Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Monumen Desa Legetang 1955 di Dieng: Jejak Longsor Dahsyat yang Kubur Satu Desa dalam Semalam

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:00 WIB
Monumen Desa Legetang 1955 di Dieng: Jejak Longsor Dahsyat yang Kubur Satu Desa dalam Semalam
Monumen Desa Legetang 1955 di Dieng: Jejak Longsor Dahsyat yang Kubur Satu Desa dalam Semalam

TRENGGALEK NJENGGELEK-Monumen Desa Legetang 1955 masih berdiri tegak di kawasan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Tugu beton itu menjadi penanda tragedi longsor dahsyat yang menimbun satu desa di dataran tinggi Dieng dalam semalam.

Keberadaan Monumen Desa Legetang 1955 menjadi saksi bisu bencana besar yang terjadi pada 16–17 April 1955. Saat itu, longsoran dari Gunung Pengamun-amun mengubur Dusun Legetang beserta ratusan warganya.

Hingga kini, Monumen Desa Legetang 1955 kerap dikunjungi peziarah maupun penelusur sejarah yang penasaran dengan kisah desa yang hilang tersebut.

Berdiri di Tengah Lahan Pertanian

Tugu peringatan itu berdiri di tengah hamparan lahan pertanian kentang dan kubis. Secara fisik, bangunan beton tersebut tampak mulai lapuk dimakan usia, namun tetap kokoh menjulang sebagai simbol tragedi.

Di prasasti yang terpasang, tertulis peringatan atas tewasnya 332 warga Dusun Legetang serta 19 tamu dari desa lain akibat longsor Gunung Pengamun-amun pada April 1955.

Kini, lokasi yang dahulu menjadi permukiman warga telah berubah menjadi ladang produktif. Aktivitas pertanian tetap berjalan seperti biasa, seolah menyatu dengan sejarah kelam yang pernah terjadi.

Longsor akibat Hujan Deras

Berdasarkan berbagai sumber, tragedi bermula dari hujan deras yang mengguyur kawasan Pegunungan Dieng selama beberapa hari. Curah hujan tinggi membuat tanah di lereng gunung menjadi labil.

Pada malam 16 April 1955, longsoran besar terjadi. Material tanah dalam jumlah masif meluncur dan menimbun seluruh Dusun Legetang.

Kejadian berlangsung pada malam hari, sehingga warga tidak sempat menyelamatkan diri. Hampir seluruh penduduk diperkirakan meninggal dunia.

Puncak Gunung yang Rombal

Kesaksian warga menyebutkan, keesokan paginya terlihat puncak Gunung Pengamun-amun tampak rompal, seolah terpotong. Sementara Dusun Legetang yang berada di lembah berubah menjadi gundukan tanah baru menyerupai bukit.

Fenomena ini memunculkan berbagai spekulasi. Ada yang mengaitkannya dengan hal mistis, namun secara ilmiah longsor besar dengan tipe pergerakan rotasi memang dapat terjadi di lereng curam dengan tanah jenuh air.

Struktur cekungan di lokasi dusun juga diduga membuat material longsor terkumpul dan meninggi di satu titik.

Upaya Menelusuri Kisah Warga

Penelusuran ke sekitar lokasi monumen menunjukkan sebagian warga setempat tidak mengetahui detail peristiwa karena terjadi puluhan tahun lalu. Informasi banyak diwariskan secara lisan dari generasi sebelumnya.

Beberapa warga menyebut kejadian terjadi saat musim hujan dan sebagian besar korban tidak dapat dievakuasi karena akses terbatas serta risiko longsor susulan.

Hingga kini, kisah tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Dieng.

Pengingat Bencana di Kawasan Pegunungan

Tragedi Legetang menjadi salah satu bencana besar di kawasan dataran tinggi Dieng. Wilayah ini memang dikenal memiliki topografi curam, curah hujan tinggi, dan aktivitas geologi yang kompleks.

Selain longsor 1955, kawasan Dieng juga pernah mengalami bencana gas beracun pada 1979 yang menelan banyak korban jiwa.

Keberadaan Monumen Desa Legetang 1955 bukan sekadar penanda sejarah, tetapi juga pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam di wilayah pegunungan.

Menjadi Bagian dari Sejarah Dieng

Kini, Dusun Legetang telah lama hilang dari peta permukiman. Wilayah tersebut bahkan tidak lagi tercatat sebagai desa aktif dalam administrasi pemerintahan.

Namun sejarahnya tetap abadi melalui monumen yang berdiri di tengah ladang. Bagi warga Banjarnegara dan sekitarnya, tragedi ini menjadi pelajaran tentang kekuatan alam yang dapat mengubah kehidupan dalam sekejap.

Monumen Desa Legetang 1955 terus menjadi simbol duka sekaligus refleksi, bahwa di balik keindahan alam Dieng, tersimpan sejarah kelam yang tak boleh dilupakan.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Bencana Banjarnegara #Gunung Pengamun amun #Longsor Dieng 1955 #Monumen Desa Legetang 1955 #Dusun Legetang hilang