TRENGGALEK NJENGGELEK-Sejarah Desa Patuanan Majalengka kembali menjadi sorotan karena keunikannya sebagai desa berbahasa Jawa Cirebon di tengah masyarakat Sunda. Desa yang berada di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka ini kerap dijuluki “Jawa Tengah di Tanah Sunda”.
Sejarah Desa Patuanan Majalengka tidak hanya berbicara tentang bahasa, tetapi juga asal-usul tokoh pendiri dan kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Warga desa hingga kini masih mempertahankan Bahasa Jawa Cirebon sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam praktiknya, masyarakat Patuanan dikenal bilingual. Bahasa Jawa Cirebon digunakan dalam percakapan sehari-hari, termasuk dalam khutbah, doa, hingga pidato resmi. Sementara Bahasa Sunda dipakai saat berinteraksi dengan warga desa tetangga atau tamu yang tidak memahami Bahasa Jawa Cirebon.
Desa Jawa di Tengah Lingkungan Sunda
Secara geografis, Desa Patuanan berada di wilayah yang mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda. Namun secara kultural, Patuanan tetap mempertahankan identitas Jawa Cirebon.
Kondisi ini membuat desa tersebut memiliki karakter budaya yang unik. Bahkan, warga sekitar sering menyebutnya sebagai desa Jawa yang berada di tengah-tengah masyarakat Sunda.
Kemampuan warga dalam menggunakan dua bahasa menjadi kekuatan tersendiri. Bahasa Sunda digunakan dalam situasi sosial tertentu, misalnya ketika ada menantu dari desa lain atau tamu yang berbahasa Sunda.
Versi Asal-Usul Desa Patuanan
Sejarah Desa Patuanan Majalengka memiliki beberapa versi. Namun versi yang paling kuat menyebut bahwa desa ini bermula dari kedatangan rombongan guru dan murid dari wilayah Cirebon.
Dikisahkan ada seorang anak kecil sakti bernama Kembar Pegambuan yang pergi jauh ke hutan. Wilayah tersebut kini masuk ke kawasan Sindanghaji, yang dahulu masih bagian dari Patuanan.
Kembar Pegambuan disebut sebagai orang pertama yang datang dan membuka wilayah tersebut. Dalam tradisi adat munjung (ziarah makam leluhur), namanya sering disebut lebih dahulu sebelum tokoh lainnya.
Peran Pangeran Kipas
Anak kecil itu kemudian dicari oleh seorang tokoh bernama Pangeran Kipas, yang juga dikenal sebagai Buyut Pernata Kusuma. Ia digambarkan sebagai seorang resi atau guru yang memiliki banyak murid.
Ketika sang guru pergi, para muridnya pun mengikuti jejaknya. Mereka kemudian membuka hutan dan menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Patuanan, Sindanghaji, dan Tarikolot.
Nama Patuanan sendiri diyakini berasal dari kata “tua” atau “yang dituakan”, merujuk pada kedudukan Pangeran Kipas sebagai tokoh sentral dan pemimpin spiritual di wilayah tersebut.
Dalam berbagai sumber sejarah lisan, Pangeran Kipas juga dikaitkan dengan jaringan tokoh Cirebon, termasuk Sunan Kalijaga dan para pemimpin awal Kesultanan Cirebon.
Warisan Budaya yang Masih Bertahan
Meski zaman terus berubah, identitas budaya Desa Patuanan tetap terjaga. Bahasa Jawa Cirebon masih digunakan dalam berbagai kegiatan resmi dan adat. Tradisi ziarah makam para buyut juga masih dilaksanakan hingga kini.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa wilayah Patuanan termasuk salah satu desa tua di kawasan tersebut. Namun ada pula versi lain yang menyebut nama Patuanan berasal dari kata “tuan”, merujuk pada pasukan atau tokoh dari Cirebon yang datang membuka lahan baru.
Terlepas dari perbedaan versi, sejarah Desa Patuanan Majalengka menjadi bagian penting dari jati diri masyarakatnya. Cerita tentang Kembar Pegambuan dan Pangeran Kipas terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Legenda dan sejarah lisan ini menjadi penguat identitas desa, sekaligus memperlihatkan bagaimana pertemuan budaya Jawa Cirebon dan Sunda membentuk karakter unik Desa Patuanan hingga sekarang.
Editor : Ichaa Melinda Putri