Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Masa Bersiap Indonesia: Sisi Gelap Usai Proklamasi yang Jarang Dibahas, Korban Tembus Puluhan Ribu Jiwa

Findika Pratama • Senin, 12 Januari 2026 | 22:15 WIB
Masa Bersiap Indonesia: Sisi Gelap Usai Proklamasi yang Jarang Dibahas, Korban Tembus Puluhan Ribu Jiwa
Masa Bersiap Indonesia: Sisi Gelap Usai Proklamasi yang Jarang Dibahas, Korban Tembus Puluhan Ribu Jiwa

TRENGGALEK NJENGGELEK – Masa Bersiap Indonesia menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah awal kemerdekaan Republik Indonesia. Periode yang berlangsung antara 1945 hingga 1950 ini kerap luput dari pembahasan arus utama, meski menyimpan konflik berdarah, kekerasan massal, serta trauma lintas etnis dan bangsa. Hal tersebut kembali disorot dalam video YouTube kanal Nessie Judge bertajuk Sisi Gelap Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa Masa Bersiap Indonesia terjadi tepat setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Alih-alih menjadi masa selebrasi, periode ini justru dipenuhi kekacauan akibat benturan kepentingan antara rakyat Indonesia yang mengklaim kemerdekaan dan pihak Belanda yang menolak mengakuinya. Bagi Belanda, Indonesia masih dianggap wilayah jajahan yang sah.

Apa Itu Masa Bersiap Indonesia?

Istilah Masa Bersiap sejatinya lebih populer digunakan dalam literatur sejarah Belanda. Kata “bersiap” disebut merujuk pada seruan yang kerap diucapkan sebelum terjadinya serangan atau bentrokan. Namun, asal-usul istilah ini masih menjadi perdebatan hingga kini. Yang pasti, Masa Bersiap Indonesia menggambarkan periode kekerasan terhadap warga Eropa, Indo-Belanda, serta kelompok-kelompok yang dianggap pro-kolonial.

Korban kekerasan tidak hanya berasal dari Belanda. Orang Indo-Eropa, etnis Ambon, Minahasa, Maluku, Tionghoa, hingga tentara Jepang dan Korea turut menjadi sasaran. Konflik ini dipicu oleh akumulasi kemarahan rakyat pribumi akibat penjajahan panjang, ditambah ketidakjelasan status kedaulatan Indonesia di mata internasional.

Belanda Kembali Lewat NICA

Pada Oktober 1945, Belanda menunjuk Hubertus Johannes van Mook sebagai Gubernur Jenderal di Batavia. Belanda kembali ke Indonesia bukan sebagai VOC, melainkan melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Van Mook menawarkan konsep Republik Indonesia Serikat sebagai jalan tengah agar Indonesia tetap berada dalam lingkup pengaruh Belanda.

Namun, tawaran tersebut ditolak. Nasionalisme rakyat Indonesia kala itu masih membara. Penolakan ini memicu aksi-aksi perlawanan oleh kelompok pemuda yang mengatasnamakan diri sebagai pelopor. Sayangnya, perlawanan tersebut kerap berubah menjadi kekerasan brutal terhadap warga sipil.

Kerusuhan Depok Jadi Titik Paling Berdarah

Salah satu peristiwa paling mengerikan dalam Masa Bersiap Indonesia terjadi di Depok pada Oktober 1945. Wilayah ini dikenal sebagai permukiman warga Belanda dan Indo-Eropa. Kerusuhan dimulai dengan pengucilan ekonomi, larangan transaksi, hingga penyerangan langsung.

Pada 11 Oktober 1945, sekitar 4.000 orang dilaporkan menyerbu Depok. Rumah-rumah warga Eropa, Kristen, dan Tionghoa dijarah, penghuninya diusir, bahkan dijadikan tawanan. Para tawanan dikumpulkan di belakang Stasiun Depok, dilucuti, dirampas hartanya, dan sebagian dikirim ke penjara Bogor selama bertahun-tahun.

Selain pembunuhan dan perampokan, laporan kekerasan seksual terhadap perempuan juga mencuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam Masa Bersiap Indonesia telah melampaui batas perjuangan bersenjata.

Balas Dendam dan Eskalasi Konflik

Kekerasan tidak berhenti di satu pihak. Kelompok pro-Belanda, termasuk sebagian etnis Ambon, melakukan aksi balas dendam terhadap pemuda pro-Republik. Bahkan, Perdana Menteri pertama RI, Sutan Sjahrir, nyaris kehilangan nyawa akibat menjadi target amarah kelompok tersebut pada Desember 1945.

Situasi mulai mereda setelah kabinet Sjahrir berkuasa dan negosiasi Indonesia–Belanda dibuka. Namun, konflik kembali meningkat saat Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948) dilancarkan demi merebut sumber daya strategis Indonesia.

Korban Jiwa dan Kontroversi Sejarah

Jumlah korban dalam Masa Bersiap Indonesia diperkirakan mencapai 20.000 jiwa. Angka ini tidak pernah tervalidasi secara pasti karena buruknya administrasi kala itu. Peristiwa ini juga menjadi kontroversi karena tidak pernah diorganisasi oleh pemerintah Republik Indonesia, melainkan dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Meski demikian, Masa Bersiap Indonesia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak diraih secara instan. Perjuangan Indonesia pasca-1945 diwarnai konflik internal, provokasi, dan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka sejarah mendalam hingga kini.

 

Editor : Findika Pratama
#Revolusi Nasional Indonesiaa #Masa Bersiap Indonesia #Agresi Militer Belanda #sejarah kemerdekaan indonesia #Kerusuhan Depok 1945