Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Desa Patuan: Jejak Buyut Permata Kusuma dan Perang Eretan

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:30 WIB
Sejarah Desa Patuan: Jejak Buyut Permata Kusuma dan Perang Eretan
Sejarah Desa Patuan: Jejak Buyut Permata Kusuma dan Perang Eretan

TRENGGALEK NJENGGELEK-Desa Patuan (sering ditulis Patuanan) di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, menyimpan kisah sejarah lisan yang kaya. Desa ini unik karena menjadi kantong bahasa Jawa Cirebon di tengah masyarakat berbahasa Sunda. Warga setempat bahkan kerap menyebutnya sebagai “Jawa Tengah”-nya Majalengka—Jawa di tengah lingkungan Sunda.

Dalam keseharian, warga Patuan fasih menggunakan dua bahasa: Jawa Cirebon sebagai bahasa utama, serta Sunda ketika berinteraksi dengan tamu atau warga desa tetangga yang tidak berbahasa Jawa. Tradisi dwibahasa ini menjadi identitas kultural yang terus dijaga hingga kini.

Asal-usul Nama Patuan

Secara etimologis, kata “Patuan” diyakini berasal dari kata “tua-tua” dalam bahasa Cirebon. Sejarah lisan menyebutkan bahwa dahulu datang seorang tokoh dari Cirebon bernama Ki Gedean Kipas, yang juga dikenal sebagai Buyut Permata Kusuma. Ia memimpin pembukaan hutan dan perluasan wilayah dari Kampung Mindana hingga Pasir dan Waringin.

Karena wilayahnya kian luas, Buyut Permata Kusuma dibantu oleh putranya, Janur Wenda, yang dalam silsilah keluarga memiliki pertalian dengan tokoh Cirebon, Mbah Kuwu Sangkan. Hubungan kekerabatan inilah yang kemudian memperkuat posisi Patuan dalam narasi sejarah lokal Cirebon.

Perang Eretan dan Kesaktian Janur Wenda

Kisah paling populer dari Patuan adalah pertempuran melawan Kerajaan Eretan di Indramayu yang dipimpin Raden Wiralodra. Diceritakan, pasukan Cirebon terdesak hingga meminta bantuan kepada Buyut Permata Kusuma. Namun karena usia lanjut, ia mengutus Janur Wenda yang saat itu sedang bertapa di Gunung Dieng.

Janur Wenda kembali dan berangkat ke Eretan untuk membantu pasukan Cirebon yang dipimpin Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang). Dalam pertempuran di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sumur Adem, Janur Wenda berhadapan langsung dengan Raden Wiralodra.

Raden Wiralodra mengayunkan golok pusaka besar hingga membuat Janur Wenda “amblas” ke dalam tanah. Mengira menang, pasukan Eretan mundur. Namun Pangeran Cakrabuana datang dan dengan kibasan sorbannya, Janur Wenda bangkit kembali dalam keadaan selamat.

Konon, dari bekas amblas tersebut memancar sumber air yang kemudian dinamakan Sumur Sereh atau Sumur Adem, yang hingga kini menjadi nama desa di Kecamatan Eretan, Indramayu.

Jejak Sejarah yang Hidup dalam Tradisi

Sepulang dari peperangan, Janur Wenda kembali menetap di Patuan bersama ayahnya, Buyut Permata Kusuma. Keturunan dan pengikutnya berkembang hingga membentuk komunitas yang kini dikenal sebagai Patuan Lama.

Walau belum ada bukti arkeologis tertulis yang menguatkan kisah tersebut, cerita ini tetap hidup melalui tradisi lisan dan ziarah ke makam buyut. Masyarakat percaya bahwa buyut-buyut di Patuan adalah tokoh penting dalam penyebaran budaya dan perluasan wilayah Cirebon di masa lampau.

Identitas Bahasa yang Bertahan

Seiring waktu, hanya Desa Patuan dan sebagian kecil wilayah Sindanghaji yang masih konsisten menggunakan bahasa Jawa Cirebon dalam keseharian. Wilayah seperti Mindana dan Tegal Merak kini lebih banyak berbahasa Sunda.

Keunikan inilah yang menjadikan Patuan sebagai simbol pertemuan budaya Jawa dan Sunda di Majalengka. Tradisi bahasa, cerita buyut, hingga kisah perang Eretan menjadi warisan tak tertulis yang terus dijaga generasi ke generasi.

Penutup

Sejarah Desa Patuan bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari identitas masyarakatnya. Dari pembukaan hutan oleh Buyut Permata Kusuma, kesaktian Janur Wenda dalam perang Eretan, hingga lahirnya Sumur Adem di Indramayu—semuanya menjadi mozaik sejarah lokal yang memperkaya khazanah budaya Majalengka.

Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu tertulis di prasasti, tetapi juga hidup dalam tutur, tradisi, dan bahasa yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Desa Patuan Majalengka #Perang Eretan Indramayu #Janur Wenda #Sejarah Cirebon #Buyut Permata Kusuma