Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Kabupaten Trenggalek Terungkap: Jejak Manusia Purba, Prasasti Kuno, hingga Lahir Kembali Usai Dihapus Belanda

Dyah Wulandari • Kamis, 5 Februari 2026 | 18:50 WIB

Sejarah Kabupaten Trenggalek terungkap dari jejak manusia purba, prasasti kuno, hingga dinamika wilayah sejak era kolonial Belanda.
Sejarah Kabupaten Trenggalek terungkap dari jejak manusia purba, prasasti kuno, hingga dinamika wilayah sejak era kolonial Belanda.

JAKARTA – Sejarah Kabupaten Trenggalek ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini dibayangkan. Wilayah di pesisir selatan Jawa Timur ini telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam, bahkan sejak masa prasejarah. Fakta tersebut terungkap dari berbagai temuan arkeologis yang tersebar di sejumlah titik wilayah Trenggalek.

Jejak awal kehidupan manusia di Trenggalek dibuktikan dengan ditemukannya artefak zaman batu besar. Di antaranya menhir, batu saji, batu dakon, batu lumpang, hingga berbagai peralatan batu lainnya. Artefak tersebut tidak ditemukan di satu lokasi saja, melainkan tersebar di beberapa kawasan terpisah, menandakan adanya aktivitas manusia yang cukup luas pada masa itu.

Jejak Manusia Purba dari Pacitan ke Wajak

Berdasarkan kajian sejarah, persebaran nenek moyang manusia purba di wilayah ini diduga mengikuti jalur dari Pacitan menuju Wajak, Tulungagung. Jalur tersebut terbagi dalam beberapa rute penting. Pertama, melalui Panggul, Dongko, Pule, Karangan, lalu menyusuri Sungai Ngasinan hingga mencapai Wajak. Jalur kedua melalui Ngerdani, Kampak, Gandusari, dan berakhir di Wajak. Sementara jalur lainnya menyusuri pantai selatan melalui Panggul, Munjungan, Prigi, hingga akhirnya menuju Wajak.

Baca Juga: Golden State Warriors Trade Terbaru: Kuminga & Buddy Hield Dilepas, Chris Porzingis Resmi Bergabung!

Ahli paleoantropologi HR van Koenigswald menyebut manusia Wajakensis hidup pada masa Pleistosen atas. Sementara itu, peninggalan manusia purba di kawasan Pacitan diperkirakan berusia antara 8.000 hingga 23.000 tahun yang lalu. Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa wilayah Kabupaten Trenggalek sudah dihuni manusia pada masa tersebut, meskipun belum bisa ditetapkan sebagai wilayah administratif seperti sekarang.

Prasasti Kuno Jadi Titik Awal Sejarah Tertulis

Meski banyak ditemukan peninggalan prasejarah, penentuan kapan Kabupaten Trenggalek terbentuk secara resmi baru dapat dipastikan setelah ditemukannya prasasti. Salah satu yang penting adalah Prasasti Kamulan atau Kamsaka yang bertahun 929 Masehi. Dari prasasti ini diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu telah memiliki daerah-daerah dengan hak otonomi atau swatantra.

Baca Juga: Kasepuhan Ciptagelar: Saat Padi Dianggap Nyawa, Perempuan Jadi Penjaga Kehidupan, dan Tradisi Bertahan 700 Tahun

Salah satu wilayah yang disebut adalah Perdikan Kampak, yang mencakup Panggul, Munjungan, dan Prigi. Selain itu, disebut pula daerah Dawuan yang hingga kini masih termasuk wilayah Kabupaten Trenggalek. Fakta ini menunjukkan bahwa Trenggalek telah memiliki struktur wilayah dan pemerintahan sejak masa kerajaan Hindu-Buddha.

Prasasti lain yang menjadi rujukan penting adalah Prasasti Kamulan yang dibuat pada masa Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri. Prasasti tersebut memuat hari, tanggal, bulan, dan tahun secara jelas. Berdasarkan data itulah, panitia penggali sejarah menetapkan tanggal dalam prasasti tersebut sebagai Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.

Dinamika Wilayah di Era Kolonial

Seperti daerah lain di Nusantara, Kabupaten Trenggalek juga mengalami dinamika wilayah akibat perubahan kekuasaan. Perjanjian Giyanti tahun 1755 membelah Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dampaknya, wilayah Trenggalek juga terbelah.

Baca Juga: Kampung Adat Ciptarasa Sukabumi Viral, Punya Ratusan Leuit di Puncak Gunung Halimun: Homestay Rp50 Ribu, Makan Tak Boleh Beli!

Wilayah Trenggalek tanpa Panggul dan Munjungan berada di bawah kekuasaan Bupati Ponorogo yang bernaung pada Kasunanan Surakarta. Sementara Panggul dan Munjungan masuk wilayah Pacitan di bawah Kesultanan Yogyakarta. Pada masa pendudukan Inggris tahun 1812–1816, wilayah Pacitan termasuk Panggul dan Munjungan berada di bawah kekuasaan Inggris, sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada Belanda.

Pasca Perang Diponegoro tahun 1830, wilayah Trenggalek kembali berada di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda dan mulai dibentuk sebagai wilayah administrasi kabupaten secara utuh. Namun, pada tahun 1923, Kabupaten Trenggalek sempat dihapus dari administrasi Hindia Belanda. Alasan penghapusan ini tidak tercatat secara pasti, namun diduga karena pertimbangan ekonomi yang dinilai tidak menguntungkan bagi pemerintah kolonial.

Bangkit Kembali Pasca Kemerdekaan

Wilayah Trenggalek kemudian dipecah dan digabungkan ke daerah lain hingga pertengahan tahun 1950. Titik balik terjadi dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 yang mengembalikan Trenggalek sebagai kabupaten dalam tata pemerintahan Republik Indonesia.

Baca Juga: Presiden Prabowo Buka Sikap Soal BOP PBB, Diskusi Terbuka Ungkap Risiko Besar hingga Opsi Indonesia Keluar demi Palestina Merdeka

Dalam sejarah pemerintahannya, Trenggalek juga dikenal memiliki sosok bupati yang disegani, yakni Mangunkusumo II atau Kanjeng Jimat. Sosok ini dikenal arif dan bijaksana, dan hingga kini makamnya berada di Desa Nglutan Kulon, Kecamatan Pogalan. Untuk mengenang jasanya, nama Kanjeng Jimat diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kabupaten Trenggalek.

Editor : Dyah Wulandari
#Trenggalek Tempo Dulu #Sejarah Kabupaten Trenggalek #hari jadi kabupaten trenggalek #manusia purba