JAKARTA - Asal Usul Trenggalek tak bisa dilepaskan dari legenda Menak Sopal, tokoh sakti yang diyakini menjadi pelindung masyarakat di sekitar Sungai Bagong.
Kisah ini hidup turun-temurun dan dipercaya sebagai cikal bakal nama Trenggalek, yang berakar dari ungkapan Jawa kuno “teranging penggalih”.
Legenda Asal Usul Trenggalek bermula pada masa Kerajaan Majapahit.
Saat itu, kerajaan tengah dirundung duka karena putri tunggal raja, Raden Ayu Saraswati, menderita penyakit aneh.
Tubuh sang putri mengeluarkan bau amis menyengat yang tak mampu disembuhkan oleh tabib mana pun dari penjuru negeri.
Putri Majapahit dan Padepokan Sinawang
Atas saran sang patih, Raden Ayu Saraswati akhirnya dititipkan di Padepokan Sinawang, sebuah padepokan di wilayah barat kerajaan yang dipimpin Ki Ageng Sinawang. Meski diterima dengan hormat, bau amis yang keluar dari tubuh sang putri membuat para murid padepokan menjulukinya Rara Amis.
Berbagai upaya penyembuhan dilakukan, termasuk ritual berendam di Sungai Bagong.
Namun hingga hari ke-40, penyakit tersebut tak juga sembuh. Justru pada titik keputusasaan itulah, takdir Raden Ayu Saraswati berubah.
Pertemuan dengan Pemuda Misterius
Suatu hari, muncul seorang pemuda tampan bernama Sraba yang berenang mendekati Raden Ayu.
Ia berjanji mampu menghilangkan bau amis dari tubuh sang putri, dengan satu syarat: Raden Ayu bersedia menjadi istrinya.
Setelah air Sungai Bagong bergolak secara gaib dan kembali tenang, bau amis itu lenyap seketika.
Raden Ayu Saraswati pun menikah dengan Sraba.
Tak lama kemudian, terungkap bahwa Sraba sejatinya adalah buaya putih, penguasa Sungai Bagong.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak laki-laki bernama Menak Sopal.
Menak Sopal dan Ilmu Kesaktian
Sejak kecil, Menak Sopal menunjukkan tanda-tanda keistimewaan.
Tubuhnya memancarkan cahaya seperti kunang-kunang pada malam hari, pertanda masa depan yang luar biasa.
Ia tumbuh menjadi pemuda cerdas, menguasai berbagai ilmu padepokan, termasuk ilmu malih rupa warisan ayahnya, yang memungkinkannya berubah menjadi harimau besar.
Dalam kisah Asal Usul Trenggalek, Menak Sopal dikenal sebagai tokoh yang berjiwa sosial tinggi.
Ia tak tega melihat warga sekitar Padepokan Sinawang menderita kekurangan air akibat perebutan sumber belik di Sungai Bagong.
Pembangunan Dam Bagong
Untuk mengatasi krisis air, Menak Sopal mengajak warga membangun bendungan.
Namun setiap malam, bendungan tersebut selalu hancur secara misterius.
Dengan mata batinnya, Menak Sopal mengetahui penyebabnya: buaya putih raksasa yang merusak bendungan dengan sabetan ekornya.
Buaya putih itu meminta tumbal kepala gajah putih agar bersedia menghentikan gangguan.
Demi kepentingan bersama, Menak Sopal meminjam gajah putih milik Mbok Rondo Krandon dan mengorbankannya sesuai permintaan sang penguasa sungai.
Pengorbanan demi Kesejahteraan Warga
Setelah kepala gajah putih diberikan, Dam Bagong berdiri kokoh dan tak lagi roboh.
Air sungai pun mengalir lancar, mengairi sawah dan ladang warga.
Meski sempat menimbulkan amarah Mbok Rondo Krandon, konflik tersebut berakhir damai setelah dijelaskan tujuan mulia Menak Sopal.
Ki Ageng Sinawang menyebut sikap legawa Mbok Rondo sebagai “teranging penggalih”, ungkapan yang bermakna kelapangan hati.
Seiring waktu, sebutan itu diyakini berubah pelafalan menjadi Trenggalek, nama daerah yang dikenal hingga kini.
Legenda Asal Usul Trenggalek bukan sekadar cerita rakyat, melainkan simbol pengorbanan, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama yang diwariskan lintas generasi.
Editor : Eka Putri Wahyuni