TRENGGALEK NJENGGELEK - Keunikan Masjid Saka Tunggal Banyumas dengan tradisi adzan empat orang kembali menjadi sorotan. Masjid tua yang berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini mempertahankan cara ibadah yang berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia.
Di Masjid Saka Tunggal Banyumas, adzan salat Jumat tidak dikumandangkan oleh satu muadzin dengan pengeras suara, melainkan oleh empat orang secara bersamaan tanpa bantuan teknologi modern. Cengkok adzan yang digunakan pun khas langgam Jawa, menambah nuansa tradisional yang kental.
Tradisi ini menjadi bagian dari identitas Masjid Saka Tunggal Banyumas yang hingga kini tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur.
Sejarah Masjid Saka Tunggal yang Sarat Nilai Budaya
Masjid Saka Tunggal merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah dan telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Meski belum memiliki catatan sejarah tertulis yang pasti, sejumlah indikasi menunjukkan bahwa masjid ini telah berdiri sejak sebelum era Masjid Demak.
Keunikan lain terlihat dari arsitekturnya. Tiang utama atau “saka tunggal” menjadi ciri khas utama, dengan motif ukiran yang disebut memiliki kemiripan dengan gaya seni pada masa Kerajaan Majapahit.
Hal ini menunjukkan adanya proses akulturasi antara budaya Hindu-Buddha dan Islam yang berkembang secara damai di tanah Jawa.
Tradisi Adzan Empat Orang dan Tanpa Pengeras Suara
Salah satu tradisi paling mencolok di masjid ini adalah cara mengumandangkan adzan. Empat orang muadzin melantunkan adzan secara bersama-sama tanpa menggunakan pengeras suara.
Selain itu, imam masjid yang juga sesepuh setempat memimpin doa sambil memukul bedug menjelang waktu salat Jumat. Suasana ini menciptakan pengalaman ibadah yang berbeda, lebih khusyuk, dan sarat nilai tradisional.
Tradisi ini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas lokal yang tidak tergerus oleh perkembangan teknologi.
Baca Juga: Nogo Dino dalam Kejawen Kembali Dibahas, Begini Cara Hitung dan Maknanya Menurut Leluhur Jawa
Penanggalan Aboge Masih Dipertahankan
Masyarakat sekitar Masjid Saka Tunggal juga dikenal masih menggunakan sistem penanggalan Jawa Aboge. Sistem ini menentukan awal tahun berdasarkan perhitungan tertentu, di mana 1 Muharram jatuh pada hari dan pasaran tertentu, seperti Rabu Wage pada tahun Alif.
Siklus penanggalan ini berlangsung selama delapan tahun (satu windu) sebelum kembali ke awal. Hingga kini, perhitungan Aboge masih digunakan untuk menentukan hari-hari penting dalam kehidupan masyarakat.
Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Keberadaan Masjid Saka Tunggal menjadi bukti nyata bagaimana Islam berkembang di Jawa melalui pendekatan budaya. Nilai-nilai Islam tidak menghapus tradisi lokal, melainkan beradaptasi dan menyatu dengan budaya setempat.
Hingga saat ini, masyarakat Desa Cikakak tetap menjaga keseimbangan antara ajaran agama dan tradisi leluhur. Meski modernisasi terus berkembang, generasi muda di wilayah tersebut masih dikenalkan pada nilai-nilai budaya Jawa yang telah diwariskan turun-temurun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Islam di Indonesia memiliki karakter yang khas, yakni mampu berdampingan dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya.
Editor : Fadhilah Salsa Bella