Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tragedi Duku Legetang 1955: Longsor “Melompat” dari Gunung Pengamun-amun, 351 Warga Tewas dalam Semalam

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:50 WIB
Tragedi Duku Legetang 1955: Longsor “Melompat” dari Gunung Pengamun-amun, 351 Warga Tewas dalam Semalam
Tragedi Duku Legetang 1955: Longsor “Melompat” dari Gunung Pengamun-amun, 351 Warga Tewas dalam Semalam

TRENGGALEK NJENGGELEK-Tragedi Duku Legetang 1955 menjadi salah satu bencana longsor paling misterius di Jawa Tengah. Dalam satu malam, sebuah dukuh di wilayah Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, lenyap tertimbun material tanah setelah longsor besar dari Gunung Pengamun-amun.

Peristiwa Tragedi Duku Legetang 1955 itu terjadi pada malam 16 menuju 17 April 1955. Yang membuat warga terheran, longsoran disebut seolah “melompat” dari puncak gunung langsung menghantam dukuh, sementara area di bawahnya justru relatif tidak terdampak.

Hingga kini, Tragedi Duku Legetang 1955 masih dikenang sebagai musibah besar yang menewaskan ratusan orang dan menyisakan duka mendalam bagi warga Banjarnegara.

Awal Berdirinya Duku Legetang

Duku Legetang mulai terbentuk sekitar 1931 dan masih termasuk wilayah Desa Pekasiran. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat warga membuka lahan baru di lembah yang dikenal sangat subur.

Secara topografi, lokasi tersebut berada di dataran tinggi 1.600–1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl), berhadapan langsung dengan Gunung Pengamun-amun yang memiliki ketinggian sekitar 2.000–2.100 mdpl. Meski disebut lembah, kemiringan tanahnya mencapai 40 persen di beberapa titik.

Akses menuju lokasi kala itu sangat terbatas. Namun hasil pertanian yang melimpah membuat warga bertahan. Komoditas utama berupa tembakau dan sayuran lokal. Produksi disebut bisa dua hingga tiga kali lipat lebih berat dibanding wilayah sekitar.

Dalam 24 tahun, jumlah penduduk berkembang pesat. Pada 1955, warga diperkirakan mencapai 300–400 orang. Bahkan sejumlah sumber menyebut jumlahnya bisa lebih dari 450 jiwa.

Kehidupan Sosial dan Isu Azab

Kemakmuran melahirkan sejumlah juragan kaya. Salah satunya Ki Ageng Ranah atau Mbah Ranah yang dikenal memiliki banyak lahan garapan.

Namun di balik kemajuan ekonomi, berkembang cerita mengenai kebiasaan pesta usai panen. Pentas lengger menjadi hiburan rutin. Tarian tradisional tersebut awalnya bermakna rasa syukur kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.

Dalam perkembangannya, pertunjukan disebut kerap disertai minuman keras dan perjudian. Bahkan muncul isu penyimpangan moral yang memicu anggapan sebagian warga bahwa bencana tersebut adalah azab.

Cerita itu berkembang dari mulut ke mulut. Namun tidak semua pihak sepakat dengan narasi tersebut.

Tanda-Tanda Alam Sebelum Longsor

Awal April 1955, hujan deras mengguyur kawasan itu selama berhari-hari. Warga juga melihat banyak hewan turun dari Gunung Pengamun-amun. Burung-burung beterbangan meninggalkan puncak.

Beberapa penggembala menemukan rekahan besar di tubuh gunung, sekitar 70 hari sebelum kejadian. Rekahan tersebut mengarah ke tenggara dan terlihat cukup panjang.

Warga sempat memperdalam parit di bawah gunung untuk mengalihkan potensi aliran material longsor agar tidak merusak lahan pertanian. Mereka meyakini posisi Duku Legetang aman karena terpisah jurang dan sungai.

Malam Mencekam 16 April 1955

Pada 16 April 1955, hujan turun sepanjang hari hingga malam. Meski demikian, kabarnya di Duku Legetang tetap digelar pentas lengger. Sekitar 19 orang tamu dari luar dukuh disebut ikut hadir.

Menjelang tengah malam, hujan mereda. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan keras dari arah gunung. Warga Desa Pekasiran tidak berani keluar karena gelap dan jalan licin.

Keesokan paginya, kabar mengejutkan datang. Seorang peternak berteriak, “Legetang guntur!” yang berarti Legetang longsor. Saat dicek, dukuh tersebut sudah tak tersisa, tertimbun tanah dengan ketebalan lebih dari dua meter.

Longsoran membentang panjang hingga ke ladang yang dikenal sebagai Ladang Cakisan. Dari lembah, kini berubah menjadi gundukan tanah tinggi.

351 Korban Jiwa dan Misteri “Longsor Melompat”

Data yang beredar menyebut 351 orang meninggal dunia. Sebanyak 332 di antaranya warga setempat dan 19 orang tamu. Ada pula sumber yang memperkirakan korban lebih dari 450 orang karena minimnya pencatatan sipil kala itu.

Proses evakuasi hampir mustahil dilakukan. Akses terbatas, peralatan minim, serta risiko longsor susulan membuat korban tidak dapat diselamatkan.

Yang menjadi perdebatan adalah bagaimana longsor tersebut seolah melompati area di bawah Gunung Pengamun-amun dan langsung menghantam dukuh.

Penjelasan ilmiah datang dari pihak Badan Geologi. Seorang ahli menjelaskan kemungkinan material longsor meluncur dengan kecepatan tinggi, membentur dinding bukit, lalu terlempar langsung ke arah Duku Legetang.

Untuk mengenang tragedi tersebut, dibangun monumen yang dikenal warga sebagai Monumen 55.

Tragedi Duku Legetang 1955 menjadi pengingat akan dahsyatnya bencana alam di kawasan pegunungan. Di balik misteri yang menyelimutinya, peristiwa ini tercatat sebagai salah satu longsor paling memilukan dalam sejarah Banjarnegara.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Gunung Pengamunm amun #Monumen 55 #Longsor Banjarnegara #Tragedi Duku Legetang 1955 #Duku Legetang longsor