JAKARTA - Sejarah Masjid Al-Aqsa menjadi salah satu kisah paling penting dalam peradaban Islam karena masjid suci di Yerusalem itu pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sekaligus lokasi peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Hingga kini, Masjid Al-Aqsa masih menjadi simbol perjuangan dan tempat suci yang diperebutkan berbagai kekuatan sejak ribuan tahun lalu.
Masjid Al-Aqsa berada di kota Al-Quds atau Yerusalem, salah satu kota tertua di dunia yang telah ada sejak sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi. Dalam sejarah Islam, kawasan ini diyakini pernah disinggahi banyak nabi mulai dari Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Daud AS, hingga Nabi Sulaiman AS.
Keistimewaan Masjid Al-Aqsa juga disebutkan dalam berbagai hadis Rasulullah SAW. Salah satunya hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebut masjid ini sebagai masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram dengan jarak pembangunan sekitar 40 tahun.
Baca Juga: Vivo V50 Resmi Hadir, Bawa Baterai 6000 mAh dan Desain Baru, Tapi Benarkah Lebih Baik dari Vivo V40?
Masjid Al-Aqsa Jadi Masjid Kedua yang Dibangun di Dunia
Masjid Al-Aqsa dikenal sebagai tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Nama “Al-Aqsa” sendiri berarti “masjid yang jauh” karena letaknya yang sangat jauh dari Makkah pada masa Rasulullah SAW.
Dalam riwayat Abu Dzar RA, Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa masjid pertama yang dibangun di bumi adalah Masjidil Haram, lalu disusul Masjid Al-Aqsa 40 tahun kemudian. Para ulama menyebut pondasi awal Masjid Al-Aqsa telah diletakkan sejak zaman Nabi Adam AS sebelum kemudian diperbaiki dan diperluas oleh Nabi Ibrahim AS serta Nabi Sulaiman AS.
Di masa Nabi Sulaiman AS, kawasan Baitul Maqdis berkembang menjadi pusat ibadah dan kerajaan yang makmur. Namun setelah wafatnya Nabi Sulaiman, wilayah tersebut mengalami konflik perebutan kekuasaan oleh berbagai bangsa seperti Babylonia, Persia, Yunani hingga Romawi.
Ketika dikuasai Romawi, bangunan suci di kawasan Al-Quds sempat dihancurkan hingga rata dengan tanah. Meski begitu, lokasi tersebut tetap dianggap suci oleh masyarakat setempat dan terus menjadi pusat spiritual bagi tiga agama besar dunia, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi.
Pernah Menjadi Kiblat Pertama dan Tempat Isra Mikraj
Keistimewaan lain dalam sejarah Masjid Al-Aqsa adalah pernah menjadi kiblat pertama umat Islam. Setelah perintah salat lima waktu diturunkan, Rasulullah SAW dan kaum muslimin melaksanakan salat menghadap ke Masjid Al-Aqsa selama sekitar 17 bulan sebelum akhirnya kiblat dipindahkan ke Ka’bah di Makkah melalui Surah Al-Baqarah ayat 144.
Selain menjadi kiblat pertama, Masjid Al-Aqsa juga menjadi lokasi penting dalam peristiwa Isra Mikraj. Dalam perjalanan agung tersebut, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa sebelum naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu.
Kompleks Masjid Al-Aqsa memiliki luas sekitar 14,4 hektare. Kawasan ini bukan hanya terdiri dari bangunan berkubah emas yang dikenal sebagai Dome of the Rock atau Qubbat As-Sakhrah, tetapi juga mencakup berbagai musala, halaman luas, gerbang, hingga pepohonan di sekitarnya.
Masjid berkubah emas yang populer di dunia saat ini dibangun pada masa Dinasti Umayyah oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 691 Masehi. Bangunan itu berdiri di atas batu yang diyakini menjadi tempat Rasulullah SAW memulai perjalanan Mikraj.
Dalam hadis riwayat Abu Darda RA disebutkan bahwa pahala salat di Masjid Al-Aqsa bernilai 500 kali lipat dibanding salat di masjid biasa. Hal itu menjadikan Al-Aqsa sebagai salah satu tujuan utama ibadah umat Islam selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Direbut Banyak Kekuasaan hingga Jadi Simbol Perjuangan
Sejarah panjang Masjid Al-Aqsa juga dipenuhi perebutan kekuasaan. Pada tahun 637 Masehi, Khalifah Umar bin Khattab berhasil memasuki Al-Quds secara damai setelah kemenangan kaum muslimin dalam Perang Yarmuk melawan Bizantium.
Menurut riwayat sejarah Islam, Umar bin Khattab datang ke Yerusalem hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta. Setelah menerima penyerahan kota, Umar langsung menuju kawasan Masjid Al-Aqsa yang saat itu dipenuhi sampah akibat ditelantarkan penguasa sebelumnya.
Umar bersama para sahabat kemudian membersihkan kawasan tersebut selama beberapa hari hingga kembali layak digunakan sebagai tempat ibadah. Momen itu semakin bersejarah ketika Bilal bin Rabah kembali mengumandangkan azan di Al-Quds dan membuat para sahabat menangis karena teringat Rasulullah SAW.
Masjid Al-Aqsa kembali menjadi pusat konflik saat Perang Salib pecah pada 1099 Masehi. Kota Al-Quds sempat dikuasai pasukan Eropa hingga akhirnya direbut kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 1187 Masehi tanpa pertumpahan darah besar.
Kini, Masjid Al-Aqsa masih berada di wilayah Palestina dan terus menjadi simbol perjuangan umat Islam. Konflik Palestina-Israel yang berlangsung hingga sekarang membuat kawasan suci tersebut tetap menjadi perhatian dunia internasional sekaligus lambang keteguhan rakyat Palestina dalam menjaga situs bersejarah itu.
Editor : Divka Vance Yandriana