JAKARTA - Masjidil Aqsa kembali menjadi sorotan setelah banyak ulama dan sejarawan menjelaskan keutamaan Yerusalem sebagai kota suci bagi Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam kajian sejarah Islam, Masjidil Aqsa disebut sebagai masjid kedua yang dibangun di muka bumi sekaligus kiblat pertama umat Muslim sebelum dipindahkan ke Kakbah di Makkah.
Masjidil Aqsa juga dikenal sebagai lokasi penting dalam peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Tak hanya itu, kawasan Yerusalem atau Baitul Maqdis disebut sebagai tempat yang pernah disinggahi banyak nabi, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Isa AS.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bahkan menyebut hanya ada tiga masjid yang dianjurkan untuk dikunjungi dalam perjalanan ibadah, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Keutamaan ini membuat Masjidil Aqsa menjadi salah satu pusat spiritual terbesar dalam sejarah Islam.
Baca Juga: Vivo V50 Lite 5G Dibanderol Rp4,5 Juta, Baterai 6500 mAh dan Layar Borderless Jadi Senjata Utama
Masjidil Aqsa Disebut Masjid Kedua yang Dibangun di Bumi
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa memiliki sejarah sangat panjang sejak masa Nabi Adam AS. Dalam hadis Abu Dzar RA, Rasulullah SAW menyebut Masjidil Haram dibangun pertama kali, lalu Masjidil Aqsa dibangun 40 tahun setelahnya.
Perdebatan mengenai siapa yang pertama kali membangun Masjidil Aqsa masih berlangsung di kalangan ulama. Sebagian menyebut Nabi Adam AS membangunnya pertama kali, lalu diperbarui oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman AS.
“Masjidil Aqsa adalah tempat tinggal para nabi dan tanah yang diberkahi,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Keutamaan kawasan Syam yang meliputi Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon juga disebut berulang kali dalam Al-Quran. Salah satunya terdapat pada Surah Al-Isra ayat 1 yang menjelaskan perjalanan Isra Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.
Selain menjadi kiblat pertama umat Islam selama sekitar 16 bulan setelah hijrah ke Madinah, Masjidil Aqsa juga diyakini sebagai lokasi berkumpulnya para nabi saat Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat sebelum naik ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mikraj.
Khalifah Umar Bin Khattab Taklukkan Yerusalem Tahun 637 Masehi
Sejarah penting Masjidil Aqsa juga terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada tahun 637 Masehi, Umar berhasil menaklukkan Yerusalem dan menandatangani perjanjian damai dengan pemimpin Kristen setempat.
Perjanjian tersebut menjamin keamanan penduduk, gereja, dan kebebasan beragama warga Yerusalem. Sejarawan menyebut perjanjian itu sebagai salah satu kesepakatan paling progresif pada masanya.
Dalam isi perjanjian, Umar menjamin gereja tidak akan dihancurkan dan masyarakat tetap bebas menjalankan ibadahnya. Kebijakan ini berbeda dengan berbagai penaklukan berdarah yang pernah terjadi sebelumnya di Yerusalem.
Setelah memasuki kota, Umar juga membersihkan area kompleks Baitul Maqdis yang saat itu dipenuhi sampah. Di lokasi tersebut kemudian dibangun tempat ibadah yang menjadi cikal bakal Masjidil Aqsa.
Pada era Dinasti Umayyah, tepatnya tahun 691 Masehi, Kubah Batu atau Dome of the Rock dibangun untuk melengkapi kompleks Masjidil Aqsa. Bangunan berkubah emas itu kini menjadi ikon paling terkenal dari Yerusalem.
Masjidil Aqsa Diyakini Jadi Tempat Para Nabi dan Pusat Akhir Zaman
Kajian tersebut juga menjelaskan bahwa kawasan Syam dan Masjidil Aqsa memiliki hubungan erat dengan kisah para nabi. Nabi Daud AS pernah menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahannya, sedangkan Nabi Sulaiman AS membangun kembali Baitul Maqdis.
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, Nabi Sulaiman AS disebut memohon tiga hal kepada Allah setelah menyelesaikan pembangunan Baitul Maqdis. Salah satunya agar siapa pun yang datang beribadah dengan ikhlas ke Masjidil Aqsa mendapat ampunan dosa.
Selain itu, berbagai hadis juga menyebut kawasan Syam sebagai wilayah penting menjelang akhir zaman. Sejumlah peristiwa besar seperti turunnya Nabi Isa AS hingga munculnya Dajjal disebut akan terjadi di wilayah tersebut.
Ulama juga mengingatkan umat Islam untuk terus menjaga perhatian terhadap Masjidil Aqsa melalui doa, edukasi sejarah, dan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina.
“Masjidil Aqsa bukan sekadar bangunan, tetapi simbol sejarah panjang para nabi dan peradaban besar umat manusia,” demikian penegasan dalam kajian itu.
Hingga kini, status Yerusalem masih menjadi perhatian dunia internasional. Namun bagi umat Islam, Masjidil Aqsa tetap menjadi salah satu tempat paling suci yang memiliki nilai spiritual, sejarah, dan peradaban sangat besar.
Editor : Divka Vance Yandriana