JAKARTA - Gajah Mada menjadi tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Majapahit setelah mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Ambisi besar itu membuat Majapahit berkembang menjadi kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara, meski pada akhirnya juga memicu tragedi besar yang mengguncang kerajaan.
Asal-Usul Gajah Mada yang Penuh Misteri
Tokoh Gajah Mada hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Tidak ada sumber sejarah primer yang benar-benar menjelaskan asal-usul kelahirannya secara pasti. Sebagian besar kisah mengenai masa kecil Mahapatih Majapahit itu berasal dari sumber sekunder seperti kitab, hikayat, hingga tafsir sejarah.
Beberapa versi menyebut Gajah Mada lahir sebagai sosok istimewa. Dalam salah satu cerita yang ditulis Muhammad Yamin, Gajah Mada disebut lahir sebagai jelmaan Dewa Wisnu yang muncul dari buah kelapa. Sementara versi lain menyebut dirinya merupakan anak seorang dewa dengan perempuan bernama Patni Nari Ratih.
Ada pula kisah dalam Kitab Pararaton yang menyebut Gajah Mada merupakan putra Panglima Majapahit bernama Gajah Pagon. Bahkan, sebagian sejarawan menduga dirinya masih memiliki hubungan darah dengan Raja Kertanegara dari Singasari.
Meski asal-usulnya tidak jelas, nama Gajah Mada memiliki makna simbolis. Dalam budaya Hindu-Jawa, gajah dianggap sebagai lambang kecerdasan dan kekuatan. Sementara kata “mada” berarti mabuk atau berani tanpa rasa takut.
Karakter itu terlihat dalam perjalanan hidupnya. Gajah Mada dikenal cerdas, tegas, setia kepada kerajaan, dan memiliki ambisi besar memperluas kekuasaan Majapahit.
Karier politik Gajah Mada mulai menanjak saat berhasil menyelamatkan Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti pada 1319. Berkat jasanya, ia diangkat menjadi Patih Kahuripan sebelum akhirnya dipercaya menjadi Mahapatih Majapahit pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi.
Sumpah Palapa dan Ambisi Menyatukan Nusantara
Saat dilantik menjadi Mahapatih Majapahit pada 1336, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang kemudian menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah Indonesia.
Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada menyatakan tidak akan beristirahat sebelum wilayah Nusantara seperti Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik berhasil ditaklukkan.
Sumpah itu awalnya dianggap mustahil oleh para petinggi Majapahit. Banyak yang meragukan kemampuan Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan kerajaan.
Namun perlahan, ambisinya mulai terbukti. Pada 1339, Gajah Mada memimpin ekspedisi ke Sumatera dan berhasil memperluas pengaruh Majapahit di wilayah tersebut. Majapahit kemudian menempatkan Adityawarman sebagai wakil kerajaan di Sumatera.
Ekspansi berlanjut ke Bali pada 1343. Setelah pertempuran panjang melawan Kerajaan Bedahulu, Majapahit akhirnya berhasil menguasai Pulau Dewata.
Tak berhenti di sana, Gajah Mada juga memperluas pengaruh Majapahit hingga Selat Malaka dan Samudra Pasai. Untuk menaklukkan Samudra Pasai yang menjadi pusat perdagangan penting, pasukan Majapahit menggunakan strategi serangan darat dan laut secara bersamaan.
Dalam kurun sekitar 21 tahun, Majapahit berhasil memperluas pengaruh hingga Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Tumasik atau Singapura.
Keberhasilan ekspansi itu membuat Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara pada abad ke-14.
Tragedi Perang Bubat Jadi Titik Balik Gajah Mada
Di balik keberhasilan Sumpah Palapa, ambisi Gajah Mada juga memicu tragedi besar yang dikenal sebagai Perang Bubat pada 1357.
Peristiwa itu bermula ketika Raja Hayam Wuruk ingin menikahi putri Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka. Raja Sunda, Lingga Buana, datang ke Majapahit bersama rombongan kerajaan untuk menghadiri pernikahan tersebut.
Namun, Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri kepada Majapahit. Ia kemudian meminta kerajaan Sunda tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.
Kesalahpahaman itu berubah menjadi konflik berdarah. Pasukan Majapahit menyerang rombongan Sunda di Bubat. Dalam pertempuran tersebut, Raja Lingga Buana beserta sebagian besar rombongannya tewas.
Dyah Pitaloka yang menyaksikan tragedi itu memilih bunuh diri demi menjaga kehormatan keluarganya.
Perang Bubat menjadi pukulan besar bagi Hayam Wuruk. Sang raja kecewa karena rencana diplomasi politiknya hancur akibat tindakan Gajah Mada.
Setelah peristiwa itu, karier Gajah Mada mulai meredup. Ia diberhentikan dari jabatan Mahapatih dan diberi wilayah Madakaripura di Probolinggo sebagai penghormatan atas jasanya kepada Majapahit.
Hingga kini, akhir hidup Gajah Mada masih menjadi misteri. Sebagian sumber menyebut ia meninggal di Madakaripura, sementara kisah lain mengatakan dirinya moksa atau menghilang secara spiritual.
Meski penuh kontroversi, Gajah Mada tetap dikenang sebagai tokoh besar yang membawa Majapahit mencapai puncak kejayaan melalui Sumpah Palapa dan ambisinya menyatukan Nusantara.
Editor : Divka Vance Yandriana