JAKARTA - Trenggalek kerap dikenal luas sebagai kabupaten yang lekat dengan mitos santet.
Namun di balik stigma tersebut, Trenggalek menyimpan sejarah panjang, tradisi kuat, serta dinamika sosial yang membentuk identitas daerah dari masa kerajaan kuno hingga era digital saat ini.
Wilayah yang berada di pesisir selatan Jawa Timur ini tumbuh dari lanskap alam yang khas.
Pegunungan di bagian utara dan barat menjadi dinding alami, sementara lembah-lembah subur dengan aliran sungai kecil menopang kehidupan pertanian.
Dari kondisi geografis inilah permukiman awal Trenggalek terbentuk, dihuni oleh para petani yang membuka ladang dan menggantungkan hidup pada kesuburan tanah serta kelimpahan air.
Persimpangan Budaya Sejak Masa Kerajaan
Dalam catatan sejarah dan tradisi lisan, Trenggalek berada di persimpangan jalur penting antara pedalaman Kediri dan pantai selatan.
Jalur ini bukan sekadar rute perdagangan, tetapi juga jalur pertemuan budaya.
Utusan Majapahit, pedagang, hingga para pertapa disebut pernah melintasi wilayah ini.
Interaksi tersebut melahirkan karakter masyarakat yang tumbuh alami, tanpa paksaan, dan berakar kuat pada nilai gotong royong.
Nama-nama desa di Trenggalek hingga kini menyimpan jejak masa lalu.
Sebagian merujuk pada kondisi alam, tokoh tertentu, atau peristiwa simbolik yang diwariskan melalui cerita para tetua. Di sinilah sejarah dan legenda saling berkelindan, membentuk ingatan kolektif masyarakat.
Agama, Alam, dan Tatanan Sosial
Masuknya agama dan ajaran spiritual membawa perubahan besar dalam tatanan sosial Trenggalek.
Surau dan langgar menjadi pusat aktivitas, bukan hanya ibadah, tetapi juga musyawarah desa dan perencanaan musim tanam.
Etos kerja dipadukan dengan doa dan rasa syukur, melahirkan keseimbangan antara rasionalitas dan keyakinan terhadap hal-hal tak kasat mata.
Hubungan masyarakat dengan alam bersifat harmonis. Hutan dijaga sebagai sumber air, gunung diperlakukan sebagai benteng alami, dan sungai dihormati karena perannya menghidupi sawah.
Aturan adat mengatur penebangan pohon, pembukaan ladang, hingga pembagian air irigasi. Gotong royong menjadi fondasi sosial yang menjaga ketahanan desa.
Masa Kolonial dan Kesadaran Baru
Perubahan besar terjadi saat kekuasaan kolonial masuk ke Trenggalek.
Pemetaan wilayah, pembangunan jalan, dan sistem administrasi modern membawa keteraturan, tetapi juga eksploitasi.
Sistem tanam paksa memaksa petani menanam komoditas seperti kopi dan tebu demi kepentingan pasar Eropa.
Di tengah tekanan ekonomi, perlawanan muncul dalam bentuk halus.
Penundaan setoran, lumbung tersembunyi, hingga penguatan solidaritas melalui pengajian dan musyawarah desa.
Dari masa inilah tumbuh kesadaran bahwa tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan identitas dan martabat.
Santet sebagai Cermin Sosial
Mitos santet yang kerap dilekatkan pada Trenggalek sejatinya lebih berfungsi sebagai cermin sosial.
Dalam budaya lokal, santet sering dipahami sebagai simbol ketegangan sosial, kecemburuan, dan konflik yang tak terselesaikan.
Tokoh agama dan adat menempatkan isu ini sebagai bagian folklor, bukan identitas yang dibanggakan.
Seiring berkembangnya pendidikan dan layanan kesehatan modern, masyarakat semakin kritis.
Penyakit dan gangguan yang dulu dianggap gaib kini dapat dijelaskan secara medis.
Santet pun lebih dipahami sebagai cerita peringatan moral agar menjaga harmoni sosial.
Modernisasi dan Upaya Melampaui Stigma
Memasuki era modern, Trenggalek mengalami perubahan signifikan.
Infrastruktur berkembang, akses internet meluas, dan sektor pariwisata mulai tumbuh dari pantai, gua, hingga perbukitan. Generasi muda memanfaatkan teknologi tanpa sepenuhnya melepaskan ikatan pada tradisi.
Pemerintah daerah dan komunitas lokal berupaya membangun narasi baru.
Kesenian, kuliner, ekowisata, dan UMKM dipromosikan sebagai wajah Trenggalek hari ini.
Stigma mistis tidak disangkal, tetapi ditempatkan secara proporsional sebagai bagian dari sejarah budaya.
Trenggalek kini berdiri sebagai wilayah yang belajar dari masa lalu, beradaptasi dengan masa kini, dan menata masa depan. Bukan dengan menyangkal cerita lama, melainkan dengan hidup melampauinya.
Editor : Eka Putri Wahyuni