TULUNGAGUNG – Situs Homo Wajakensis Gamping merupakan salah satu lokasi bersejarah terpenting dalam kajian manusia purba dunia. Terletak di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, situs ini menjadi tempat ditemukannya fosil tengkorak manusia purba Homo wajakensis yang menghebohkan dunia ilmiah sejak akhir abad ke-19.
Memasuki kawasan Situs Homo Wajakensis Gamping, pengunjung akan disambut papan nama bertuliskan “Situs Wajakensis” di sisi kiri jalan. Dua pohon besar yang dibalut kain hitam-putih khas budaya Jawa berdiri kokoh, menciptakan suasana sakral dan sejuk. Akses menuju lokasi berupa jalan menanjak yang telah dicor, biasa digunakan petani setempat menuju ladang mereka.
Tak jauh dari pintu masuk, berdiri gapura besar dengan ornamen empat replika tengkorak di bagian atasnya. Di sisi kanan gapura, terpampang papan informasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menjelaskan sejarah singkat penemuan Homo wajakensis. Informasi ini menegaskan posisi penting situs tersebut dalam sejarah prasejarah Indonesia.
Baca Juga: Rapel Pensiunan 2026 dan THR Masih Dalam Proses, Pemerintah Tegaskan Tak Ada Pembatalan Hak
Lokasi Penemuan Fosil Homo Wajakensis
Berdasarkan keterangan resmi, fosil tengkorak Homo wajakensis pertama kali ditemukan pada tahun 1888 oleh peneliti Belanda B.D. van Rietschoten saat melakukan survei bahan baku pabrik marmer di perbukitan Gamping. Temuan tersebut kemudian dilaporkan dan menarik perhatian ilmuwan ternama Eugène Dubois, yang saat itu sedang melakukan penelitian di wilayah Sumatra.
Karena tertarik dengan laporan tersebut, Dubois kemudian melakukan penelitian lanjutan di perbukitan Desa Gamping pada 1890. Dari kegiatan itu, ia berhasil menemukan fosil tengkorak kedua yang dikenal sebagai Wajak 2. Penemuan ini menjadi tonggak penting karena menunjukkan keberadaan manusia purba dengan ciri-ciri modern di wilayah Jawa.
Monumen dan Relief Dubois
Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, pemerintah daerah meresmikan sebuah monumen Homo wajakensis pada 2012. Monumen ini diresmikan langsung oleh Bupati Tulungagung saat itu, Heru Cahwono. Pada empat sisi bangunan monumen terdapat relief yang menggambarkan Dubois sedang melakukan penelitian.
Relief tersebut menjadi elemen edukatif yang penting, menggambarkan proses ilmiah penemuan fosil manusia purba. Monumen ini juga dilengkapi replika tengkorak berukuran besar yang ditempatkan di area lereng bukit, lengkap dengan pencahayaan di bagian mata yang menciptakan kesan dramatis, terutama saat malam hari.
Baca Juga: Pendaki Gunung Ijen Hilang Usai Lihat Sunrise, Remaja 16 Tahun Asal Banyuwangi Belum Ditemukan.
Kawasan Bernuansa Mistis dan Alami
Di sekitar monumen, pengunjung masih dapat melihat bangunan tua yang kini tampak terbengkalai. Bangunan tersebut dulunya diduga digunakan sebagai area kuliner atau tempat singgah pengunjung. Meja-meja batu besar dari lempengan batu asli masih tersusun rapi, menjadi saksi bisu aktivitas masa lalu.
Vegetasi liar yang merambat di dinding dan pepohonan besar menciptakan suasana alami sekaligus mistis. Lampu-lampu bergaya lawas seperti petromaks semakin menguatkan kesan masa silam. Di beberapa sudut kawasan, terdapat tulisan-tulisan filosofis seperti “Memuliakan Warisan Bumi, Mensejahterakan Manusia” yang mencerminkan nilai utama situs ini.
Namun sayangnya, kondisi kawasan Situs Homo Wajakensis Gamping saat ini terkesan kurang terawat. Bangunan kosong, fasilitas terbengkalai, serta minimnya aktivitas wisata membuat situs bersejarah ini terlihat sunyi.
Baca Juga: Menaker Yaseli Tegaskan BSU Tidak Ada Tahap Kedua, Isu BSU Oktober 2025 Dipastikan Hoaks
Potensi Besar yang Belum Tergarap
Padahal, secara ilmiah dan historis, Situs Homo Wajakensis Gamping memiliki nilai luar biasa. Homo wajakensis kerap disebut sebagai salah satu manusia Homo sapiens awal dengan tingkat kecerdasan dan postur tubuh yang sudah modern. Penemuan ini menempatkan Tulungagung dalam peta penting evolusi manusia dunia.
Dengan penataan ulang, perawatan serius, serta pengembangan wisata edukasi berbasis sejarah, situs ini berpotensi menjadi destinasi unggulan prasejarah di Jawa Timur. Lebih dari sekadar objek wisata, kawasan ini dapat menjadi pusat pembelajaran, penelitian, sekaligus kebanggaan identitas sejarah lokal.
Kini, Situs Homo Wajakensis Gamping seolah menunggu perhatian lebih agar jejak manusia purba yang mendunia ini tidak benar-benar hilang ditelan waktu.
Editor : Natasha Eka Safrina