TRENGGALEK NJENGGELEK - Kepercayaan tentang Nogo Dino hari naas dalam primbon Jawa masih hidup di tengah masyarakat hingga kini. Istilah ini merujuk pada posisi “naga hari” yang diyakini menempati arah tertentu setiap hari, sehingga menjadi pertimbangan penting sebelum bepergian atau melakukan aktivitas besar.
Dalam tradisi Jawa, Nogo Dino hari naas dalam primbon Jawa sering dikaitkan dengan larangan menuju arah tertentu pada hari tertentu. Jika dilanggar, dipercaya dapat membawa kesialan atau hambatan dalam perjalanan maupun urusan yang sedang dijalankan.
Konsep ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Selain Nogo Dino, masyarakat Jawa juga mengenal istilah lain seperti Nogo Rijal (naga arah harian) dan Nogo Pasaran yang semuanya saling berkaitan dalam menentukan arah energi kehidupan.
Baca Juga: 7 HP 2 Jutaan Terbaik Lebaran 2026, Spek Gahar Harga Bersahabat! Ini Rekomendasi Paling Worth It
Arah Nogo Dino Berdasarkan Hari
Dalam penjelasan yang beredar di masyarakat, posisi Nogo Dino berbeda setiap hari. Berikut arah yang dipercaya sebagai lokasi “naga hari”:
- Hari Minggu: Selatan
- Hari Senin: Barat Daya
- Hari Selasa: Barat
- Hari Rabu: Barat Laut
- Hari Kamis: Utara atau Timur Laut
- Hari Jumat: Timur
- Hari Sabtu: Tenggara
Arah tersebut dipercaya sebagai posisi energi negatif atau pantangan untuk dituju secara langsung, kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak.
Nogo Rijal dan Nogo Pasaran
Selain Nogo Dino, masyarakat Jawa juga mengenal Nogo Rijal, yaitu arah lain yang berubah setiap hari. Misalnya:
- Senin: Selatan
- Selasa: Tenggara
- Rabu: Timur
- Kamis: Timur Laut
- Jumat: Utara
- Sabtu: Barat
- Minggu: Barat Daya
Sementara itu, Nogo Pasaran ditentukan berdasarkan hari pasaran dalam kalender Jawa:
- Kliwon: Tengah
- Legi: Timur
- Pahing: Selatan
- Pon: Barat
- Wage: Utara
Ketiga konsep ini sering digunakan secara bersamaan untuk menentukan arah yang sebaiknya dihindari atau dipilih saat hendak bepergian.
Masih Dipercaya sebagai Penentu Hari Baik dan Buruk
Kepercayaan terhadap Nogo Dino hari naas dalam primbon Jawa biasanya muncul saat seseorang akan melakukan perjalanan penting, pindah rumah, atau memulai usaha. Banyak orang tua zaman dahulu menyarankan untuk menghindari arah tertentu demi keselamatan dan kelancaran.
Meski demikian, tidak semua masyarakat modern mempercayai sepenuhnya konsep ini. Sebagian menganggapnya sebagai tradisi budaya yang patut dilestarikan, sementara yang lain melihatnya sebagai mitos.
Namun, bagi yang masih memegang teguh ajaran leluhur, memperhatikan arah Nogo Dino dianggap sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalani kehidupan.
Antara Tradisi dan Keyakinan Modern
Di era sekarang, keberadaan Nogo Dino tetap menjadi bagian dari identitas budaya Jawa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan kepercayaan spiritual yang mendalam.
Terlepas dari benar atau tidaknya, konsep ini mengajarkan pentingnya perencanaan, kehati-hatian, dan menghormati warisan leluhur. Pada akhirnya, banyak yang meyakini bahwa usaha tetap harus diiringi doa, karena hasil akhir tetap berada dalam kehendak Tuhan.
Editor : Fadhilah Salsa Bella