TULUNGAGUNG – Museum Jawa Prehistoric Tulungagung menjadi bukti keseriusan Desa Tenggarejo dalam menjaga warisan prasejarah. Museum yang berdiri di dalam kantor desa ini menyimpan puluhan fragmen fosil hewan purba yang diperkirakan berusia lebih dari 20.000 tahun.
Keberadaan Museum Jawa Prehistoric Tulungagung tak lepas dari banyaknya temuan fosil di Situs Gua Tenggar, Kecamatan Tanggunggunung. Fragmen fosil yang ditemukan meliputi mamalia besar seperti sapi, rusa, hingga gajah purba. Temuan tersebut memicu inisiatif warga dan pemerintah desa untuk menghadirkan ruang penyimpanan sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Didirikan pada awal 2023, Museum Jawa Prehistoric Tulungagung kini menjadi salah satu destinasi edukasi baru di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Museum ini dikelola oleh Arif Dermawan, perangkat Desa Tenggarejo yang selama bertahun-tahun aktif mengumpulkan fosil dari kawasan gua.
Baca Juga: Resmi Beroperasi! Pos Kesehatan Merah Putih di Rangkasbitung Bikin Akses Layanan Medis Makin Cepat
Berawal dari Temuan Pribadi Sejak 2019
Arif Dermawan mengungkapkan, gagasan mendirikan museum sebenarnya sudah muncul sejak 2019. Saat itu, ia kerap menemukan fosil hewan purba yang berjatuhan dari dinding Gua Tenggar. Tanpa fasilitas penyimpanan resmi, ia menyimpan temuan tersebut di rumah pribadinya.
“Awalnya hanya untuk diamankan agar tidak rusak atau hilang. Lama-kelamaan jumlahnya semakin banyak,” ujarnya.
Fragmen yang dikumpulkan meliputi tulang dan gigi mamalia besar. Salah satu koleksi paling fenomenal adalah fragmen gigi geraham gajah purba yang kondisinya masih relatif utuh. Berdasarkan perkiraan awal, usia fosil-fosil tersebut mencapai lebih dari 20.000 tahun.
Selain fosil hewan, di lokasi yang sama juga ditemukan pecahan tembikar dan alat bantu yang diduga berasal dari masa prasejarah. Saat ini, sejumlah artefak tersebut masih dalam proses penelitian oleh tim akademisi dari Universitas Airlangga.
Gua Tenggar Diyakini Hunian Lintas Generasi
Penelitian terhadap Gua Tenggar tidak hanya dilakukan oleh Universitas Airlangga. Sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur juga pernah melakukan kajian di lokasi tersebut.
Hasil sementara menunjukkan bahwa Gua Tenggar diyakini merupakan gua hunian lintas generasi yang telah ada sejak sekitar 20.000 tahun sebelum Masehi. Artinya, kawasan ini kemungkinan pernah menjadi tempat tinggal manusia purba sekaligus habitat berbagai satwa besar.
Temuan ini memperkuat posisi Tulungagung sebagai salah satu wilayah penting dalam peta arkeologi Jawa Timur. Dengan adanya museum desa, koleksi fosil kini dapat terdokumentasi lebih baik sekaligus menjadi sarana pembelajaran sejarah lokal.
Baca Juga: Rapel Pensiun Kapan Cair? Pemerintah Tegaskan Sudah Dianggarkan, Ini Alasan Pencairan Belum Serentak
Harapan Jadi Pusat Penelitian dan Wisata Edukasi
Kepala Desa Tenggarejo, Mujito, berharap keberadaan museum dan Situs Gua Tenggar bisa berkembang menjadi pusat penelitian sekaligus destinasi wisata edukasi. Saat ini, akses menuju gua masih berupa jalan setapak yang cukup sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
Pemerintah desa berencana membangun akses jalan yang lebih layak agar peneliti maupun wisatawan lebih mudah menjangkau lokasi. Selain itu, penghijauan di sekitar kawasan juga akan dilakukan dengan menanam berbagai pohon buah.
“Harapannya, ke depan Gua Tenggar bisa menjadi pusat penelitian sekaligus tempat belajar bagi generasi muda,” kata Mujito.
Dengan berdirinya Museum Jawa Prehistoric Tulungagung, Desa Tenggarejo tidak hanya menyelamatkan fosil-fosil purba dari kerusakan, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata sejarah berbasis desa. Koleksi yang tersimpan menjadi saksi bisu kehidupan ribuan tahun lalu yang pernah berlangsung di wilayah selatan Jawa Timur.
Jika dikelola secara berkelanjutan dan didukung penelitian ilmiah yang mendalam, bukan tidak mungkin museum desa ini akan menjadi referensi penting dalam kajian prasejarah Indonesia.
Editor : Natasha Eka Safrina