TRENGGALEK NJENGGELEK-Sejarah Desa Patuanan Majalengka tak hanya berbicara soal asal-usul nama, tetapi juga memuat kisah heroik Janur Wenda, pertarungan di Eretan Indramayu, hingga kejayaan Pasar Jorongan yang pernah menjadi pusat ekonomi kawasan Leuwimunding.
Desa Patuanan yang berada di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, memiliki keunikan budaya. Warganya menggunakan Bahasa Jawa Cirebon di tengah dominasi masyarakat berbahasa Sunda. Tak heran jika desa ini kerap dijuluki “Jawa di tengah Sunda”.
Dalam keseharian, warga Desa Patuanan menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Jawa Cirebon sebagai bahasa utama dan Bahasa Sunda sebagai bahasa kedua. Bahasa Sunda dipakai saat berinteraksi dengan warga desa tetangga atau tamu dari luar wilayah.
Versi Kuat Asal-Usul Desa
Sejarah Desa Patuanan Majalengka memiliki beberapa versi. Namun versi yang paling kuat menyebut desa ini bermula dari kedatangan rombongan guru dan murid dari Kebagusan, Cirebon.
Tokoh sentralnya adalah Pangeran Kipas atau Buyut Pernata Kusuma. Ia disebut sebagai seorang resi atau guru yang membuka hutan di wilayah yang kini menjadi Patuanan, Sindanghaji, dan Tarikolot.
Salah satu kisah awal menyebut seorang anak sakti bernama Kembar Pegambuan yang lebih dulu datang ke wilayah tersebut. Ia pergi ke hutan yang kini masuk wilayah Sindanghaji. Setelah itu, Pangeran Kipas beserta para muridnya menyusul dan menetap.
Beberapa murid yang dikenal dalam cerita turun-temurun antara lain Buyut Suranenggala, Buyut Amal, Buyut Nuriman, Buyut Nitisari, Buyut Samidin, hingga Buyut Winayu. Nama-nama ini tersebar di berbagai blok wilayah desa dan sebagian diyakini dimakamkan di Patuanan.
Janur Wenda dan Perang Eretan
Tokoh penting lain dalam sejarah Desa Patuanan Majalengka adalah Janur Wenda, putra Buyut Pernata Kusuma. Ia dikisahkan memiliki kesaktian luar biasa.
Saat pasukan Cirebon terdesak dalam perang melawan Raden Wiralodra di Eretan, Indramayu, bantuan diminta kepada Pangeran Kipas melalui utusan Sunan Kalijaga. Karena telah lanjut usia, Pangeran Kipas menunjuk Janur Wenda untuk membantu.
Konon, saat itu Janur Wenda tengah bertapa di Gunung Dieng. Setelah menerima pesan ayahnya, ia pulang dan berangkat ke medan perang. Dalam pertempuran di wilayah Sumuradem, Janur Wenda dihantam golok pusaka milik Raden Wiralodra hingga amblas ke tanah.
Namun ia berhasil diselamatkan oleh Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Cakrabuana. Bekas amblasnya Janur Wenda dipercaya menjadi sumber air yang kini dikenal sebagai Sumuradem.
Kisah ini memperkuat posisi Janur Wenda sebagai tokoh penting dalam sejarah lokal, sekaligus mempererat hubungan Patuanan dengan Kesultanan Cirebon.
Pemekaran Desa dan Awal Pemerintahan
Seiring waktu, wilayah Patuanan yang semula luas kemudian dimekarkan. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini dibagi menjadi Desa Patuanan dan Desa Sindanghaji. Sementara Tarikolot disebut berasal dari istilah “ditarik nu kolot” atau ditarik oleh orang tua Patuanan.
Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kuwu, istilah yang diambil dari Mbah Kuwu Sangkan. Kuwu pertama yang tercatat adalah Buyut Ngabei Mangunteki. Ia dikenal memiliki kemampuan luar biasa, termasuk menaklukkan kerbau mengamuk dalam sebuah sayembara di Rajagaluh.
Setelahnya, kepemimpinan diteruskan oleh sejumlah kuwu hingga era modern, termasuk Abdul Fattah pada 1960–1970.
Kukusan Jadi Maskot Desa
Pada masa Abdul Fattah, muncul inovasi ekonomi yang bertahan hingga kini. Karena warga tak memiliki pekerjaan saat masa tanam kosong, didatangkan pengrajin dari Sumedang untuk mengajari warga menganyam bambu menjadi kukusan (alat pengukus nasi).
Sejak saat itu, kukusan menjadi produk unggulan sekaligus maskot Desa Patuanan. Tradisi anyaman bambu ini masih bertahan sebagai identitas ekonomi kreatif desa.
Pasar Jorongan yang Pernah Berjaya
Sejarah Desa Patuanan Majalengka juga mencatat kejayaan Pasar Jorongan. Pasar ini sempat menjadi pusat perekonomian kawasan, dengan pengunjung dari Sindanghaji, Tarikolot, Parakan, Nanggerang, hingga Tanjungsari.
Setiap pekan digelar hiburan rakyat seperti sandiwara, topeng, sintren, hingga wayang kulit. Namun seiring perkembangan transportasi dan munculnya pasar besar di Rajagaluh serta Leuwimunding, aktivitas Pasar Jorongan perlahan menurun dan kini hanya ramai pada pagi hari.
Meski sebagian kisahnya berbalut legenda, sejarah Desa Patuanan Majalengka tetap menjadi identitas kuat masyarakatnya. Warisan bahasa, tradisi, hingga cerita kepahlawanan Janur Wenda terus dijaga sebagai bagian dari memori kolektif warga.
Editor : Ichaa Melinda Putri