Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Legenda Telaga Sarangan, Kisah Ki Pasir dan Nyi Pasir yang Berubah Jadi Naga hingga Asal-Usul Telaga di Lereng Gunung Lawu

Ingge Nayla Ayu Karina • Selasa, 27 Januari 2026 | 17:40 WIB
Legenda Telaga Sarangan mengisahkan Ki Pasir dan Nyi Pasir yang berubah jadi naga hingga terciptanya telaga di lereng Gunung Lawu.
Legenda Telaga Sarangan mengisahkan Ki Pasir dan Nyi Pasir yang berubah jadi naga hingga terciptanya telaga di lereng Gunung Lawu.

 

 

TRENGGALEK – Legenda Telaga Sarangan menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal dari lereng Gunung Lawu, Jawa Timur.

Kisah ini tak hanya menyimpan unsur mistis dan tragedi keluarga, tetapi juga dipercaya sebagai asal-usul terbentuknya Telaga Sarangan yang kini menjadi destinasi wisata populer di Kabupaten Magetan.

 

Menurut cerita turun-temurun, legenda Telaga Sarangan bermula dari kehidupan sepasang suami istri bernama Ki Pasir dan Nyi Pasir.

Mereka tinggal sederhana di kaki Gunung Lawu dan menggantungkan hidup dari bertani serta berburu.

Hingga usia senja, pasangan ini belum juga dikaruniai anak, meski doa mereka tak pernah putus.

 

Setiap hari, Ki Pasir dan Nyi Pasir memohon kepada Sang Pencipta agar diberi keturunan.

Doa itu akhirnya terjawab.

Nyi Pasir mengandung dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Lelung.

Kebahagiaan pun menyelimuti keluarga kecil tersebut.

 

Joko Lelung dan Jalan Hidup yang Berbeda

Seiring waktu, Joko Lelung tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tangkas.

Namun, ia dikenal gemar berkelana dan jarang berada di rumah.

Joko Lelung lebih senang mengembara ke tempat-tempat baru dan mendalami ilmu spiritual dengan bertapa serta bermeditasi.

Ia hanya sesekali pulang, lalu kembali pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

 

Kondisi Ki Pasir yang semakin menua membuat tubuhnya melemah.

Ia berharap Joko Lelung mau pulang dan membantu menggarap ladang, tetapi harapan itu tak pernah terwujud.

Ki Pasir kemudian memilih bertapa di sebuah gua dengan tujuan memohon kekuatan dan umur panjang.

Baca Juga: Masa Bersiap Indonesia: Sisi Gelap Usai Proklamasi yang Jarang Dibahas, Korban Tembus Puluhan Ribu Jiwa

Dalam pertapaannya, Ki Pasir mendapat wangsit.

Ia melihat sebuah telur berukuran sangat besar dan diperintahkan untuk memakannya jika ingin menjadi kuat dan hidup abadi.

Namun, setelah lama berlalu, wangsit itu sempat terlupakan seiring kondisi fisiknya yang semakin renta.

 

Telur Raksasa Pembawa Petaka

Suatu hari sepulang dari ladang, Ki Pasir menemukan benda bulat menyerupai telur di bawah pohon tua.

Ukurannya jauh lebih besar dari telur biasa.

Ia pun teringat wangsit yang pernah diterimanya.

Dengan perasaan gembira, telur itu dibawa pulang dan dimasak.

 

Keesokan harinya, Ki Pasir membelah telur tersebut menjadi dua.

Setengah dimakan olehnya, setengah lagi disisakan untuk Nyi Pasir yang sedang mencari kayu bakar di hutan.

Setelah memakan telur itu, Ki Pasir merasakan tubuhnya kembali segar dan kuat seperti puluhan tahun lebih muda.

 

Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi kepanikan.

Tubuh Ki Pasir tiba-tiba terasa panas dan gatal.

Kulitnya mengelupas, mengeluarkan uap panas, dan perlahan berubah menjadi sisik.

Dalam kepanikan, ia berlari menuju mata air terdekat dan menceburkan diri ke dalamnya.

 

Kutukan yang Menenggelamkan Gunung Lawu

Tak lama kemudian, Nyi Pasir pulang dan memakan sisa telur tersebut.

Gejala serupa pun dialaminya.

Ia mencari Ki Pasir hingga akhirnya menemukan seekor naga raksasa mengamuk di mata air.

Meski ketakutan, Nyi Pasir menyadari bahwa makhluk itu adalah jelmaan suaminya.

 

Saat mencoba mendekat, Nyi Pasir terjatuh dan tubuhnya ikut berubah menjadi naga.

Dua naga raksasa itu kemudian diliputi amarah dan berniat menenggelamkan Gunung Lawu dengan menciptakan pusaran air besar.

Tanah di sekitar mata air longsor dan air meluap semakin luas.

 

Joko Lelung yang baru kembali dari pertapaannya menyadari bencana tersebut berasal dari kedua orang tuanya.

Ia segera berdoa dan memohon agar alam meredam amarah mereka.

Perlahan, dua naga itu menjadi tenang dan akhirnya moksa di dalam air.

Baca Juga: Sejarah Kabupaten Trenggalek Lengkap: Dari Zaman Prasejarah, Prasasti Kamulan, hingga Asal Nama Kota Gaplek

Bekas amukan tersebut membentuk sebuah telaga dengan pulau kecil di tengahnya.

Tempat itu kemudian dikenal sebagai Telaga Pasir, yang kini lebih dikenal sebagai Telaga Sarangan, sebagai pengingat kisah dan cinta Ki Pasir serta Nyi Pasir.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#Legenda Telaga Sarangan #Cerita Rakyat Gunug Lawu #Ki Pasir dan Nyi Pasir #Asal usul Telaga Sarangan #mitologi jawa