Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

A journalistic photo style capturing the essence of the Jayabaya prophecy about Java Island sinking. The photo shows a dramatic view of the north coast of Java, where seawater has

Fadhilah • Kamis, 26 Maret 2026 | 17:00 WIB
Ramalan Jayabaya tentang tenggelamnya Pulau Jawa dinilai kian relevan dengan fenomena rob, krisis lingkungan, dan perubahan iklim.
Ramalan Jayabaya tentang tenggelamnya Pulau Jawa dinilai kian relevan dengan fenomena rob, krisis lingkungan, dan perubahan iklim.

TRENGGALEK NJENGGELEK - Ramalan Jayabaya tentang tenggelamnya Pulau Jawa kembali menjadi perbincangan, seiring berbagai fenomena alam dan sosial yang dinilai semakin mendekati gambaran dalam Jangka Jayabaya. Narasi kuno dari Prabu Jayabaya ini tak lagi sekadar dianggap mitos, melainkan mulai dikaitkan dengan kondisi nyata yang terjadi saat ini.

Dalam ramalannya, Jayabaya menggambarkan Pulau Jawa tidak hanya akan mengalami bencana fisik, tetapi juga krisis moral yang disebut sebagai “zaman edan”. Era ini ditandai dengan hilangnya nilai kebenaran, di mana orang jujur justru tersisih, sementara pelanggaran dianggap sebagai hal biasa.

Fenomena tersebut dinilai relevan dengan kondisi modern. Banyak pihak melihat adanya kemerosotan nilai sosial, meningkatnya kesenjangan, serta perilaku eksploitasi alam yang tak terkendali. Ramalan Jayabaya tentang tenggelamnya Pulau Jawa pun ditafsirkan sebagai simbol dari akumulasi kerusakan tersebut.Baca Juga: Geger Motor Listrik Murah Harga Rp15 Jutaan! Indomobil Resmi Luncurkan QT dan QT Pro di IIMS 2026, Jarak Tempuh Tembus 130 KM

Zaman Edan dan Awal Keruntuhan

Dalam Jangka Jayabaya, tenggelamnya Jawa diawali dengan runtuhnya moral manusia. Istilah “zaman edan” menggambarkan kondisi ketika masyarakat kehilangan arah, bahkan kebenaran menjadi sesuatu yang sulit ditegakkan.

Situasi ini bukan hanya soal etika, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, seperti pengambilan air tanah dan deforestasi, disebut sebagai pemicu awal kerusakan ekologis yang lebih besar.

Konsep ini selaras dengan kondisi saat ini, di mana sejumlah wilayah pesisir utara Jawa mengalami penurunan tanah (land subsidence) dan banjir rob yang semakin parah dari tahun ke tahun.

Jawa Kalung Parit dan Pembangunan Masif

Jayabaya juga menggambarkan istilah “Jawa kalung parit”, yang secara harfiah berarti Pulau Jawa dikelilingi parit. Banyak penafsir mengaitkan ini dengan pembangunan infrastruktur modern seperti jalan tol, kanal, dan jalur kereta.

Pembangunan tersebut memang membawa kemajuan, namun di sisi lain juga berpotensi merusak keseimbangan alam. Fragmentasi tanah dan perubahan aliran air alami dinilai mempercepat proses penurunan tanah.

Akibatnya, wilayah yang sebelumnya stabil menjadi rentan terhadap genangan air dan intrusi laut. Kondisi ini memperkuat anggapan bahwa ramalan Jayabaya bukan sekadar simbolik, melainkan memiliki relevansi ekologis.

Baca Juga: Geger Motor Matik Anti BBM Oplosan! Honda Luncurkan Evo GT, Skutik Listrik Canggih Berfitur Kamera Ganda dan Dashcam Setara Moge 250cc

Ancaman Nyata: Rob, Intrusi Air Laut, dan Krisis Pangan

Salah satu bagian paling mencolok dari ramalan Jayabaya adalah gambaran tentang daratan yang berubah menjadi lautan. Fenomena ini kini mulai terlihat di berbagai wilayah pesisir, khususnya di Pantai Utara (Pantura).

Air laut yang merembes ke daratan tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga merusak lahan pertanian. Sawah yang dulunya subur kini berubah menjadi tanah asin yang tidak lagi produktif.

Kondisi ini berpotensi memicu krisis pangan, sebagaimana disebut dalam ramalan Jayabaya tentang sulitnya mencari makanan. Kenaikan harga bahan pokok dan berkurangnya lahan produktif menjadi ancaman nyata yang mulai dirasakan masyarakat.

Perubahan Iklim dan Salah Mongso

Jayabaya juga menyinggung fenomena “salah mongso”, atau kekacauan musim. Dalam konteks modern, hal ini sering dikaitkan dengan perubahan iklim global.

Musim kemarau yang panjang disusul hujan ekstrem menyebabkan banjir dan kekeringan terjadi dalam waktu berdekatan. Selain itu, aktivitas gunung berapi dan gempa bumi juga disebut sebagai bagian dari ketidakseimbangan alam.

Para ahli menilai bahwa perubahan ini merupakan respons alam terhadap tekanan yang terus meningkat akibat aktivitas manusia.

Baca Juga: Motor Listrik Pintar Anti Maling! Cek Spesifikasi Yadea Voltman Velox Tipe E yang Bisa Nyala Pakai Remote dan Dilengkapi GPS Tracking

Bukan Sekadar Ramalan, Tapi Peringatan

Meski sering dikaitkan dengan hal mistis, banyak pihak menilai bahwa ramalan Jayabaya sebenarnya merupakan bentuk peringatan dini. Narasi tersebut mengajak manusia untuk kembali menjaga keseimbangan antara kehidupan dan alam.

Upaya seperti pengendalian eksploitasi air tanah, reboisasi, serta pengelolaan pesisir dinilai penting untuk mengurangi dampak yang lebih besar di masa depan.

Ramalan tentang tenggelamnya Pulau Jawa pun tidak harus dipahami sebagai kepastian, melainkan sebagai refleksi agar manusia lebih bijak dalam bertindak.

Pada akhirnya, masa depan Pulau Jawa sangat bergantung pada bagaimana manusia merespons tanda-tanda yang ada. Jika kerusakan terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin skenario dalam Jangka Jayabaya akan semakin mendekati kenyataan.

Baca Juga: Bongkar Rahasia Honda EM1 e: Motor Listrik Rasa Mobil Mewah yang Bikin Geger, Ternyata Ini Alasan Harganya Masih Selangit!

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#tenggelamnya Pulau Jawa #zaman edan #banjir rob Pantura #ramalan jayabaya #perubahan iklim