TRENGGALEK NJENGGELEK - Pembahasan tentang buku Majan dalam primbon Jawa dan arti hari sangar kembali menarik perhatian, khususnya bagi masyarakat yang masih menggunakan perhitungan kalender Jawa Aboge. Buku ini menjadi salah satu pedoman penting dalam menentukan hari baik dan menghindari hari pantangan untuk berbagai keperluan.
Dalam penjelasan yang beredar, buku Majan dalam primbon Jawa dan arti hari sangar berfungsi sebagai panduan penanggalan selama satu siklus delapan tahun atau satu windu. Di dalamnya memuat berbagai istilah penting yang sering digunakan dalam perhitungan hari, bulan, dan tahun dalam tradisi Jawa.
Buku ini biasanya dipadukan dengan pawukon untuk menentukan hari yang “mulus” atau baik digunakan, terutama untuk hajatan, pernikahan, atau memulai usaha.
Fungsi Buku Majan dalam Kalender Jawa
Buku Majan dapat diibaratkan sebagai kalender Jawa yang telah disusun secara sistematis. Di dalamnya tercantum awal tanggal setiap bulan, termasuk 1 Sura sebagai awal tahun Jawa.
Selain itu, buku ini juga mencantumkan siklus windu yang terdiri dari delapan tahun, yakni Alif, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakhir. Setelah satu siklus selesai, perhitungan akan kembali ke tahun Alif.
Menariknya, buku Majan disebut dapat digunakan dalam jangka panjang karena siklusnya terus berulang, sehingga dianggap sebagai “kalender sepanjang masa” dalam tradisi Jawa.
Arti Istilah Penting dalam Primbon Jawa
Dalam buku Majan terdapat sejumlah istilah yang perlu dipahami agar tidak salah dalam menentukan hari. Salah satunya adalah “hari sangar” atau hari yang sebaiknya dihindari untuk kegiatan penting.
Selain itu, ada istilah galengan tahun, yaitu hari pertama dalam tahun Jawa yang menjadi titik awal perhitungan. Hari ini biasanya memiliki energi kuat sehingga tidak dianjurkan untuk memulai kegiatan besar.
Istilah lainnya adalah taliwangke, yakni hari ketiga setelah galengan tahun, yang juga dianggap kurang baik untuk digunakan sepanjang tahun.
Kemudian ada jatingarang, yaitu hari yang berasal dari akhir tahun sebelumnya dan masih membawa pengaruh energi lama, sehingga juga dihindari.
Sangar Sasi dan Pantangan Bulanan
Selain pantangan tahunan, buku Majan juga memuat pantangan bulanan yang disebut sangar sasi. Hari-hari ini berbeda di setiap bulan dan tidak terikat pada wuku tertentu.
Ada pula istilah “nas tanggal 4”, yaitu hari keempat dalam satu bulan yang dihitung dari awal bulan dan sering kali dianggap kurang baik.
Selain itu, terdapat buda wekasan, yaitu hari Rabu terakhir dalam bulan tertentu yang juga dihindari oleh sebagian masyarakat Jawa.
Hari terakhir dalam bulan atau “macekan sasi” juga termasuk dalam daftar hari yang tidak disarankan untuk kegiatan penting.
Cara Menggunakan Buku Majan
Dalam praktiknya, masyarakat tidak hanya menghindari hari pantangan, tetapi juga mencari hari yang dianggap “mulus”. Untuk itu, buku Majan biasanya digunakan bersamaan dengan pawukon.
Setelah menandai hari-hari yang harus dihindari, pengguna akan mencari hari yang memiliki simbol baik, seperti warna hijau atau kuning dalam pawukon.
Metode ini dipercaya dapat membantu memilih waktu terbaik untuk berbagai keperluan, mulai dari hajatan hingga kegiatan usaha.
Warisan Budaya yang Masih Digunakan
Di tengah perkembangan zaman, penggunaan buku Majan masih bertahan di beberapa daerah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi perhitungan hari dalam primbon Jawa masih dianggap relevan.
Meski tidak semua orang mempercayainya, buku Majan tetap menjadi bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan cara masyarakat Jawa memahami waktu dan kehidupan.
Pada akhirnya, memahami buku Majan dan istilah dalam primbon Jawa bukan hanya soal menentukan hari baik, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak lama.
Editor : Fadhilah Salsa Bella