Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal-usul Trenggalek: Kisah Ki Ageng Menak Sopal Bangun Irigasi, Menang Lawan Kerajaan Daha-Blambangan, hingga Tolak Tawaran Mataram

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Februari 2026 | 22:47 WIB

Asal-usul Trenggalek mengisahkan Ki Ageng Menak Sopal membangun irigasi, melawan Daha-Blambangan, dan menolak Mataram.
Asal-usul Trenggalek mengisahkan Ki Ageng Menak Sopal membangun irigasi, melawan Daha-Blambangan, dan menolak Mataram.

TRENGGALEK – Cerita rakyat mengenai asal-usul Trenggalek di Jawa Timur kembali menarik perhatian publik. Kisah ini menuturkan perjalanan panjang perjuangan Ki Ageng Menak Sopal, tokoh yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan berani dalam membangun wilayahnya dari hutan belantara, menghadapi bencana alam, membuka lahan pertanian, hingga menolak dominasi kerajaan besar demi mempertahankan kedaulatan tanah leluhur.

Dikisahkan, pada masa lampau wilayah yang kini bernama Trenggalek masih berupa hutan lebat dengan pepohonan raksasa serta sungai-sungai deras yang mengalir di antara lembah. Tanahnya subur, namun belum banyak manusia yang menetap. Kondisi alam yang liar dan belum tertata membuat daerah ini kerap dipandang sebagai wilayah kosong yang belum berkembang, meski memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kehidupan.

Ki Ageng Menak Sopal kemudian datang dan menetap di wilayah tersebut. Ia melihat peluang besar pada tanah subur itu, lalu memulai langkah penting: membuka lahan pertanian. Tidak hanya mengajak masyarakat bercocok tanam, ia juga mengajarkan cara bertani yang lebih efisien. Dalam upayanya membangun kemakmuran, Ki Ageng Menak Sopal turut membangun sistem irigasi yang menghubungkan aliran sungai menuju sawah-sawah penduduk. Perlahan, kawasan yang semula hutan belantara mulai berubah menjadi hamparan pertanian yang produktif.

Namun, perjuangan membangun wilayah baru tidak berjalan mulus. Dalam cerita tersebut, Ki Ageng Menak Sopal harus menghadapi gangguan dari kelompok perampok yang kerap menjarah hasil panen warga. Para perampok berasal dari daerah lain dan sering membuat masyarakat hidup dalam ketakutan. Menyadari bahwa keamanan adalah kunci kemajuan, Ki Ageng Menak Sopal membentuk kelompok prajurit desa. Ia melatih para pemuda agar mampu menjaga kampung, melawan kejahatan, serta mempertahankan tanah mereka.

Baca Juga: Legenda Menak Sopal: Kisah Dam Bagong Trenggalek, Buaya Putih Perusak Bendungan, hingga Asal-usul Nama “Terang In Galih”

Seiring wilayah semakin ramai, masyarakat mulai memikirkan nama yang tepat untuk daerah mereka. Dalam perdebatan itu, muncul seorang pemuda bernama Jaka Terenggana, orang kepercayaan Ki Ageng Menak Sopal. Ia mengingat cerita leluhur yang menyebut bahwa tanah tersebut dulunya adalah rawa luas. Dari gagasan itulah muncul penyebutan yang kemudian dikenal sebagai Trenggalek, sebuah nama yang diyakini memiliki jejak sejarah, budaya, dan kondisi alam masa lalu.

Konflik besar pun muncul ketika wilayah Trenggalek mendapat ancaman dari luar. Dalam kisah yang beredar, pasukan dari Kerajaan Daha datang dengan formasi rapi dan perlengkapan perang yang lebih kuat. Ki Ageng Menak Sopal tidak gentar. Ia membakar semangat rakyatnya dengan pesan bahwa meskipun mereka tidak memiliki senjata sekuat musuh, mereka memiliki keberanian dan keyakinan karena tanah itu milik mereka.

Pertempuran pun terjadi. Saat pasukan Daha mendekat, Ki Ageng Menak Sopal memberi isyarat kepada para pemanah yang bersembunyi di balik pepohonan. Hujan panah diluncurkan, membuat banyak prajurit musuh roboh. Namun pasukan Daha tetap maju. Ki Ageng Menak Sopal lalu turun langsung sebagai pendekar, memimpin rakyatnya bertarung dengan keberanian tinggi.

Baca Juga: Legenda Menak Sopal Trenggalek Terkuak dari Makamnya: Kisah Dewi Roro Amiswati, Buaya Putih, Dam Bagong, hingga Ritual Jumat Kliwon yang Masih Diperin

Menyadari jumlah musuh lebih besar, Ki Ageng Menak Sopal menyusun strategi cerdik. Pasukan Trenggalek berpura-pura mundur, menarik musuh masuk ke wilayah hutan lebat, jalan setapak curam, sungai berarus deras, serta medan yang licin dan sulit. Ketika pasukan Daha sudah cukup jauh dan mulai terpecah, Ki Ageng Menak Sopal memberi sinyal. Pasukan Trenggalek yang bersembunyi kemudian menyerang balik dengan strategi gerilya. Musuh panik, formasi kacau, hingga akhirnya memutuskan mundur.

Kemenangan tersebut membuat Trenggalek semakin kuat. Ki Ageng Menak Sopal kemudian fokus menyatukan desa-desa yang sebelumnya sering berselisih karena batas tanah dan sumber air. Ia percaya bahwa tanpa persatuan, wilayah akan mudah runtuh meski menang perang. Setelah desa-desa bersatu, ia memperkuat pertahanan dengan membangun benteng dan pos penjagaan di titik strategis.

Ancaman berikutnya datang dari timur, yaitu Kerajaan Blambangan. Mendengar Trenggalek makin makmur, Blambangan mengirim mata-mata. Namun Ki Ageng Menak Sopal justru menyebarkan informasi palsu agar musuh mengira Trenggalek lemah. Ketika pasukan Blambangan datang, mereka justru masuk perangkap yang telah disiapkan: lubang-lubang tersamar, batu-batu besar di tebing, dan serangan mendadak dari balik hutan. Pasukan Blambangan akhirnya dipukul mundur.

Baca Juga: Sejarah Menak Sopal Trenggalek: Keturunan Majapahit, Kisah Buaya Putih Sungai Bagong, hingga Legenda Bendungan Bagong yang Tak Pernah Roboh Lagi

Puncak cerita terjadi saat Kerajaan Mataram mengirim utusan, menawarkan Trenggalek menjadi bagian wilayahnya. Tawaran itu disertai janji perlindungan dan kekuatan militer. Namun Ki Ageng Menak Sopal dengan tegas menolak. Ia menegaskan bahwa Trenggalek ingin tetap merdeka, memilih hubungan baik sebagai mitra dagang, bukan wilayah bawahan.

Setelah ketegangan panjang, Sultan Mataram akhirnya menghormati keputusan tersebut. Trenggalek pun berkembang menjadi wilayah yang mandiri dan makmur, meninggalkan pesan sejarah tentang keberanian, strategi, serta tekad menjaga tanah leluhur.

Editor : Natasha Eka Safrina
#sejarah trenggalek #Ki Ageng Menak Sopal #Cerita Rakyat Trenggalek