TRENGGALEK – Asal-usul Surabaya tidak bisa dilepaskan dari legenda Sura dan Baya, cerita rakyat yang telah hidup turun-temurun di Jawa Timur.
Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tetapi menjadi fondasi sejarah kultural yang menjelaskan lahirnya nama Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia.
Dalam legenda Asal-usul Surabaya, diceritakan bahwa di wilayah utara Jawa Timur dahulu kala hidup seekor buaya raksasa bernama Baya.
Ia dikenal sebagai penguasa sungai yang ganas dan sangat ditakuti.
Tak ada hewan darat yang berani mendekati sungai karena Baya selalu berhasil menangkap mangsanya.
Rusa menjadi santapan favoritnya, baik yang berada di tepi sungai maupun di hutan belantara yang juga menjadi wilayah perburuannya.
Baya, Penguasa Sungai yang Tak Terkalahkan
Sebagai penguasa sungai, Baya merasa seluruh kawasan daratan dan aliran sungai adalah wilayah kekuasaannya.
Tak pernah ada makhluk lain yang berani menantang dominasi tersebut.
Kedamaian hutan pun terjaga karena rantai perburuan berjalan alami, hingga suatu hari muncul ancaman dari arah laut.
Ancaman itu datang dari Sura, seekor hiu raksasa yang juga dikenal buas.
Dalam cerita Asal-usul Surabaya, Sura digambarkan sebagai penguasa laut dengan nafsu makan tak terbatas.
Seluruh penghuni laut hidup dalam ketakutan karena apa pun bisa menjadi santapannya.
Bertahun-tahun memakan ikan membuat Sura merasa bosan dan penasaran dengan dunia daratan.
Sura Masuk ke Sungai dan Daratan
Rasa ingin tahu membawa Sura menyusuri pantai hingga masuk ke muara sungai.
Di sanalah ia menemukan rusa, hewan darat yang belum pernah ia santap sebelumnya.
Sekali mencoba, Sura langsung terpikat.
Daging rusa dianggap jauh lebih lezat dibandingkan ikan laut.
Sejak saat itu, Sura kerap kembali ke sungai, bahkan masuk ke hutan untuk berburu.
Dalam waktu singkat, ia berhasil memangsa beberapa ekor rusa.
Aktivitas inilah yang akhirnya memicu konflik besar dalam legenda Sura dan Baya, karena wilayah perburuan Sura mulai bersinggungan langsung dengan kekuasaan Baya.
Pertarungan Besar dan Perjanjian Damai
Konflik tak terelakkan ketika Baya memergoki Sura berburu di wilayahnya.
Keduanya terlibat pertarungan sengit yang berlangsung siang dan malam selama berhari-hari.
Pertarungan ini mengganggu keseimbangan hutan dan membuat seluruh penghuni ketakutan.
Karena kelelahan dan tak ada pemenang, Sura dan Baya akhirnya sepakat berdamai.
Mereka membuat perjanjian di muara sungai.
Sungai dan daratan menjadi wilayah Baya, sementara laut sepenuhnya menjadi kekuasaan Sura.
Sebuah batu dijadikan simbol perdamaian dan batas wilayah perburuan.
Pengkhianatan Sura dan Amarah Baya
Dalam Asal-usul Surabaya, kedamaian itu ternyata hanya sementara.
Sura diam-diam melanggar perjanjian.
Ia kembali ke muara, mencuri mangsa dari daratan, lalu membawanya ke laut agar tak terdeteksi Baya.
Taktik licik ini berlangsung lama hingga Baya menyadari jumlah rusa semakin berkurang.
Baya kemudian memasang jebakan dengan seekor rusa pincang di tepi sungai.
Benar saja, Sura datang dan terperangkap.
Pertengkaran kembali terjadi dan berubah menjadi pertarungan terakhir yang jauh lebih brutal dari sebelumnya.
Lahirnya Nama Surabaya
Dalam pertarungan penentuan itu, Baya berhasil menggigit ekor Sura hingga putus.
Sura pun kabur ke laut dalam kondisi terluka parah dan tak pernah kembali ke sungai.
Ekor Baya sendiri menjadi bengkok akibat gigitan balasan Sura.
Pertarungan dahsyat antara Sura dan Baya inilah yang kemudian dipercaya masyarakat sebagai asal-usul nama Surabaya.
Nama tersebut merupakan gabungan dari kata “Sura” yang berarti hiu dan “Baya” yang berarti buaya.
Legenda Asal-usul Surabaya pun terus hidup sebagai simbol keberanian, konflik, dan identitas Kota Pahlawan hingga kini.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina