JAKARTA - Masjid Demak menjadi bukti kuat akulturasi budaya Hindu dan Islam di Indonesia. Masjid peninggalan Kesultanan Demak itu tidak hanya menyimpan sejarah penyebaran Islam di Jawa, tetapi juga menghadirkan simbol-simbol Majapahit, kisah Raden Patah, hingga perjuangan melawan Portugis yang kini kembali menarik perhatian publik.
Masjid Demak dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Pulau Jawa. Bangunan ini diyakini mulai didirikan sekitar tahun 1478 Masehi pada masa awal berdirinya Kesultanan Demak. Arsitekturnya yang khas Jawa dengan atap tumpang tiga menjadi simbol penting dalam proses Islamisasi Nusantara.
Keunikan Masjid Demak terletak pada perpaduan budaya Hindu, Jawa, dan Islam yang masih sangat terasa hingga sekarang. Berbagai simbol peninggalan Majapahit bahkan masih ditemukan di beberapa bagian masjid, mulai dari bentuk bangunan, ornamen, hingga filosofi yang digunakan dalam proses dakwah para wali.
Arsitektur Masjid Demak Sarat Simbol Islam dan Hindu
Masjid Demak memiliki bentuk atap menyerupai piramida bertingkat tiga. Dalam ajaran Islam, susunan tersebut melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Namun dalam tradisi Hindu, tiga tingkatan itu juga identik dengan konsep bhurloka, bhuvarloka, dan swarloka yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia menuju alam para dewa.
Pintu dan jendela masjid juga penuh filosofi. Jumlah lima pintu melambangkan rukun Islam, sedangkan enam jendela menggambarkan rukun iman. Konsep simbolik seperti ini menjadi ciri khas budaya Jawa sebelum datangnya Islam.
Selain itu, Masjid Demak dikelilingi kolam yang dahulu digunakan sebagai tempat bersuci sebelum memasuki area ibadah. Tradisi tersebut disebut sebagai bentuk akulturasi budaya Hindu dan Islam karena pola serupa juga ditemukan pada kompleks candi Hindu-Buddha.
“Kolam ini digunakan untuk pembasuhan diri sebelum memasuki tempat suci,” ungkap salah satu narasumber dalam tayangan dokumenter sejarah tersebut.
Di dalam masjid juga terdapat saka tatal, tiang utama yang dibuat dari potongan-potongan kayu dan dipercaya merupakan karya Sunan Kalijaga. Saka tatal melambangkan persatuan masyarakat kecil yang mampu menjadi kekuatan besar ketika bersatu menopang tujuan mulia.
Simbol Majapahit dan Kisah Raden Patah Jadi Sorotan
Pengaruh Majapahit di Masjid Demak terlihat jelas dari keberadaan simbol Surya Majapahit di atas mihrab masjid. Lambang itu identik dengan konsep Dewata Nawa Sanga dalam kepercayaan Hindu yang menggambarkan sembilan penjuru mata angin.
Keberadaan simbol tersebut memunculkan berbagai tafsir sejarah. Sebagian menyebut hal itu sebagai penanda bahwa Kesultanan Demak masih memiliki hubungan kuat dengan Kerajaan Majapahit.
Masjid Demak juga menyimpan keramik Tiongkok yang ditempel di dinding bangunan. Keramik tersebut disebut sebagai peninggalan ibu Raden Patah yang berasal dari Tiongkok.
Menurut sejumlah naskah kuno, Raden Patah merupakan putra Raja Brawijaya V dari Majapahit dengan seorang perempuan muslim keturunan Tiongkok bernama Siu Ban Ci. Karena konflik di lingkungan kerajaan, ibu Raden Patah kemudian dipindahkan ke Palembang hingga akhirnya melahirkan Raden Patah di wilayah tersebut.
Raden Patah kemudian dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak sekaligus raja Islam pertama di Jawa. Meski berusaha memisahkan diri dari Majapahit, pengaruh budaya kerajaan Hindu terbesar di Nusantara itu masih melekat kuat dalam sistem budaya dan arsitektur Demak.
“Demak mencoba mendekati budaya Jawa dan Hindu agar Islam mudah diterima masyarakat,” jelas narasumber dalam dokumenter itu.
Para wali juga menggunakan media wayang dan pendekatan budaya lokal sebagai sarana dakwah Islam. Strategi tersebut dinilai berhasil mempercepat penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15.
Kesultanan Demak Pernah Guncang Portugis di Malaka
Selain dikenal sebagai pusat penyebaran Islam, Kesultanan Demak juga tercatat pernah menjadi kekuatan maritim besar yang menantang Portugis di Malaka.
Tokoh penting dalam sejarah itu adalah Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor. Ia mendapat julukan tersebut karena keberaniannya menyeberangi Laut Jawa untuk menyerang Portugis di Malaka setelah wilayah itu jatuh ke tangan bangsa Eropa pada 1511.
Dalam penyerangan pertama, Pati Unus disebut berhasil memberikan perlawanan besar kepada Portugis. Ia memimpin ratusan kapal perang dan ribuan pasukan dari Jepara menuju Malaka.
Namun pada pertempuran berikutnya, Pati Unus gugur di medan perang. Perjuangan melawan Portugis kemudian dilanjutkan oleh Ratu Kalinyamat dari Jepara.
Ratu Kalinyamat dikenal sebagai pemimpin perempuan tangguh yang mengirim hingga 300 kapal dan sekitar 15 ribu prajurit untuk menyerang Portugis di Malaka. Portugis bahkan menjulukinya sebagai “Rainha de Jepara” atau Ratu Jepara karena keberanian dan kekayaannya.
Masjid Demak hingga kini tetap menjadi simbol penting sejarah Islam Nusantara. Bangunan itu bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan akulturasi budaya, lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa, hingga perjuangan melawan penjajahan asing di masa lampau.
Editor : Divka Vance Yandriana