TRENGGALEK – Kisah Polosoro dalam Babad Nusantara menjadi salah satu cerita menarik yang menggambarkan kehidupan awal Tanah Jawa, penuh nilai spiritual, kepahlawanan, serta mitologi yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa kuno.
Cerita ini mengisahkan perjalanan seorang ksatria sakti bernama Polosoro yang mengembara tanpa tujuan pasti, mengikuti kehendak hati dan restu para Dewa.
Dalam Babad Nusantara, Polosoro digambarkan sebagai sosok pertapa sekaligus kesatria yang telah berbulan-bulan hidup di hutan.
Ia melupakan makan dan tidur, hanya memakan dedaunan serta berserah diri kepada kekuatan Ilahi.
Dalam perjalanannya, Polosoro ditemani Lurah Semar Wongso Gatra, tokoh pamomong yang setia mendampingi dan kerap memberi wejangan.
Awal Pertemuan Polosoro dengan Putra Raja Manduro
Perjalanan Polosoro berubah ketika ia bertemu Gustowo, Basuketi, dan Basuntoro—putra Raja Kunti Bojo dari Kerajaan Manduro—yang terkapar di hutan akibat kekalahan perang melawan Raja Jin Nusakambangan bernama Joromoyo.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Polosoro berhasil menyembuhkan mereka hanya dengan semburan napas.
Keistimewaan Polosoro membuat ketiga bangsawan Manduro terpesona.
Mereka meyakini Polosoro bukan manusia biasa, melainkan ksatria pilihan Dewa.
Atas permintaan mereka, Polosoro akhirnya bersedia ikut ke Kerajaan Manduro untuk membantu mengusir pasukan jin yang mengepung negeri tersebut.
Kedatangan Polosoro ke Manduro dan Tugas Besar
Sesampainya di Manduro, Polosoro disambut langsung oleh Raja Kunti Bojo.
Sang raja bahkan turun dari singgasananya, terpesona oleh cahaya kewibawaan yang memancar dari tubuh Polosoro.
Dalam pertemuan itu, Polosoro menyatakan kesediaannya membantu Manduro dengan syarat hanya mengandalkan restu Dewa.
Kerajaan Manduro saat itu berada dalam kondisi genting.
Pasukan jin Joromoyo mengepung dari segala arah, membuat rakyat menderita.
Polosoro pun segera maju ke medan laga, didampingi Lurah Semar yang lebih dulu menantang musuh agar keluar menghadapi.
Perang Besar Melawan Raja Jin Joromoyo
Pertempuran dahsyat pun terjadi.
Polosoro dengan mudah menumbangkan Patih Turbeksono, pemimpin pasukan jin.
Hal itu membuat pasukan Manduro bersorak, sementara bala jin mulai gentar.
Raja Joromoyo akhirnya turun langsung ke medan perang untuk menghadapi Polosoro.
Dalam Babad Nusantara, duel Polosoro dan Joromoyo digambarkan sangat sengit.
Berbagai aji-aji sakti dikeluarkan Joromoyo, mulai dari jelmaan ular raksasa, raksasa mengerikan, hingga api yang keluar dari kedua matanya.
Namun, Polosoro selalu mampu mengimbangi dengan kesaktian yang ia miliki, termasuk memanggil Garuda dan hujan penetral api.
Puncaknya, Polosoro melepaskan senjata pusaka bernama Sarutomo.
Panah sakti itu melesat bagai kilat dan memenggal leher Joromoyo, menandai berakhirnya kekuasaan Raja Jin Nusakambangan.
Pasukan jin pun tercerai-berai, meninggalkan Manduro dalam kemenangan.
Manduro Tentram dan Lahirnya Raja Baru
Kemenangan Polosoro membawa kedamaian bagi Kerajaan Manduro.
Raja Kunti Bojo menggelar pesta besar, sekaligus menikahkan putra-putranya, Basuketi dan Basuntoro.
Basuketi kemudian dinobatkan sebagai Raja Manduro dengan gelar Prabu Basuketi, sementara sang raja memilih bertapa.
Meski mendapat kehormatan tinggi, Polosoro menolak menetap di istana.
Ia memilih melanjutkan pengembaraannya, kembali masuk ke hutan mengikuti kehendak hati.
Perjalanan Polosoro pun berlanjut menuju kisah-kisah lain dalam Babad Nusantara, menandai perannya sebagai figur penghubung antar-kerajaan di Tanah Jawa.
Kisah Polosoro dalam Babad Nusantara bukan sekadar legenda, melainkan cermin nilai kepemimpinan, pengabdian, dan kepercayaan spiritual yang mengakar kuat dalam budaya Jawa hingga kini.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina