TRENGGALEK - Legenda Menak Sopal Trenggalek kembali menyedot perhatian publik setelah sebuah video ziarah ke makam Ki Ageng Minak Sopal beredar luas. Dalam tayangan tersebut, tim peziarah menggali cerita langsung dari juru kunci setempat mengenai asal-usul tokoh Menak Sopal yang dipercaya menjadi bagian penting dari sejarah dan babad Trenggalek, Jawa Timur.
Cerita yang disampaikan juru kunci menyebut legenda Menak Sopal Trenggalek berkaitan erat dengan sosok Dewi Roro Amiswati, perempuan yang disebut berasal dari Kerajaan Majapahit. Dewi Roro Amiswati dikisahkan mengidap penyakit kulit yang menimbulkan bau amis menyengat. Pihak kerajaan sudah berupaya mengobati ke berbagai tempat, namun tak kunjung membuahkan hasil.
Karena penyakitnya tak kunjung sembuh, Dewi Roro Amiswati akhirnya dititipkan kepada Ki Ageng Sinawang di Trenggalek. Kisah ini disebut terjadi pada masa akhir kejayaan Majapahit, sekitar abad ke-14, ketika kerajaan mulai melemah. Di Trenggalek, Dewi Roro Amiswati menjalani berbagai ikhtiar, termasuk berendam dan bertapa, demi memulihkan kondisi tubuhnya.
Sayembara Penyembuhan dan Kemunculan Minak Sraba
Dalam penuturan tersebut, Dewi Roro Amiswati kemudian mengadakan sayembara. Barang siapa mampu menyembuhkan penyakitnya, akan diberi balasan besar. Jika penyembuhnya laki-laki, akan dijadikan suami. Jika perempuan, akan diangkat sebagai saudara.
Kabar sayembara itu akhirnya terdengar hingga pedalaman. Muncullah sosok Minak Sraba, tokoh yang disebut memiliki kemampuan “malih rupo” atau berubah wujud menjadi buaya putih. Minak Sraba dipercaya mampu menyembuhkan Dewi Roro Amiswati dengan cara “dijilati” di seluruh tubuhnya, hingga penyakit kulit itu hilang.
Setelah sembuh, Dewi Roro Amiswati kemudian disebut kembali ke Ki Ageng Sinawang. Tak lama berselang, ia hamil tujuh bulan. Pada masa kehamilan, ada sejumlah pantangan yang harus dijaga, termasuk larangan tertentu saat waktu magrib.
Menak Sopal Lahir dan Mulai Menyebarkan Islam
Dalam kisah itu, Minak Sraba disebut sudah memeluk Islam dan memiliki aturan ketat yang harus dipatuhi keluarga. Ketika anaknya lahir, Minak Sraba berpesan agar diberi nama Minak Sopal. Menurut juru kunci, “Menak” adalah sebutan bangsawan, sementara Minak Sopal kelak dikenal sebagai tokoh penting di Trenggalek.
Saat dewasa, Menak Sopal disebut punya gagasan besar untuk masyarakat. Kala itu, penduduk Trenggalek banyak yang masih memeluk Hindu dan Buddha. Menak Sopal menyiarkan agama Islam dengan cara yang lebih diterima masyarakat, yakni melalui pembangunan dan kemakmuran.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun bendungan atau dam, agar pertanian berkembang. Konon, sebelum ada dam, panen di Trenggalek hanya terjadi dalam siklus lama dan hasilnya tidak menentu. Setelah dam dibangun, panen menjadi lebih baik dan masyarakat mulai mengikuti ajaran Islam yang disampaikan Menak Sopal.
Dam Bagong dan Ujian Buaya Putih yang Merusak Bendungan
Namun pembangunan dam tidak berjalan mulus. Dalam penuturan juru kunci, bendungan yang dibangun Menak Sopal sering kali rusak berulang-ulang. Pagi dibangun, sore atau esoknya rusak lagi. Kejadian itu terus terjadi hingga Menak Sopal meminta petunjuk kepada ibunya.
Ibunya lalu mengungkap bahwa yang merusak dam bukan orang lain, melainkan ayah Menak Sopal sendiri, Minak Sraba, yang berubah wujud menjadi buaya putih. Namun perusakan itu bukan untuk mencelakai, melainkan untuk menguji kesabaran dan keteguhan Menak Sopal.
Kemudian Menak Sopal mendapat petunjuk lain: agar dam berdiri kokoh, ia harus mencari kepala gajah putih. Gajah putih itu disebut milik Mbok Rondo Krandon, dari wilayah Ponorogo bagian timur.
Menak Sopal pun meminjam gajah putih dengan alasan untuk membantu pembangunan dam. Namun setelah sampai di Trenggalek, gajah tersebut disembelih. Dagingnya dibagikan untuk para pekerja, sedangkan kepalanya dilarung atau dijadikan tumbal sesuai petunjuk yang diterima.
Ritual Jumat Kliwon Bulan Selo, Masih Diperingati Warga
Setelah peristiwa kepala gajah putih itu, Dam Bagong disebut berdiri kuat hingga sekarang. Bahkan, menurut juru kunci, pembangunan dam terjadi pada Jumat Kliwon di bulan Selo. Karena itulah, hingga kini masih ada tradisi peringatan rutin setiap Jumat Kliwon bulan Selo sebagai wujud syukur.
Tradisi tersebut diyakini sebagai bentuk doa agar dam tetap terjaga, masyarakat terhindar dari banjir, bencana, hama, serta penyakit. Selain menjadi pengingat sejarah, ritual itu juga menjadi penanda bahwa dam masih sangat berguna untuk pengairan sawah-sawah warga.
Makam Ki Ageng Menak Sopal dan Kisah Mistis di Sekitarnya
Dalam video ziarah itu, juru kunci juga menjelaskan bahwa makam Ki Ageng Menak Sopal dipugar beberapa kali, termasuk setelah peristiwa banjir besar. Ia menyebut, bangunan makam pernah mengalami perubahan sejak sekitar tahun 1970-an hingga seterusnya, seiring pergantian pihak yang dipercaya menjaga lokasi.
Tak hanya kisah sejarah, area makam juga dikenal memiliki cerita mistis. Juru kunci menuturkan beberapa kejadian yang dialami pengunjung, mulai dari gangguan akibat membawa pulang kayu bekas bangunan, hingga peristiwa kesurupan saat kegiatan perkemahan pelajar.
Meski demikian, juru kunci menegaskan tujuan utama peziarah tetaplah mendoakan orang yang telah wafat dan mengambil pelajaran dari sejarah. Ia menyebut banyak orang datang untuk tahlil, berdoa, serta berharap mendapatkan keberkahan, namun semuanya kembali pada keyakinan masing-masing.
Legenda Menak Sopal Trenggalek pun terus hidup di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai cerita turun-temurun, tetapi juga melekat pada Dam Bagong yang hingga kini masih menjadi penopang utama pengairan pertanian warga.
Editor : Natasha Eka Safrina