TULUNGAGUNG – Homo Wajakensis Tulungagung kembali menjadi sorotan setelah para pemerhati sejarah meluruskan kesalahpahaman publik terkait lokasi penemuan manusia purba tersebut. Selama ini, banyak orang mengira fosil Homo wajakensis ditemukan di Desa Wajak seperti wilayah administratif saat ini. Padahal, secara historis, wilayah Wajak pada masa kolonial mencakup hampir seluruh Tulungagung bagian selatan.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Triyono, guru sejarah MAN 1 Tulungagung sekaligus penggerak lembaga kajian sejarah dan budaya lokal. Dalam diskusi publik di salah satu ruang komunitas di pusat kota, Triyono menegaskan bahwa Homo Wajakensis Tulungagung merujuk pada penamaan distrik Wajak pada era kolonial, bukan sekadar nama desa seperti yang dipahami masyarakat sekarang.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Distrik Wajak meliputi wilayah dari Perempatan Tamanan hingga kawasan selatan Tulungagung. Kini, wilayah tersebut telah terbagi menjadi beberapa kecamatan, salah satunya Kecamatan Campurdarat. Perubahan administratif inilah yang kemudian memicu salah kaprah penafsiran lokasi penemuan fosil manusia purba tersebut.
Baca Juga: Pendaki Gunung Ijen Hilang Usai Lihat Sunrise, Remaja 16 Tahun Asal Banyuwangi Belum Ditemukan.
Awal Penemuan Homo Wajakensis
Sejarah mencatat, penemuan awal fosil Homo Wajakensis Tulungagung terjadi pada akhir abad ke-19. Fosil pertama ditemukan secara tidak sengaja oleh mandor tambang marmer saat aktivitas penggalian. Lokasinya berada di sekitar kawasan industri marmer yang kala itu menjadi pusat aktivitas ekonomi kolonial.
Laporan penemuan tersebut kemudian menarik perhatian ilmuwan Belanda, Eugène Dubois, yang saat itu berstatus sebagai dokter militer. Rasa penasaran Dubois terhadap temuan tersebut mendorongnya melakukan penelusuran langsung ke wilayah Wajak.
Dalam ekspedisi lanjutan, Dubois berhasil menemukan dua spesimen penting yang kemudian dikenal sebagai Wajak 1 dan Wajak 2. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan internasional karena menunjukkan keberadaan manusia purba yang sudah tergolong modern.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Rentetan Bencana di Tiga Kecamatan BPBD Catat Tanggul Jebol hingga Masjid Rusak
Manusia Purba yang Sudah Modern
Berbeda dengan jenis manusia purba sebelumnya seperti Pithecanthropus, Homo Wajakensis Tulungagung diklasifikasikan sebagai Homo sapiens awal. Ciri utamanya adalah postur tubuh yang sudah tegak, volume otak lebih besar, serta tingkat kecerdasan yang jauh lebih maju.
Para peneliti menyebut Homo wajakensis telah memiliki kemampuan berpikir rasional. Mereka tidak hanya berburu untuk bertahan hidup, tetapi juga mulai mengenal pola hidup menetap dan bercocok tanam secara sederhana. Inilah yang membuat Homo wajakensis dianggap sebagai salah satu mata rantai penting menuju manusia modern.
Penemuan ini kemudian dipublikasikan melalui jurnal ilmiah internasional dan membuat nama Wajak dikenal luas hingga Eropa. Istilah “wajakensis” digunakan Dubois merujuk pada distrik Wajak sebagai lokasi temuan, sesuai penamaan geografis pada masa itu.
Penelusuran Ulang Lokasi oleh Peneliti Lokal
Kesadaran akan pentingnya sejarah Homo Wajakensis Tulungagung mendorong para pegiat sejarah lokal melakukan penelusuran ulang lokasi penemuan. Pada 2011, tim peneliti bersama akademisi dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga melakukan ekspedisi berbasis literatur klasik karya Dubois.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Rentetan Bencana di Tiga Kecamatan BPBD Catat Tanggul Jebol hingga Masjid Rusak
Dengan membandingkan deskripsi lokasi, peta lama, dan kondisi geografis, tim berhasil mengidentifikasi kawasan yang sangat mirip dengan laporan penemuan awal. Meski belum dapat menentukan titik persisnya, para peneliti meyakini lokasi tersebut berada di sekitar kawasan tambang marmer tua di Campurdarat.
Penelusuran ini menjadi penting untuk meluruskan sejarah sekaligus memperkuat identitas Tulungagung sebagai salah satu pusat penting prasejarah di Indonesia.
Meluruskan Sejarah untuk Edukasi Publik
Triyono menekankan, pelurusan sejarah Homo Wajakensis Tulungagung bukan untuk memperdebatkan wilayah administratif, melainkan demi edukasi publik yang benar. Kesalahan pemahaman dikhawatirkan dapat mengaburkan nilai ilmiah dan sejarah yang sangat penting bagi generasi mendatang.
Dengan kajian akademik yang terus berkembang, Homo wajakensis kini dipahami sebagai bukti bahwa wilayah selatan Tulungagung telah dihuni manusia modern sejak puluhan ribu tahun lalu. Fakta ini memperkuat posisi Indonesia, khususnya Jawa Timur, dalam peta evolusi manusia dunia.
Editor : Natasha Eka Safrina