Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955: Hilang Dalam Semalam, 351 Warga Tertimbun Longsor Gunung Pengamun-amun

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:05 WIB
Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955: Hilang Dalam Semalam, 351 Warga Tertimbun Longsor Gunung Pengamun-amun
Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955: Hilang Dalam Semalam, 351 Warga Tertimbun Longsor Gunung Pengamun-amun

TRENGGALEK NJENGGELEK-Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955 menjadi salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Jawa Tengah. Sebuah kampung di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, hilang dalam satu malam setelah tertimbun longsor hebat. Ratusan warga dilaporkan meninggal dunia dan dusun tersebut lenyap dari peta.

Peristiwa tragis Dusun Legetang Dieng 1955 itu terjadi pada 17 April 1955. Malam itu, kawasan Dataran Tinggi Dieng diguyur hujan lebat. Sekitar pukul 23.00 WIB, terdengar suara gemuruh keras seperti benda besar runtuh dari arah perbukitan. Warga desa sekitar mendengar suara tersebut, namun tak ada yang berani mendekat karena kondisi gelap dan tanah yang masih bergerak.

Keesokan paginya, kabar mengejutkan tersiar. Dusun Legetang telah rata dengan tanah. Pemukiman, ladang, serta ratusan warga yang tinggal di sana tertimbun material longsor. Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955 pun menjadi kisah kelam yang terus dikenang hingga kini.

Lokasi dan Kronologi Bencana

Dusun Legetang berada sekitar 5,6 kilometer dari kawasan Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, dengan waktu tempuh sekitar 11 menit menggunakan sepeda motor. Dari pusat Kabupaten Banjarnegara, jaraknya sekitar 44 kilometer.

Secara geografis, dusun ini terletak di ketinggian kurang lebih 1.843 meter di atas permukaan laut. Tanahnya dikenal subur, bahkan disebut lebih unggul dibanding wilayah sekitar. Warga menggantungkan hidup pada pertanian.

Namun kesuburan itu berubah menjadi petaka. Longsor besar diduga berasal dari Gunung Pengamun-amun, bukit yang berada tak jauh dari pemukiman. Material tanah bergerak cepat, menimbun rumah-rumah warga dalam hitungan menit.

Seorang warga Pekasiran, Zahidin (45), mengaku hanya mengetahui peristiwa tersebut dari cerita turun-temurun. “Kalau saya tahu dari cerita. Katanya sekitar 350-an orang meninggal,” ujarnya.

Beberapa sumber menyebut jumlah korban mencapai 351 hingga 357 orang, termasuk tujuh tamu yang sedang berada di dusun tersebut. Proses evakuasi kala itu sangat terbatas. Peralatan berat belum tersedia, sehingga pencarian korban hanya menggunakan cangkul dan alat seadanya. Banyak jenazah diduga tak pernah ditemukan.

Area Kuburan Massal dan Tugu Peringatan

Kini, bekas lokasi Dusun Legetang telah berubah menjadi lahan pertanian sayuran. Sebagian area diyakini sebagai kuburan massal korban longsor. Di lokasi tersebut juga berdiri sebuah tugu untuk mengenang tragedi hilangnya kampung tersebut.

Warga setempat menyebut batas longsoran masih bisa dikenali dari kontur tanah. Bahkan ada cerita bahwa bentuk Gunung Pengamun-amun berubah akibat peristiwa tersebut. Sebagian tanah disebut bergeser, membentuk gundukan baru.

“Dulu ada orang tua yang kerja di sini, pas mau longsor pulang duluan, jadi selamat,” ujar seorang warga lain. Namun saksi-saksi hidup peristiwa 1955 kini hampir seluruhnya telah meninggal dunia.

Isu Misteri dan Narasi Azab

Selain fakta geologi, tragedi ini juga dibalut cerita misteri. Beredar narasi bahwa Dusun Legetang terkena azab akibat perilaku menyimpang sebagian warganya. Isu tentang praktik perjudian, prostitusi, hingga penyimpangan sosial disebut-sebut berkembang sebelum bencana terjadi.

Namun kebenaran cerita tersebut tak pernah terverifikasi secara ilmiah. Informasi lebih banyak menyebar dari mulut ke mulut. Hingga kini, tidak ada catatan resmi yang membuktikan keterkaitan antara isu tersebut dan bencana longsor.

Secara logika kebencanaan, hujan deras di wilayah perbukitan dengan struktur tanah labil memang berpotensi memicu longsor besar. Apalagi di era 1950-an, belum ada sistem mitigasi maupun pemetaan risiko bencana seperti sekarang.

Gudang di Atas Bekas Dusun

Saat ini, di sekitar lokasi terlihat bangunan menyerupai rumah. Namun bangunan itu ternyata gudang pupuk dan tempat penyimpanan hasil panen warga. Tak ada lagi pemukiman permanen di atas area yang diyakini sebagai bekas dusun tersebut.

Dusun Legetang benar-benar hilang. Yang tersisa hanyalah cerita, tugu peringatan, dan hamparan lahan pertanian yang menyimpan sejarah pilu.

Tragedi Dusun Legetang Dieng 1955 menjadi pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam. Di balik keindahan Dataran Tinggi Dieng, tersimpan kisah duka yang tak boleh dilupakan generasi berikutnya.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Gunung Pengamun amun #banjarnegara #Dusun Legetang hilang #sejarah bencana Jawa Tengah #longsor dieng