SULAWESI - Kisah tentang Sising Babono, makhluk mitologi yang dipercaya mendiami hutan belantara Sulawesi Tengah, kembali menjadi perbincangan setelah diangkat dalam sebuah video horor di YouTube.
Sosok yang kerap disebut sebagai hantu hutan ini diyakini warga Kepulauan Banggai bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan bagian dari pengalaman nyata yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam video tersebut, seorang narasumber bernama Iga Murti menceritakan pengalaman horor yang dialami keluarganya, mulai dari generasi buyut, ayah, hingga bibinya.
Cerita ini menggambarkan bagaimana Sising Babono dipandang sebagai makhluk yang paling ditakuti di antara entitas gaib lain di wilayah tersebut.
Baca Juga: Setulus Hati, Begini Sumpah Janji Nyi Roro Kidul untuk Keturunan Panembahan Senopati
Makhluk Paling Ditakuti di Hutan Banggai
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Sising Babono adalah penghuni hutan yang sangat agresif apabila wilayahnya diganggu atau manusia bersikap menantang.
Sosok ini bahkan dipercaya mampu menyakiti manusia secara fisik hingga merenggut nyawa.
Kisah pertama berasal dari pengalaman buyut Iga Murti, pasangan Ya Ano dan So Alobo, yang pada masa lalu tinggal di pondok sederhana di tengah hutan Banggai.
Suatu hari, anjing peliharaan mereka menghilang selama beberapa hari.
Emosi dan amarah membuat Ya Ano menantang makhluk gaib penghuni hutan, tanpa menyadari risiko besar di balik tindakannya.
Baca Juga: Mengenal Mendur Bersaudara, Sosok Fotografer Dibalik Peristiwa Proklamasi 1945
Pondok Dikepung Makhluk Gaib
Pada malam hari setelah tantangan itu dilontarkan, pondok mereka dikepung suara-suara aneh menyerupai percakapan manusia dalam bahasa Banggai, namun tak dapat dipahami maknanya.
Meski tidak terlihat secara kasat mata oleh Ya Ano, So Alobo merasakan aura kemarahan yang sangat kuat mengelilingi pondok mereka.
Dengan kepercayaan tradisional yang masih dipegang teguh, So Alobo merapalkan mantra pengusir sambil melindungi anak-anaknya.
Baca Juga: Menguak Asal-Usul Nama Trenggalek, Benarkah dari Kata Terang ing Galih?
Ia bahkan sempat melihat banyak sosok Sising Babono berkerumun di sekitar pondok, sebagian berusaha memanjat tangga. Berkat ritual tersebut, makhluk-makhluk itu akhirnya pergi dan suasana kembali sunyi.
Beberapa hari kemudian, diketahui bahwa anjing peliharaan mereka ternyata tidak dimangsa, melainkan hidup di sebuah gua.
Namun peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam dan menjadi pelajaran agar manusia tidak sembarangan menantang kekuatan tak kasat mata.
Baca Juga: Prasasti Yupa, Peninggalan Kerajaan Kutai Belum Masuk Memory of The World UNESCO, Kenapa?
Penampakan Sising Babono di Tengah Hutan
Pengalaman horor berikutnya dialami ayah Iga Murti, Yarniel, saat remaja pada era 1980-an.
Saat mencari kayu di hutan bersama kakaknya, mereka mendengar panggilan khas “ku-ku” yang biasa digunakan warga Banggai sebagai tanda keberadaan manusia di hutan.
Awalnya, panggilan itu dibalas sebagaimana lazimnya.
Namun suara tersebut semakin mendekat, diiringi gerakan semak-semak yang mencurigakan.
Ketika sosok itu muncul, mereka bukan melihat manusia, melainkan makhluk bertubuh kurus setinggi sekitar dua meter, bertangan panjang hampir menyentuh lutut, dan memiliki mata di bagian ubun-ubun kepala.
Penampakan Sising Babono versi tua itu membuat mereka berlari menyelamatkan diri tanpa menoleh ke belakang.
Sejak saat itu, mereka tak pernah lagi berani masuk ke hutan untuk mencari kayu.
Baca Juga: Kawasan Situs Kamulan Konon Jadi Pengendali Banjir di Timur Trenggalek, Benarkah Demikian?
Teror di Pondok Kebun
Kisah paling mencekam dialami Milly, bibi Iga Murti.
Saat menunggu teman-temannya di pondok kebun, ia mendengar percakapan dalam bahasa Banggai yang terdengar ganjil.
Ia teringat pesan ibunya bahwa suara seperti itu menandakan kehadiran Sising Babono.
Ketakutan, Milly bersembunyi di bawah gulungan tikar pandan.
Ia mendengar dentuman di lantai pondok, suara langkah kaki, hingga pintu yang dihantam keras.
Ketiga makhluk tersebut diyakini masuk ke dalam pondok dan mencarinya.
Dalam kondisi terdesak, Milly memutuskan keluar dari persembunyian sambil melakukan tarian Balatinda, tarian perang suku Banggai yang dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat.
Dengan mata terpejam, ia menari dan berlari hingga berhasil keluar dari hutan.
Kisah-kisah ini menegaskan bahwa bagi masyarakat Banggai, Sising Babono bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk menghormati alam dan segala isinya.
Editor : Eka Putri Wahyuni