JAKARTA – Sejarah Kabupaten Trenggalek menyimpan perjalanan panjang peradaban manusia yang dimulai sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Wilayah yang berada di pesisir selatan Jawa Timur ini telah menjadi tempat hunian manusia sejak zaman prasejarah, dibuktikan melalui berbagai temuan arkeologis yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Bukti awal kehidupan manusia purba di Trenggalek ditemukan di kawasan Watulimo dan Dongko. Di lokasi ini, para arkeolog menemukan alat-alat batu seperti kapak genggam dan serpih yang digunakan untuk berburu dan mengolah makanan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah Trenggalek hidup secara nomaden dengan pola berburu dan meramu, memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.
Kehidupan manusia purba umumnya berkembang di sekitar sungai dan lembah yang subur. Kondisi geografis Trenggalek yang terdiri dari dataran rendah, perbukitan, dan pegunungan menjadikannya wilayah strategis untuk bertahan hidup. Seiring waktu, masyarakat prasejarah mulai mengenal bercocok tanam sederhana, yang menjadi fondasi lahirnya struktur sosial dan budaya yang lebih maju.
Masa Megalitikum dan Sistem Kepercayaan Awal
Memasuki era megalitikum, perkembangan peradaban di Trenggalek semakin jelas. Di daerah Kampak dan Munjungan ditemukan berbagai peninggalan batu besar seperti menhir, dolmen, meja batu, tugu batu, dan batu kubur. Peninggalan ini menjadi bukti bahwa masyarakat saat itu telah menetap dan memiliki sistem kepercayaan yang terstruktur.
Situs-situs megalitik tersebut diduga digunakan sebagai tempat pemujaan leluhur dan upacara ritual. Selain itu, masyarakat mulai mengenal pertanian dan beternak secara sederhana. Struktur sosial pun terbentuk, dengan tokoh-tokoh adat atau pemimpin ritual yang memiliki peran penting dalam kehidupan komunitas.
Baca Juga: Golden State Warriors Trade Terbaru: Kuminga & Buddy Hield Dilepas, Chris Porzingis Resmi Bergabung!
Pengaruh Hindu-Buddha hingga Majapahit
Pada masa berkembangnya kerajaan-kerajaan awal di Jawa seperti Kediri, wilayah Trenggalek mulai mendapat pengaruh kuat budaya Hindu-Buddha. Jejaknya dapat dilihat dari temuan arca dan relief yang menggambarkan dewa-dewi Hindu serta kisah Ramayana dan Mahabharata. Pengaruh ini membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan, seni, dan kehidupan sosial masyarakat.
Puncaknya terjadi pada abad ke-13 hingga ke-15, saat Trenggalek menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sebagai daerah strategis di pesisir selatan, Trenggalek berperan sebagai wilayah penyangga dan pemasok sumber daya alam, terutama hasil pertanian dan kayu. Sistem pemerintahan lokal mulai tertata dengan dipimpin pejabat setingkat adipati.
Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong
Dalam sejarah Kabupaten Trenggalek, legenda Menak Sopal menempati posisi penting. Tokoh ini dipercaya sebagai pembuka wilayah Trenggalek yang awalnya berupa hutan lebat. Menak Sopal dikenal karena keberhasilannya membangun Bendungan Bagong di aliran Sungai Kalingasinan.
Bendungan ini berfungsi mengendalikan banjir sekaligus mengairi lahan pertanian. Dalam cerita rakyat, pembangunan Bendungan Bagong melibatkan unsur spiritual dan kekuatan gaib, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Hingga kini, Bendungan Bagong menjadi simbol awal kemajuan peradaban Trenggalek.
Masa Islam, Kolonial, hingga Kemerdekaan
Pada akhir abad ke-16, Trenggalek berdiri sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Mataram Islam. Islam berkembang pesat melalui peran ulama dan pesantren, membentuk identitas religius masyarakat tanpa menghilangkan tradisi lokal.
Memasuki masa kolonial, Trenggalek berada di bawah kekuasaan VOC dan kemudian Hindia Belanda. Wilayah ini dieksploitasi melalui sistem monopoli dan tanam paksa. Meski demikian, perlawanan rakyat tetap muncul, dipimpin tokoh adat dan ulama setempat.
Pendudukan Jepang pada 1942–1945 membawa penderitaan melalui kerja paksa romusha, namun juga menumbuhkan semangat nasionalisme. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, masyarakat Trenggalek aktif mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya pada 1950, Trenggalek resmi ditetapkan sebagai kabupaten dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia.
Trenggalek Modern dan Pelestarian Budaya
Kini, Trenggalek berkembang sebagai kabupaten dengan potensi besar di sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan budaya. Pantai Prigi, Pantai Pelang, upacara Larung Sembonyo, serta kesenian Turonggo Yakso menjadi identitas daerah yang terus dilestarikan.
Sejarah Kabupaten Trenggalek bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi fondasi kuat yang membentuk jati diri masyarakatnya hingga hari ini.
Editor : Dyah Wulandari