TRENGGALEK NJENGGELEK - Istilah Islam Aboge atau Alif Rebo Wage kembali ramai dibahas di tengah masyarakat. Banyak yang masih salah paham dan mengira Islam Aboge sebagai aliran keagamaan tersendiri, padahal sejatinya bukan demikian.
Dalam penjelasan yang beredar, Islam Aboge atau Alif Rebo Wage merupakan sistem perhitungan kalender Jawa yang digunakan sebagian masyarakat untuk menentukan waktu ibadah, seperti awal Ramadan, Syawal, dan hari besar Islam lainnya. Sistem ini berbasis pada siklus delapan tahun atau satu windu.
Islam Aboge tidak berbeda dari ajaran Islam pada umumnya. Para penganutnya tetap menjalankan rukun Islam seperti salat lima waktu, puasa Ramadan, dan ibadah lainnya sesuai syariat.
Asal-usul Istilah Aboge
Istilah Aboge sendiri merupakan singkatan dari “Alif Rebo Wage”. Artinya, tahun pertama dalam siklus kalender Jawa dimulai pada hari Rabu (Rebo) dengan pasaran Wage.
Sistem ini telah digunakan sejak lama dan diyakini berkembang sejak masa para wali di Jawa. Dalam perkembangannya, metode perhitungan ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang masih memegang kuat budaya Jawa.
Sistem Perhitungan Satu Windu
Dalam Islam Aboge, satu siklus penanggalan terdiri dari delapan tahun yang disebut satu windu. Setelah delapan tahun berlalu, perhitungan akan kembali ke awal, yaitu tahun Alif.
Setiap tahun memiliki pola perhitungan tersendiri untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Tahun Alif menjadi patokan utama karena menjadi awal dari seluruh siklus.
Sebagai contoh, dalam keyakinan penganut Aboge, tahun Hijriyah tertentu bisa ditetapkan sebagai tahun Alif, sehingga tanggal 1 Muharram jatuh pada Rabu Wage. Dari titik ini, perhitungan bulan-bulan berikutnya ditentukan.
Penentuan Ramadan dan Syawal
Salah satu ciri khas Islam Aboge adalah metode penentuan awal Ramadan dan Syawal. Berbeda dengan metode rukyat atau hisab modern, Aboge menggunakan rumus berdasarkan hari dan pasaran.
Misalnya, awal Ramadan ditentukan pada kombinasi hari tertentu dengan pasaran tertentu, begitu juga dengan 1 Syawal. Rumus ini mengikuti pola yang telah ditetapkan dalam siklus windu.
Karena itu, terkadang terdapat perbedaan penetapan awal puasa atau Hari Raya Idulfitri antara penganut Aboge dan pemerintah.
Bukan Aliran, Melainkan Tradisi
Penting untuk dipahami bahwa Islam Aboge bukanlah aliran atau sekte dalam Islam. Sistem ini hanya metode penanggalan yang dipadukan dengan tradisi lokal Jawa.
Para penganutnya tetap berpegang pada ajaran Islam yang sama, hanya saja menggunakan pendekatan berbeda dalam menentukan waktu ibadah.
Baca Juga: Nogo Dino dalam Kejawen Kembali Dibahas, Begini Cara Hitung dan Maknanya Menurut Leluhur Jawa
Warisan Budaya yang Masih Bertahan
Hingga kini, praktik Islam Aboge masih bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jawa Tengah dan sekitarnya. Tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya yang menunjukkan bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya lokal.
Di tengah perkembangan teknologi dan metode penanggalan modern, keberadaan Aboge menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap bertahan dan dihormati oleh sebagian masyarakat.
Meski sering menimbulkan perbedaan, keberagaman cara pandang ini justru memperkaya praktik keagamaan di Indonesia selama tetap dilandasi toleransi dan saling menghargai.
Editor : Fadhilah Salsa Bella