Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Nyi Roro Kidul, Dari Putri Terbuang hingga Jadi Penguasa Laut Selatan dan Legitimasi Raja Jawa

Ichaa Melinda Putri • Senin, 16 Februari 2026 | 13:05 WIB
Asal Usul Nyi Roro Kidul, Dari Putri Terbuang hingga Jadi Penguasa Laut Selatan dan Legitimasi Raja Jawa
Asal Usul Nyi Roro Kidul, Dari Putri Terbuang hingga Jadi Penguasa Laut Selatan dan Legitimasi Raja Jawa

TRENGGALEK NJENGGELEK-Asal usul Nyi Roro Kidul selalu menjadi perbincangan hangat setiap kali membahas misteri Laut Selatan. Sosok ratu tak kasat mata ini bukan sekadar legenda mistis, melainkan bagian penting dari sejarah, politik, dan spiritualitas masyarakat Jawa yang terus hidup hingga kini.

Dalam berbagai versi cerita, asal usul Nyi Roro Kidul dikaitkan dengan kisah seorang putri kerajaan yang mengalami pengkhianatan dan penderitaan sebelum akhirnya menjadi penguasa Laut Selatan. Mitos ini tak hanya berkembang di kalangan masyarakat pesisir, tetapi juga menembus lingkungan keraton hingga budaya populer modern.

Asal usul Nyi Roro Kidul bahkan disebut sebagai “teks budaya hidup” karena mampu beradaptasi dengan zaman. Dari legenda lisan, ritual kerajaan, hingga film horor dan media digital, namanya tetap bergema, membuktikan kuatnya daya tahan mitos dalam kebudayaan Nusantara.

Putri Kandita dan Kutukan Istana

Versi paling populer menyebut Nyi Roro Kidul sebagai Putri Kandita, anak Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Ia dikenal cantik jelita dan memiliki kepribadian lembut. Namun kecantikannya memicu kecemburuan para selir istana.

Intrik dan fitnah pun terjadi. Putri Kandita dikutuk dengan penyakit kulit menjijikkan. Tubuhnya dipenuhi borok dan bau busuk. Sang ayah, yang tertekan situasi politik istana, akhirnya mengusirnya demi menjaga wibawa kerajaan.

Dalam kondisi putus asa, Kandita berjalan tanpa tujuan hingga tiba di tepian Laut Selatan. Di sanalah titik balik terjadi. Konon, suara gaib memintanya menyatu dengan samudra. Saat ia menceburkan diri, penyakitnya lenyap seketika. Tubuhnya kembali indah, bahkan lebih bercahaya.

Sejak itulah ia dipercaya menjadi penguasa Laut Selatan dengan nama Nyi Roro Kidul.

Meski demikian, tidak semua versi sepakat soal asal-usulnya. Ada yang menyebut ia keturunan Airlangga, ada pula yang mengaitkannya dengan Jayabaya atau bahkan Dewi Sri. Banyaknya versi justru memperkaya mitos ini, menunjukkan kemampuannya menyerap identitas budaya dari berbagai era.

Instrumen Legitimasi Politik Raja Jawa

Mitos Nyi Roro Kidul tidak berhenti pada legenda asal-usul. Ia berkembang menjadi bagian penting legitimasi politik kerajaan Jawa, terutama Mataram.

Dikisahkan Panembahan Senopati, pendiri Mataram, melakukan tapa brata di Parangkusumo. Pertapaannya mengguncang lautan hingga sang ratu muncul. Terjadilah perjanjian spiritual: Nyi Roro Kidul menjadi permaisuri gaib raja-raja Mataram.

Hubungan mistis ini dimaknai sebagai simbol penyatuan dua kekuatan besar: daratan agraris dan lautan maritim. Raja memerintah manusia di darat, sementara restu spiritualnya berasal dari penguasa laut.

Tradisi labuhan hingga kini masih dijalankan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Sultan mengirim sesaji berupa pakaian, bunga, dan makanan ke Laut Selatan. Ritual ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol perjanjian lama untuk menjaga harmoni antara kerajaan dan alam.

Mitos di Tengah Kehidupan Pesisir

Di luar keraton, mitos Nyi Roro Kidul hidup dalam tradisi masyarakat pesisir. Salah satu yang paling terkenal adalah larangan memakai pakaian hijau di pantai selatan.

Hijau diyakini sebagai warna kebesaran sang ratu. Siapa pun yang mengenakannya disebut bisa “dipanggil” ke istana bawah laut. Namun penjelasan rasional juga berkembang. Warna hijau yang menyatu dengan warna laut menyulitkan pencarian korban tenggelam.

Tradisi persembahan laut juga masih dijalankan. Nelayan di Jawa Barat mengenal ritual Nyalawena, sementara di wilayah lain digelar Syukur Pasisiran dengan melarung sesaji ke laut. Semua bermakna sama: penghormatan pada alam agar hasil tangkapan melimpah dan terhindar dari bahaya.

Pelabuhan Ratu, Parangtritis, dan Pangandaran pun kerap dianggap sebagai pintu gaib menuju kerajaan bawah laut. Tempat-tempat ini menjadi ruang sakral sekaligus destinasi wisata budaya.

Dari Dunia Gaib ke Pop Culture

Memasuki abad ke-20 dan 21, sosok Nyi Roro Kidul tidak menghilang. Ia justru bertransformasi. Dalam film horor, ia digambarkan cantik sekaligus menyeramkan. Di televisi, ia tampil sensual namun penuh ancaman.

Hotel-hotel seperti di Pelabuhan Ratu bahkan menyediakan kamar khusus bernuansa hijau yang didedikasikan untuk sang ratu. Ritual labuhan pun menjadi daya tarik wisata yang menyedot ribuan pengunjung setiap tahun.

Di era digital, namanya muncul dalam game, komik, hingga konten YouTube. Modernitas memang mengubah wajahnya, tetapi juga memastikan mitos ini tetap dikenal generasi baru.

Pada akhirnya, asal usul Nyi Roro Kidul bukan hanya tentang kisah mistis, melainkan refleksi hubungan manusia dengan alam. Ombak Laut Selatan yang besar dan tak terduga menjadi simbol kekuatan yang tak bisa sepenuhnya dikuasai manusia.

Legenda ini terus bertahan karena mengandung pesan sederhana namun kuat: hormati alam, jaga keseimbangan, dan pahami bahwa ada batas yang tak boleh dilanggar.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Asal usul Nyi Roro Kidul #mitos jawa #laut selatan #Putri Kandita #Ritual Labuhan