementara jalur logistik dari Jakarta kerap diserang pejuang. Salah satu serangan paling terkenal terjadi di Bojong Kokosan, Sukabumi, pada 9 Desember 1945. Dalam peristiwa ini, pasukan Sekutu yang baru saja memenangkan Perang Dunia II dipukul mundur oleh pejuang Indonesia bersenjata sederhana.

Ultimatum Kedua dan Keputusan Bumi Hangus

Karena konflik tak kunjung reda, Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946. Warga dan pasukan Indonesia diminta meninggalkan Bandung Selatan sejauh 10–11 kilometer. Jika tidak dipatuhi hingga 24 Maret 1946 pukul 00.00, Kota Bandung akan dibombardir.

Perdana Menteri Sutan Sjahrir memilih jalur diplomasi dan meminta pasukan RI mundur demi menghindari korban lebih besar. Di sisi lain, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengirim pesan tegas: setiap jengkal tanah harus dipertahankan. Dalam dilema itulah, muncul usulan Mayor Rukana yang kelak mengubah sejarah: Bandung dikosongkan, tetapi terlebih dahulu dibumihanguskan agar tidak bisa dimanfaatkan Sekutu.

Usulan itu diterima. Pada 24 Maret 1946, perintah evakuasi disiarkan. Warga Bandung berbondong-bondong mengungsi ke selatan dan timur kota, membawa barang seadanya. Dengan air mata, banyak dari mereka membakar rumah sendiri sebelum pergi.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Dibongkar! Ada Jaminan Tak Turun, Tunjangan Lengkap hingga BPJS, Ini Skema Resminya

Bandung Menjadi Lautan Api

Malam itu, api mulai berkobar lebih cepat dari rencana. Ledakan terjadi di kawasan alun-alun, disusul pembakaran di berbagai penjuru kota seperti Cicadas, Braga, dan Tegalega. Langit Bandung memerah. Kota yang indah berubah menjadi neraka api—lahirlah peristiwa Bandung Lautan Api.

Di tengah kekacauan, muncul kisah heroik Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan. Keduanya gugur saat menghancurkan gudang mesiu Sekutu, sebuah aksi yang melemahkan kekuatan lawan dan memastikan Bandung tak jatuh ke tangan penjajah.

Dari pengungsian, rakyat meneriakkan yel-yel yang kemudian menjadi lirik lagu legendaris: “Halo-halo Bandung, ibu kota Periangan. Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau. Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali.” Lagu itu menjadi simbol semangat juang yang lahir dari abu pengorbanan.

Peristiwa Bandung Lautan Api bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti bahwa kemerdekaan Indonesia dipertahankan dengan harga yang sangat mahal—hingga membakar kota sendiri demi kehormatan bangsa.

 

Editor : Findika Pratama
#ultimatum sekutu surabaya #halo-halo bandung #bandung lautan api #perjuangan kemerdekaan #sejarah indonesia