Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Candi Brongkah Trenggalek, Situs Misterius di Pekarangan Warga yang Diduga Petirtaan Kuno Peninggalan Hindu

Dyah Wulandari • Kamis, 5 Februari 2026 | 19:10 WIB

Candi Borongkah Trenggalek, situs misterius di pekarangan warga yang diduga petirtaan kuno peninggalan Hindu di kaki Gunung Raja Besi.
Candi Borongkah Trenggalek, situs misterius di pekarangan warga yang diduga petirtaan kuno peninggalan Hindu di kaki Gunung Raja Besi.

TRENGGALEK – Di balik permukiman warga yang tampak biasa, tersimpan sebuah situs bersejarah yang hingga kini masih menyimpan banyak tanda tanya. Candi Brongkah Trenggalek, atau yang oleh warga setempat juga disebut Candi Pramuka, merupakan reruntuhan bangunan kuno yang terletak tidak jauh dari jalur utama Trenggalek–Tulungagung.

Keberadaan Candi Brongkah Trenggalek terbilang unik. Lokasinya berada di belakang pekarangan rumah warga dan tidak tampak seperti candi pada umumnya. Bangunan ini hanya berupa susunan bata kuno yang terkubur sekitar 3,5 meter di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat situs ini luput dari perhatian publik selama bertahun-tahun.

Ditemukan Tak Sengaja Saat Penggalian Sumur

Menurut penuturan warga sekitar, Candi Brongkah Trenggalek pertama kali ditemukan pada tahun 1994. Saat itu, warga yang sedang menggali sumur menemukan susunan bata kuno yang tidak biasa. Temuan tersebut kemudian diketahui sebagai bagian dari bangunan cagar budaya.

Baca Juga: Progres Kelok 18 JJLS DIY Capai 80 Persen, Jalur Ikonik Gunungkidul–Bantul Ditarget Rampung Juni 2026

Meski sudah ditemukan lebih dari dua dekade lalu, situs ini belum banyak dikaji secara mendalam. Minimnya perawatan dan publikasi membuat kisah Candi Brongkah Trenggalek masih samar, layaknya banyak situs kuno lain di daerah yang kurang tersentuh perhatian.

Berada di Kaki Gunung Raja Besi

Candi Brongkah Trenggalek berada di kaki Gunung Raja Besi, kawasan yang secara geografis memiliki karakter penting dalam peradaban masa lampau. Sekitar 10 meter dari lokasi candi, terdapat aliran sungai yang hingga kini masih aktif mengalir.

Baca Juga: Jalan Kelok 18 JJLS Yogyakarta Makin Nyata: Progres Terbaru Jalur Ikonik Bantul–Gunungkidul dengan Panorama Samudra Hindia

Kedekatan antara bangunan kuno, sumber air, dan wilayah subur ini dinilai bukan kebetulan. Dalam kajian arkeologi, air merupakan elemen vital yang kerap menjadi pusat aktivitas manusia sejak zaman kuno. Hal ini memperkuat dugaan bahwa lokasi Candi Borongkah Trenggalek memiliki peran penting di masa lalu.

Dugaan Sebagai Petirtaan Kuno

Beberapa tahun lalu, Balai Arkeologi Yogyakarta sempat melakukan penelitian di lokasi ini. Berdasarkan hasil penggalian dan analisis awal, situs Candi Brongkah Trenggalek diduga merupakan bekas petirtaan atau tempat pemandian suci.

Dugaan tersebut diperkuat oleh temuan endapan pasir halus di bagian dalam bangunan. Endapan ini menjadi indikasi bahwa struktur tersebut pernah terendam air dalam jangka waktu lama. Selain itu, kondisi batu bata di bagian dalam terlihat lebih rapuh dibanding bagian luar, sebuah ciri yang lazim ditemukan pada bangunan yang lama terpapar air.

Baca Juga: Kampung Adat Cipta Gelar, Warisan Prabu Siliwangi yang Bertahan Ratusan Tahun: Harmoni Islam, Alam, dan Tradisi Leluhur

Rangkaian Peradaban Kuno Trenggalek

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa Candi Brongkah Trenggalek bukan berdiri sendiri. Di bagian utara desa, terdapat aliran Sungai Ngasinan yang menjadi sumber mata air utama. Aliran ini mengalir dari kawasan Kalinggasinan menuju ke bawah, melewati lokasi candi hingga ke permukiman warga Desa Kamulan.

Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, warga Kamulan pada masa lampau diduga melakukan prosesi penyucian diri di petirtaan sebelum melakukan persembahyangan di Candi Borongkah. Pola ini sejalan dengan praktik keagamaan Hindu di Nusantara.

Baca Juga: Kasepuhan Ciptagelar: Saat Padi Dianggap Nyawa, Perempuan Jadi Penjaga Kehidupan, dan Tradisi Bertahan 700 Tahun

Alasan Langkanya Candi di Trenggalek

Menariknya, Candi Brongkah Trenggalek disebut sebagai satu-satunya candi di wilayah Trenggalek. Hal ini berkaitan dengan kondisi tanah setempat. Dalam kitab Manasara, salah satu kitab arsitektur kuno Hindu, dijelaskan bahwa pendirian bangunan suci harus memperhatikan jenis tanah.

Tanah yang mengandung banyak pasir dan bersifat gembur dinilai tidak ideal untuk pendirian candi karena air mudah meresap. Kondisi tanah di wilayah Trenggalek hingga Pacitan sebagian besar tidak memenuhi kriteria tersebut. Itulah sebabnya hampir tidak ditemukan bangunan candi di kawasan ini.

Baca Juga: Filosofi Kasepuhan Gelar Alam: Perempuan, Padi, dan Alam Jadi Satu Sistem Ketahanan Pangan yang Bikin Dunia Modern Tercengang

Namun, wilayah paling timur Trenggalek tempat Candi Brongkah berada memiliki karakter tanah yang berbeda. Ditambah dengan keberadaan sumber air, lokasi ini dinilai memenuhi syarat sebagai tempat pendirian bangunan suci.

Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga

Meski hingga kini masih menyimpan misteri, Candi Brongkah Trenggalek menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah masuk dalam jaringan peradaban Hindu di Nusantara. Sayangnya, kondisi situs yang minim perawatan membuat kekayaan sejarah ini terancam terlupakan.

Baca Juga: Kampung Bulak PP Ngawi, Kampung Kerbau di Tengah Hutan Jati yang Masih Bertahan di Era Modern

Candi Borongkah Trenggalek bukan sekadar tumpukan bata tua, melainkan jejak penting sejarah lokal yang layak diteliti, dijaga, dan dikenalkan kepada generasi mendatang.

Editor : Dyah Wulandari
#sejarah trenggalek #Candi Brongkah #Petirtaan Kuno #candi hindu #cagar budaya jawa timur