Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Desa Patuanan Majalengka: Jejak Ki Gede Kipas, Sunan Kalijaga, dan Perang Cirebon vs Prabu Siliwangi

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:10 WIB
Asal Usul Desa Patuanan Majalengka: Jejak Ki Gede Kipas, Sunan Kalijaga, dan Perang Cirebon vs Prabu Siliwangi
Asal Usul Desa Patuanan Majalengka: Jejak Ki Gede Kipas, Sunan Kalijaga, dan Perang Cirebon vs Prabu Siliwangi

TRENGGALEK NJENGGELEK-Asal usul Desa Patuanan Majalengka menyimpan kisah sejarah yang kental dengan nuansa Cirebon dan legenda para buyut. Desa yang berada di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka ini diyakini berawal dari perjalanan seorang tokoh bernama Ki Gede Kipas.

Dalam penuturan sejarah lisan, asal usul Desa Patuanan Majalengka berasal dari kata “tua” dalam bahasa Cirebon. Penamaan itu berkaitan dengan hubungan kekerabatan antara tokoh pendirinya dengan pemimpin Cirebon pada masa itu. Kisah ini berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian identitas masyarakat setempat.

Diceritakan, seorang pangeran dari Cirebon bernama Ki Gede Kipas datang membuka hutan dan alang-alang untuk memperluas wilayahnya. Pembukaan lahan dimulai dari wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Mintadana hingga berakhir di Desa Pasir dan Desa Waringin.

Pembagian Wilayah dan Lahirnya Patuanan

Karena wilayah yang dibuka cukup luas, daerah tersebut kemudian dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian barat dinamakan Desa Tarikolot. Di desa ini terdapat sawah bernama Lebak Mata, yang disebut-sebut diambil dari nama lain Ki Gede Kipas, yakni Buyut Pernata Kusuma.

Bagian tengah menjadi Desa Sindanghaji, dengan cerita dan penamaan sawah yang serupa sebagai penanda sejarah.

Sementara bagian timur dinamakan Desa Patuanan dan dijadikan sebagai pusat kedudukan Ki Gede Kipas.

Ki Gede Kipas atau Buyut Pernata Kusuma memiliki seorang putra bernama Janur Wenda. Ia masih memiliki hubungan keluarga dengan Mbah Kuwu Sangkan, pemimpin Cirebon saat itu. Janur Wenda memanggil Mbah Kuwu Sangkan sebagai “ramma paman”, menandakan hubungan saudara tua. Dari situlah muncul nama Patuanan, yang merujuk pada kediaman tokoh yang dituakan.

Keterlibatan dalam Perang Cirebon

Beberapa tahun kemudian, datanglah Sunan Kalijaga yang diutus Mbah Kuwu Sangkan untuk meminta bantuan kepada Ki Gede Kipas. Saat itu, pasukan Cirebon tengah berperang melawan Prabu Siliwangi di wilayah Eretan, pesisir yang kini masuk kawasan Indramayu.

Pasukan Cirebon dikabarkan terdesak. Karena usia Ki Gede Kipas sudah lanjut, tugas tersebut kemudian diberikan kepada Janur Wenda. Dengan berbekal sebilah keris, ia turut membantu peperangan hingga akhirnya dimenangkan oleh pihak Cirebon.

Sepeninggal Ki Gede Kipas, ia dimakamkan di Patuanan, tepatnya di area pemakaman yang disebut Pangonan Gede. Makam tersebut hingga kini diyakini sebagai salah satu situs bersejarah desa.

Para Buyut dan Kisah Kesaktian

Sejarah Desa Patuanan juga tak lepas dari kisah para sahabat Buyut Pernata Kusuma.

Buyut Suranenggala atau Boy Cabang dikenal sebagai benteng utama. Makamnya berada di perbatasan Desa Nanggerang dan Desa Patuanan.

Buyut Amal dikisahkan menjalani tapa brata di Gunung Kawah selama tiga tahun. Ia memiliki kemampuan mengisi padi yang kosong dan gemar bercocok tanam untuk dibagikan kepada rakyat.

Buyut Nuriman berasal dari Kebagusan Cirebon dan memiliki burung perkutut putih. Ia dimakamkan di Pleben, Desa Patuanan.

Buyut Nitisari dari Trusmi Cirebon memiliki kuda lumping bernama Megamendung yang konon bisa terbang.

Buyut Samidin atau Buyut Kaprah dikenal sebagai dalang pewayangan dan juga dimakamkan di Patuanan.

Ada pula kisah Buyut Kinayu yang memiliki pusaka Cupumanik Pesugihan. Pusaka itu dicuri oleh Buyut Buniwangi. Setelah dihukum dibakar namun tetap hidup, muncul kisah kutukan terhadap keturunannya.

Seluruh tokoh tersebut menjadi bagian penting dalam cerita asal usul Desa Patuanan Majalengka yang diwariskan secara lisan.

Pemerintahan Desa Sejak Abad ke-16

Pada masa itu, masyarakat setempat disebut telah mengenal sistem pemerintahan, meski bentuknya masih sederhana. Kepemimpinan resmi dengan jabatan kuwu dan penyebutan wilayah sebagai desa diperkirakan berkembang sejak abad ke-16.

Catatan menyebutkan, setidaknya sejak tahun 1839 Desa Patuanan telah dipimpin lebih dari 17 kepala desa. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pemerintahan desa telah berjalan cukup lama dan terorganisasi.

Hingga kini, kisah asal usul Desa Patuanan Majalengka tetap hidup di tengah masyarakat. Cerita tentang Ki Gede Kipas, Janur Wenda, hingga keterlibatan dalam perang Cirebon menjadi bagian dari identitas kultural warga.

Terlepas dari unsur legenda dan mitos yang menyertainya, sejarah lisan ini menjadi warisan berharga yang terus dijaga sebagai penguat jati diri desa.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Ki Gede Kipas #sunan kalijaga #Janur Wenda #Asal usul Desa Patuanan Majalengka #Prabu Siliwangi