Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Kabupaten Trenggalek dan Asal-usul Kota Gaplek: Dari Subkultur Mataraman hingga Prasasti Kamulan

Eka Putri Wahyuni • Kamis, 22 Januari 2026 | 21:15 WIB
Sejarah Kabupaten Trenggalek, asal-usul Kota Gaplek, subkultur Mataraman, hingga status otonomi sejak masa kerajaan Jawa.
Sejarah Kabupaten Trenggalek, asal-usul Kota Gaplek, subkultur Mataraman, hingga status otonomi sejak masa kerajaan Jawa.

JAKARTA - Sejarah Kabupaten Trenggalek tidak bisa dilepaskan dari latar budaya Mataraman, legenda lokal, serta peran penting wilayah ini sebagai daerah otonomi sejak masa kerajaan Jawa kuno. 

Kabupaten yang terletak di pesisir selatan Provinsi Jawa Timur ini memiliki identitas kuat yang terbentuk dari sejarah panjang, bahasa halus, dan tradisi masyarakatnya.

Kabupaten Trenggalek berjarak sekitar 180 kilometer dari Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. 

Pusat pemerintahannya berada di Kecamatan Trenggalek. Secara geografis, Trenggalek berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di sebelah utara, Kabupaten Tulungagung di sebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan, serta Kabupaten Pacitan di sebelah barat.

Subkultur Mataraman dan Ciri Masyarakat Trenggalek

Dalam kajian budaya Jawa, Sejarah Kabupaten Trenggalek menempatkan wilayah ini sebagai bagian dari subkultur Mataraman. 

Pengaruh Kerajaan Mataram masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam penggunaan bahasa Jawa yang halus dan berstrata, mirip dengan yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta.

Budaya tutur yang santun, tata krama sosial yang kuat, serta nilai gotong royong menjadi ciri khas masyarakat Trenggalek. Identitas ini diwariskan lintas generasi dan menjadi fondasi sosial hingga masa modern.

Asal-usul Nama Trenggalek Versi Ilmiah

Dalam Sejarah Kabupaten Trenggalek, terdapat berbagai versi mengenai asal-usul nama daerah ini. 

Namun, versi yang dianggap paling ilmiah menyebutkan bahwa nama Trenggalek berasal dari frasa “traning gale” yang diberikan oleh Ki Ageng Sinawang.

Makna frasa tersebut berkaitan dengan “teranging galih” atau hati yang terang dan jernih. 

Konsep ini bersumber dari legenda Mbok Rondo yang rela mengorbankan gajah putih peliharaannya demi kepentingan rakyat. 

Pengorbanan tersebut dianggap sebagai simbol kelapangan hati dan karunia bagi masyarakat Trenggalek.

Dalam narasi simbolik Jawa, Trenggalek dimaknai sebagai daerah yang memperoleh kesejahteraan melalui kejernihan hati. 

Sementara itu, Tulungagung dimaknai sebagai wilayah yang memberikan pertolongan besar. 

Dua daerah ini sering dipandang memiliki keterkaitan makna dalam tradisi lisan Jawa.

Trenggalek sebagai Kota Gaplek

Versi lain Sejarah Kabupaten Trenggalek tercatat dalam manuskrip Keraton Kasunanan Surakarta. 

Dalam naskah tersebut, Trenggalek secara sederhana diartikan sebagai Kota Gaplek, yakni daerah penghasil gaplek atau singkong kering.

Nama Trenggalek disebut telah muncul sejak masa Raja Mataram sebelum Empu Sindok, yakni Rakai Dyah Wawa sekitar abad ke-10. 

Pada masa itu, gaplek merupakan makanan rakyat jelata, namun juga menjadi hidangan khusus di lingkungan keraton.

Gaplek diolah menyerupai nasi, lalu disajikan bersama air gula merah. 

Jenis gaplek yang paling bernilai adalah gaplek berwarna putih bersih, yang berasal dari ketela berkualitas tinggi.

Sentra Produksi Gaplek Unggulan

Wilayah penghasil gaplek terbaik di Trenggalek meliputi Kecamatan Bendungan, Munjungan, Panggul, Pule, dan Watulimo. 

Gaplek dari kawasan lereng Gunung Wilis, khususnya Bendungan, dikenal memiliki kualitas unggul.

Istilah gaplek terang yang merujuk pada warna putih bersih lambat laun berubah pelafalan menjadi Trenggalek. 

Nama ini kemudian dipopulerkan dalam tembang Jawa dan wangsalan, salah satunya dalam ungkapan “pohon garing ayo mampir menyang Trenggalek”, yang merujuk pada gaplek sebagai simbol daerah.

Daerah Otonomi Sejak Zaman Kerajaan

Menariknya, Sejarah Kabupaten Trenggalek mencatat bahwa wilayah ini sejak dahulu dikenal sebagai daerah swatantra atau otonomi. 

Status tersebut diakui oleh Raja Airlangga pada periode 1019–1045 Masehi, kemudian ditegaskan kembali pada masa Kerajaan Kediri dan tercatat dalam Prasasti Kamulan.

Bukti sejarah tersebut ditemukan di wilayah Bendungan, seperti di situs Juru Pala, Candi Brongkah, dan Kedung Lurah. Fakta ini memperkuat posisi Trenggalek sebagai daerah yang memiliki kemandirian pemerintahan sejak masa lampau.

Editor : Eka Putri Wahyuni
#prasasti kamulan #Sejarah Kabupaten Trenggalek #Subkultur Mataraman #Ki Ageng Sinawang #Kota Gaplek