Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Masjidil Aqsa dan Yerusalem Terungkap, Khalifah Umar hingga Nabi Sulaiman Jadi Sorotan

Divka Vance Yandriana • Selasa, 26 Mei 2026 | 18:12 WIB
Sejarah Masjidil Aqsa dan Yerusalem kembali disorot, mulai Khalifah Umar bin Khattab hingga kisah Nabi Sulaiman dan Isra Mikraj.
Sejarah Masjidil Aqsa dan Yerusalem kembali disorot, mulai Khalifah Umar bin Khattab hingga kisah Nabi Sulaiman dan Isra Mikraj.

JAKARTA - Sejarah Masjidil Aqsa kembali menjadi perhatian setelah kisah penaklukan Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khattab pada 637 Masehi dan peran para nabi di Palestina ramai diperbincangkan. Masjidil Aqsa disebut sebagai salah satu tempat suci umat Islam karena menjadi kiblat pertama, saksi Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, serta memiliki sejarah panjang yang juga terkait dengan umat Yahudi dan Kristiani.

Kompleks Masjidil Aqsa di Yerusalem menjadi wilayah penting bagi tiga agama besar dunia. Dalam Islam, masjid ini diyakini sebagai masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram. Sementara bagi umat Yahudi dikenal sebagai Baitul Maqdis, dan bagi umat Kristiani dianggap sebagai lokasi bersejarah dalam kisah Nabi Ibrahim AS.

Keutamaan Masjidil Aqsa tidak hanya berkaitan dengan sejarah keagamaan, tetapi juga menjadi simbol penting dalam perkembangan peradaban Islam sejak masa Nabi hingga kekhalifahan Islam.

Baca Juga: Vivo V50 Lite Resmi Dirilis, Baterai 6500 mAh di Bodi Super Tipis Jadi Sorotan, Harga Mulai Rp3 Jutaan

Khalifah Umar Bin Khattab Taklukkan Yerusalem dan Jamin Kebebasan Beragama

Khalifah Umar bin Khattab berhasil menaklukkan Yerusalem pada tahun 637 Masehi. Setelah kemenangan tersebut, Umar membuat perjanjian damai dengan pemimpin Kristen Yerusalem, Patriark Sophronius.

Perjanjian itu menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah Islam karena menjamin keamanan penduduk Yerusalem, termasuk perlindungan gereja dan kebebasan menjalankan ibadah.

Dalam isi perjanjian disebutkan bahwa gereja tidak boleh dihancurkan maupun diambil alih umat Islam. Penduduk juga diberikan hak mempertahankan harta dan tempat ibadah mereka selama membayar pajak sesuai aturan pemerintahan saat itu.

Baca Juga: Poco F7 Indonesia Ternyata Rebranding Redmi Turbo 4 Pro, TKDN 38,20% Terungkap, Snapdragon 8s Gen 4 Siap Masuk RI

Sejarawan menyebut perjanjian Umar sebagai salah satu bentuk toleransi beragama paling progresif pada zamannya. Bahkan, kebijakan tersebut berbeda jauh dibanding penaklukan Yerusalem sebelumnya yang diwarnai pembantaian besar-besaran.

Tak lama setelah memasuki Yerusalem, Umar disebut membersihkan area Al Haram Asy Syarif yang kala itu dijadikan tempat pembuangan sampah oleh Bizantium. Dari lokasi itulah kemudian dibangun Masjidil Aqsa yang dikenal hingga sekarang.

Pada masa Dinasti Umayyah, kawasan Yerusalem berkembang menjadi pusat perdagangan dan ziarah. Kubah Batu atau Dome of the Rock dibangun pada 691 Masehi untuk melengkapi kompleks Masjidil Aqsa.

Baca Juga: Infinix Hot 70 Pro Bikin Penasaran, Usung Layar AMOLED 144Hz dan Baterai 5.160 mAh, Layak Jadi Raja HP Rp3 Jutaan?

Masjidil Aqsa Jadi Kiblat Pertama dan Saksi Isra Mikraj Nabi Muhammad

Dalam ajaran Islam, Masjidil Aqsa memiliki kedudukan istimewa karena menjadi kiblat pertama umat Muslim sebelum dipindahkan ke Ka'bah di Makkah.

Masjid ini juga menjadi lokasi penting dalam peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al Isra ayat 1. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa sebelum naik ke Sidratul Muntaha.

Sebagian besar ulama meyakini Masjidil Aqsa pertama kali dibangun oleh Nabi Adam AS atas perintah Allah SWT. Namun bangunan awal tersebut diyakini lenyap akibat banjir besar pada masa Nabi Nuh AS.

Pembangunan kemudian dilanjutkan para nabi berikutnya, mulai Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS, Nabi Yaqub AS, Nabi Daud AS, hingga Nabi Sulaiman AS.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah disebutkan Nabi Sulaiman meminta tiga hal kepada Allah setelah membangun Masjidil Aqsa. Dua permintaan dikabulkan, yakni kerajaan besar dan keputusan hukum yang sesuai kehendak Allah.

Sementara permintaan ketiga adalah agar siapa pun yang datang beribadah ke Masjidil Aqsa keluar dalam keadaan bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan.

Keutamaan inilah yang membuat Masjidil Aqsa menjadi salah satu tempat suci paling dihormati umat Islam hingga saat ini.

Palestina Disebut Negeri Para Nabi, Dari Nabi Daud hingga Nabi Sulaiman

Palestina juga dikenal sebagai Negeri Anbiya atau negeri para nabi. Banyak nabi diutus dan memiliki jejak sejarah di wilayah tersebut, termasuk Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS.

Nabi Daud dikenal sebagai pemimpin Bani Israil yang berhasil menegakkan keadilan dan menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan. Dalam kisah Alquran, Nabi Daud berhasil mengalahkan Raja Jalut hanya dengan ketapel atas izin Allah SWT.

Selain menjadi raja, Nabi Daud juga menerima Kitab Zabur dan dikenal memiliki suara merdu saat membaca ayat-ayat Allah. Bahkan disebutkan gunung dan burung ikut bertasbih bersamanya.

Sementara Nabi Sulaiman AS dikenal memiliki kerajaan besar dan kemampuan berbicara dengan hewan serta jin. Ia juga disebut melanjutkan pembangunan dan perluasan Masjidil Aqsa.

Kisah Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis diabadikan dalam Surah An Naml. Dalam ayat tersebut diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman menunjukkan kebesaran Allah dengan memindahkan singgasana Ratu Bilqis hanya dalam sekejap.

Hingga kini, Masjidil Aqsa tetap menjadi simbol penting sejarah Islam dan peradaban dunia. Banyak umat Muslim memandang kawasan tersebut bukan hanya situs keagamaan, tetapi juga bagian penting dari identitas sejarah umat Islam sejak masa para nabi hingga kekhalifahan Islam.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Sejarah Masjid Al Aqsa #Yerusalem #isra mikraj