Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Prasasti Kampak Trenggalek, Jejak Mpu Sindok Tahun 929 M yang Mengungkap Desa Bebas Pajak di Lereng Perbukitan

Dyah Wulandari • Kamis, 5 Februari 2026 | 19:25 WIB

Prasasti Kampak Trenggalek bertahun 929 M jadi bukti jasa warga Kampak kepada Mpu Sindok dan status desa bebas pajak Kerajaan Medang
Prasasti Kampak Trenggalek bertahun 929 M jadi bukti jasa warga Kampak kepada Mpu Sindok dan status desa bebas pajak Kerajaan Medang

TRENGGALEK – Prasasti Kampak Trenggalek menjadi salah satu bukti sejarah penting yang mengungkap peran wilayah Kampak dalam perjalanan Kerajaan Medang pada abad ke-10. Prasasti bertarikh tahun 851 Saka atau 929 Masehi itu ditemukan di Dusun Kampak, Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tepat di sekitar sebuah umbul atau sumber air alami.

Keberadaan Prasasti Kampak Trenggalek tak hanya menandai jejak kekuasaan Raja Mpu Sindok, tetapi juga mengungkap status istimewa wilayah Kampak sebagai daerah bebas pajak atau sima swatantra. Status tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas jasa warga Kampak yang membantu perjuangan Mpu Sindok merebut kembali kekuasaan Kerajaan Medang dari tekanan Sriwijaya.

Prasasti ini hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah lokal Trenggalek, khususnya terkait hubungan antara kerajaan besar dan masyarakat desa di masa lampau.

Baca Juga: Wisata Pantai Trenggalek Masih Jadi Primadona 2025, Pantai Mutiara dan Karanggongso Teratas Meski Kunjungan Turun 14 Persen

Umbul Kampak dan Jejak Peradaban Kuno

Lokasi ditemukannya Prasasti Kampak Trenggalek berada di sekitar umbul atau sumber mata air yang hingga kini masih mengalir. Dalam perspektif sejarah dan budaya Nusantara, keberadaan sumber air kerap menjadi pusat aktivitas pemukiman, tempat ibadah, maupun lokasi ritual.

Secara struktur, kawasan ini menunjukkan pola yang lazim ditemukan pada situs-situs kuno. Umbul berada di area bawah, sementara bagian yang lebih tinggi di sekitarnya diduga menjadi lokasi pemujaan atau aktivitas spiritual. Pola ini serupa dengan situs-situs lain seperti Tirta Empul dan Tampaksiring di Bali, yang memadukan unsur air, alam, dan religi.

Baca Juga: Terungkap Kondisi Terbaru JLS Blitar Tulungagung, Panorama Laut dan Tebing Viral tapi Masih Terputus di Desa Buluagung

Namun, menurut penuturan warga dan penelusuran sejarah, sejumlah bangunan atau struktur kuno di kawasan ini diduga telah mengalami kerusakan pada sekitar tahun 1965–1966. Saat itu, banyak tempat yang dianggap tidak sesuai dengan pemikiran zaman mengalami penghancuran.

Kampak, Wilayah Strategis di Tengah Perbukitan

Secara topografi, Kecamatan Kampak memiliki karakter unik. Wilayah ini dikelilingi perbukitan yang rapat, menciptakan lanskap alami yang tertutup dan relatif tersembunyi. Kondisi tersebut menguatkan dugaan para peneliti dan pegiat sejarah bahwa Kampak dulunya merupakan tempat yang strategis untuk persembunyian dan konsolidasi kekuatan.

Baca Juga: JLS Blitar–Tulungagung Macet Total di Puncak Gayasan, Hujan Deras Tak Surutkan Wisatawan Minggu Sore

Berdasarkan sejumlah referensi sejarah, Mpu Sindok disebut sempat menetap di kawasan Kampak saat melarikan diri dari kejaran pasukan Sriwijaya. Wilayah ini dianggap aman, subur, serta memiliki sumber daya air yang melimpah, sehingga cocok sebagai basis pengembangan kekuatan.

Di kawasan inilah Mpu Sindok bersama para pengikutnya mengorganisasi penduduk lokal Kampak untuk membentuk pasukan. Mereka kemudian terlibat dalam perlawanan terhadap pengaruh Sriwijaya, termasuk menghadang pengiriman upeti dari kerajaan-kerajaan kecil yang berada di bawah kendali Sriwijaya.

Asal-usul Nama Kampak dan Perannya dalam Sejarah

Menariknya, asal-usul nama Kampak juga menyimpan makna historis. Dalam beberapa tafsir, kata “kampak” diartikan sebagai rampok atau begal. Namun, makna ini tidak selalu bermakna negatif. Dalam konteks sejarah saat itu, perampasan upeti dilakukan sebagai bagian dari strategi perlawanan terhadap dominasi Sriwijaya.

Baca Juga: JLS Puncak Pantai Gayasan Blitar Meledak! Ramainya Kalahkan Tebing Sine hingga Perempatan Mekah, Ini Fakta di Lapangan

Penduduk Kampak yang tergabung dalam pasukan Mpu Sindok disebut berperan aktif dalam menahan dan mengambil alih upeti yang hendak dikirim ke pusat kekuasaan Sriwijaya. Hasilnya digunakan untuk mendukung perjuangan merebut kembali Kerajaan Medang.

Atas jasa besar tersebut, Mpu Sindok kemudian menganugerahkan wilayah Kampak status sima swatantra. Melalui Prasasti Kampak Trenggalek, daerah ini secara resmi diberikan hak mengelola wilayahnya sendiri, memungut pajak secara mandiri, serta dibebaskan dari kewajiban pajak kerajaan.

Warisan Sejarah yang Masih Hidup

Hingga kini, kawasan sekitar umbul Kampak masih dimanfaatkan warga untuk aktivitas sehari-hari. Warga setempat juga mulai melakukan penataan lingkungan secara swadaya, termasuk perbaikan akses jalan dan pavingisasi, sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan bersejarah ini.

Baca Juga: JLS Puncak Pantai Gayasan Blitar Meledak! Ramainya Kalahkan Tebing Sine hingga Perempatan Mekah, Ini Fakta di Lapangan

Keberadaan Prasasti Kampak Trenggalek menjadi pengingat bahwa wilayah pedesaan memiliki peran besar dalam sejarah Nusantara. Tidak hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai aktor penting dalam dinamika kekuasaan kerajaan-kerajaan besar di masa lalu.

Dengan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki, Kampak berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah berbasis edukasi, sekaligus memperkuat identitas lokal Trenggalek di tingkat nasional.

Editor : Dyah Wulandari
#sejarah trenggalek #mpu sindok #peninggalan sejarah #prasasti kampak