Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Replika Fosil Homo Wajakensis Dihibahkan Belanda ke Tulungagung, Bukti Sejarah Manusia Purba Kembali ke Tanah Asalnya

Natasha Eka Safrina • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:55 WIB

Homo Wajakensis Tulungagung diluruskan sejarawan. Bukan sekadar Desa Wajak, tapi bukti manusia purba modern di selatan Jawa.
Homo Wajakensis Tulungagung diluruskan sejarawan. Bukan sekadar Desa Wajak, tapi bukti manusia purba modern di selatan Jawa.

TULUNGAGUNG – Replika Fosil Homo Wajakensis resmi diterima Pemerintah Kabupaten Tulungagung sebagai hibah dari Belanda. Replika tengkorak manusia purba tersebut menjadi simbol penting kembalinya jejak sejarah peradaban awal Nusantara ke daerah asal penemuannya.

Hibah Replika Fosil Homo Wajakensis merupakan hasil komunikasi intensif antara Sub Koordinator Penelitian dan Pengembangan Litbang Bappeda Tulungagung, Andri Sambudi, dengan pihak Naturalis Biodiversity Center, museum tempat fosil asli Homo wajakensis disimpan sejak akhir abad ke-19.

Komunikasi resmi dilakukan melalui surat elektronik pada Agustus 2025. Dua minggu berselang, kurator Naturalis membalas dan mengonfirmasi bahwa fosil asli Homo wajakensis memang tersimpan di museum tersebut. Respons positif pun diberikan dengan kesediaan pihak museum untuk membuatkan replika fosil tengkorak manusia purba tersebut.

Baca Juga: Rapel Pensiunan 2026 dan THR Masih Dalam Proses, Pemerintah Tegaskan Tak Ada Pembatalan Hak

Replika Diberikan Gratis, Hanya Bayar Bea Cukai

Andri Sambudi menjelaskan, replika fosil tersebut diperoleh tanpa biaya pembuatan. Pemerintah Kabupaten Tulungagung hanya menanggung biaya bea cukai dan kliring di bandara sebesar Rp300 ribu. Paket replika dikirim melalui ekspedisi internasional dan disertai foto-foto dokumentasi fosil asli.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan dua hal sekaligus, replika fosil dan foto asli Homo wajakensis,” kata Andri.

Kiriman tersebut diterima pada 8 Desember dan dibuka secara resmi di hadapan penggiat sejarah, akademisi, serta awak media. Momen ini menjadi tonggak penting bagi upaya pelestarian sejarah manusia purba di Tulungagung.

Dukungan Akademisi untuk Pelestarian Sejarah

Setelah replika diterima, Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga melakukan komunikasi dengan sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga. Kedua institusi tersebut menyatakan dukungan penuh dan mengapresiasi langkah daerah dalam menjaga warisan prasejarah.

Baca Juga: Pendaki Gunung Ijen Hilang Usai Lihat Sunrise, Remaja 16 Tahun Asal Banyuwangi Belum Ditemukan.

Menurut Andri, para akademisi berpesan agar replika fosil tersebut dijaga dengan baik karena merupakan representasi langsung dari koleksi asli yang ada di Belanda dan tidak mudah untuk diperoleh kembali.

Replika tersebut rencananya akan ditempatkan di kawasan bersejarah Wajak sebagai sarana edukasi publik. Narasi sejarah akan disusun secara komprehensif agar masyarakat dapat memahami konteks penemuan dan pentingnya Homo wajakensis dalam sejarah manusia Indonesia.

Nilai Edukasi, Wisata, hingga Kesejahteraan Warga

Pemerintah daerah menegaskan bahwa kehadiran Replika Fosil Homo Wajakensis bukan semata untuk pajangan. Tujuan utama adalah pendidikan, disusul pengembangan wisata sejarah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar situs.

“Pendidikan menjadi prioritas pertama, wisata nomor dua, dan kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan jangka panjang,” ujar Andri.

Dengan pengelolaan yang tepat, situs Wajak diharapkan mampu menjadi pusat pembelajaran sejarah manusia purba yang terintegrasi dengan museum dan penelitian akademik.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Rentetan Bencana di Tiga Kecamatan BPBD Catat Tanggul Jebol hingga Masjid Rusak

Sejarah Penemuan Homo Wajakensis

Fosil manusia purba Homo wajakensis pertama kali ditemukan pada 24 Oktober 1888 oleh Van Rietschoten di wilayah yang kini masuk Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Penemuan terjadi saat eksplorasi tambang marmer.

Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh peneliti terkenal Eugene Dubois, yang berhasil menemukan spesimen kedua Homo wajakensis. Selain tengkorak manusia, penelitian juga mengungkap keberadaan fosil hewan dan tumbuhan purba, memperkuat bukti bahwa Tulungagung telah dihuni manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.

Kehadiran replika fosil ini diharapkan mampu menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang peran Tulungagung dalam sejarah awal manusia modern di Asia Tenggara.

Dengan dukungan internasional dan akademik, Tulungagung kini selangkah lebih maju dalam menjaga, merawat, dan mengenalkan warisan prasejarahnya kepada generasi mendatang.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Homo Wajakensis #sejarah tulungagung #Fosil Manusia Purba