TRENGGALEK – Di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Dusun Tonjong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah panjang industri kopi di Nusantara. Pabrik Kopi Vanili Trenggalek disebut sebagai satu-satunya pabrik kopi peninggalan Belanda di Trenggalek yang hingga kini masih berfungsi.
Keberadaan Pabrik Kopi Vanili Trenggalek tidak hanya bernilai historis, tetapi juga menyimpan keunikan teknologi yang jauh melampaui zamannya. Berdasarkan penuturan warga setempat, pabrik ini sudah berdiri sejak tahun 1929, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pabrik tersebut didirikan oleh warga Belanda bernama Mister Concealer dan dikelola secara modern pada masanya.
Pabrik Kopi Terintegrasi Era Kolonial
Sejak awal berdiri, Pabrik Kopi Vanili Trenggalek telah menerapkan sistem produksi terintegrasi. Seluruh proses pengolahan kopi, mulai dari sortir biji hingga pengemasan, dilakukan dalam satu kawasan pabrik. Sistem ini tergolong maju pada era penjajahan Belanda.
Yang membuat pabrik ini semakin istimewa adalah penggunaan tenaga air sebagai sumber energi utama. Hingga kini, mesin-mesin pengolah kopi di pabrik tersebut digerakkan oleh kincir air, bukan listrik atau bahan bakar fosil. Aliran air dari kawasan lereng Gunung Wilis dimanfaatkan untuk memutar mesin, menjadikan pabrik ini ramah lingkungan sejak hampir satu abad lalu.
Struktur bangunan pabrik juga dinilai sangat kokoh. Meski telah berusia hampir 100 tahun, bangunan bata khas Belanda ini masih berdiri tegak dan tetap difungsikan untuk produksi kopi. Hal ini menunjukkan kualitas konstruksi bangunan kolonial yang dirancang untuk jangka panjang.
Pernah Berjaya di Atas Lahan 300 Hektare
Pada masa kejayaannya, Pabrik Kopi Vanili Trenggalek berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 300 hektare. Kawasan tersebut dikelilingi kebun kopi yang luas dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Produksi kopi di pabrik ini pernah mencapai sekitar lima ton kopi olahan per hari. Hampir seluruh warga di sekitar lereng Gunung Wilis kala itu menggantungkan hidupnya dari pabrik kopi peninggalan Belanda ini. Mulai dari pekerja kebun, pengolah kopi, hingga tenaga pendukung lainnya.
Keberadaan pabrik ini menjadi bukti bahwa Trenggalek pernah menjadi salah satu daerah penghasil kopi penting di Jawa Timur pada masa kolonial.
Nyaris Dimusnahkan Jepang, Tapi Bertahan
Masa kelam Pabrik Kopi Vanili Trenggalek terjadi saat pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Kala itu, Jepang berniat menghancurkan pabrik peninggalan Belanda ini. Beberapa kali upaya peledakan dilakukan untuk meratakan bangunan pabrik.
Baca Juga: Golden State Warriors Trade Terbaru: Kuminga & Buddy Hield Dilepas, Chris Porzingis Resmi Bergabung!
Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Menurut cerita warga, konstruksi bangunan Belanda yang sangat kuat membuat pabrik ini tetap bertahan meski sempat dicoba untuk dihancurkan. Selain faktor teknis, kisah-kisah mistis juga berkembang di masyarakat, menyebutkan bahwa pabrik ini memiliki “penjaga” yang membuatnya sulit dimusnahkan.
Pada masa pendudukan Jepang, tanaman kopi di sekitar pabrik bahkan sempat diganti dengan jagung putih. Meski begitu, bangunan utama pabrik tetap berdiri dan menjadi saksi bisu pergantian kekuasaan dari era Belanda hingga Jepang.
Potensi Wisata Sejarah dan Edukasi
Hingga saat ini, Pabrik Kopi Vanili Trenggalek masih dijaga dan dilestarikan. Selain tetap berfungsi sebagai tempat pengolahan kopi, pabrik ini dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah.
Konsep wisata yang dapat dikembangkan mencakup ecotourism dan edutourism. Pengunjung dapat mempelajari sejarah industri kopi, teknologi ramah lingkungan berbasis tenaga air, serta melihat langsung proses pengolahan kopi tradisional peninggalan kolonial.
Bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum, Pabrik Kopi Vanili Trenggalek dapat menjadi ruang belajar terbuka tentang sejarah, teknologi, dan lingkungan. Keberadaan pabrik ini sekaligus memperkuat identitas Trenggalek sebagai daerah yang kaya akan warisan sejarah industri.
Editor : Dyah Wulandari