TRENGGALEK – Asal-usul Bojonegoro tidak lepas dari legenda Prabu Angling Dharma, raja sakti Kerajaan Malwapati yang dikenal arif, bijaksana, dan memiliki kemampuan memahami bahasa seluruh binatang.
Kisah ini menjadi salah satu cerita rakyat paling populer di Jawa Timur, sekaligus dipercaya sebagai cikal bakal penamaan Bojonegoro yang dikenal hingga kini.
Dalam legenda tersebut, Kerajaan Malwapati berdiri di sebelah utara Gunung Kendeng.
Prabu Angling Dharma digambarkan sebagai sosok raja berparas tampan, kaya raya, gemar bertapa, dan sering berkelana untuk menambah ilmu serta pengalaman hidup.
Kesaktiannya membuat ia disegani kawan maupun lawan, terutama karena anugerah langka: mampu memahami bahasa makhluk hidup.
Suatu hari, dalam pengembaraannya, Prabu Angling Dharma bertemu seorang gadis cantik jelita.
Sikap gadis itu yang pemalu dan menjauh justru membuat sang raja semakin penasaran.
Ketika hendak berkenalan, muncul seorang pemuda bernama Batik Madrim yang mengira Prabu Angling Dharma berniat buruk terhadap kakak perempuannya.
Pertarungan Kesaktian di Kerajaan Malwapati
Ketegangan berujung pada tantangan adu kesaktian.
Batik Madrim, yang dikenal sebagai pemuda tangguh, mengerahkan seluruh jurus dan ilmunya.
Namun, semua serangan itu tak mampu melukai Prabu Angling Dharma.
Sang raja dengan mudah mengatasi perlawanan tersebut tanpa berniat mencederai lawannya.
Akhirnya, Batik Madrim mengakui kekalahannya dengan jiwa kesatria.
Pada saat itulah Prabu Angling Dharma membuka jati dirinya sebagai raja Kerajaan Malwapati.
Terkejut dan penuh hormat, Batik Madrim memohon ampun dan menyatakan kesediaannya mengabdi.
Prabu Angling Dharma bukan hanya memaafkan, tetapi juga mengangkat Batik Madrim sebagai Mahapatih Malwapati.
Kisah Cinta Prabu Angling Dharma dan Dewi Setiowati
Gadis yang sejak awal mencuri perhatian sang raja ternyata bernama Dewi Setiowati, kakak Batik Madrim.
Prabu Angling Dharma kemudian meminangnya secara terhormat melalui ayahnya, seorang resi.
Lamaran tersebut diterima, dan pernikahan keduanya berlangsung meriah, menjadi kebahagiaan besar bagi kerajaan dan rakyat Malwapati.
Hari demi hari, cinta Prabu Angling Dharma dan Dewi Setiowati semakin kuat.
Namun, ujian besar datang tanpa diduga.
Suatu malam, Prabu Angling Dharma tertawa mendengar percakapan dua ekor cicak di dalam kamar yang membicarakan kecemburuan terhadap keharmonisan mereka.
Dewi Setiowati yang tidak memahami sebab tawa itu merasa tersinggung.
Ketika Prabu Angling Dharma mengungkap bahwa ia memahami bahasa binatang, Dewi Setiowati meminta agar ilmu tersebut diajarkan kepadanya.
Permintaan itu ditolak dengan berat hati, karena sang raja terikat sumpah kepada gurunya.
Jika ilmu itu diwariskan, maka nyawa pengajarnya sendiri menjadi taruhannya.
Pati Obong dan Lahirnya Nama Bojonegoro
Penolakan tersebut disalahartikan Dewi Setiowati sebagai tanda pudarnya cinta.
Diliputi kekecewaan, ia memilih jalan pati obong, sebuah ritual pengorbanan diri dengan membakar tubuh demi menjaga kesucian dan perasaan setia.
Prabu Angling Dharma telah berusaha keras membujuk, namun keputusan Dewi Setiowati tak tergoyahkan.
Upacara pati obong pun digelar.
Di hadapan brahmana dan rakyat Malwapati, Dewi Setiowati melangkah masuk ke dalam kobaran api.
Raganya hangus terbakar, namun menurut legenda, rohnya diselamatkan oleh Hyang Maha Agung.
Kesuciannya tetap terjaga, dan kelak ia dipercaya akan menitis kembali sebagai pendamping Prabu Angling Dharma.
Sebagai penghormatan, Prabu Angling Dharma menyebut Dewi Setiowati sebagai bojo negara, yang berarti kekasih yang setia sekaligus istri bagi negeri.
Dari sebutan inilah, nama Bojonegoro diyakini berasal—sebuah wilayah yang lahir dari kisah cinta, pengorbanan, dan kesetiaan luar biasa dalam legenda Prabu Angling Dharma.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina