JAKARTA - Candi Dadi di Tulungagung menjadi salah satu peninggalan Majapahit yang penuh misteri karena memiliki sumur besar yang tidak pernah tergenang air meski diguyur hujan deras. Berada di puncak bukit setinggi 400 meter di atas permukaan laut, Candi Dadi diduga menjadi tempat pemujaan sekaligus lokasi perabuan tokoh penting pada masa akhir Kerajaan Majapahit.
Perjalanan menuju Candi Dadi tidak mudah. Lokasi situs sejarah itu berada di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pengunjung hanya bisa mencapai area candi menggunakan sepeda motor sebelum melanjutkan perjalanan berjalan kaki sejauh sekitar 5 kilometer dengan medan terjal.
Keberadaan Candi Dadi juga menjadi perhatian para arkeolog sejak masa kolonial Belanda. Sejumlah penelitian tercatat pernah dilakukan oleh PJ Veth pada 1878, Hermans tahun 1913, hingga N.J. Krom pada 1915 dan 1923.
Candi Dadi Berdiri di Puncak Tertinggi Kompleks Percandian
Candi Dadi ternyata bukan bangunan tunggal biasa. Dahulu kawasan perbukitan di bagian selatan Desa Wajak Kidul merupakan kompleks percandian yang terdiri atas empat candi.
Selain Candi Dadi, terdapat pula Candi Gemali, Candi Buto, dan Candi Bubrah. Keempatnya membentuk susunan dari bukit paling rendah hingga tertinggi. Namun saat ini, hanya Candi Dadi yang masih berdiri relatif utuh, sedangkan tiga candi lainnya tinggal puing-puing berserakan.
Candi Dadi berada di titik paling tinggi. Posisi tersebut diyakini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Nusantara kuno yang menganggap gunung sebagai tempat suci.
“Puncak gunung dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur,” demikian penjelasan dalam narasi sejarah mengenai lokasi candi tersebut.
Bangunan Candi Dadi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang dan lebar sekitar 14 meter serta tinggi mencapai 6,5 meter. Material utamanya menggunakan batu andesit dan terdiri atas bagian batur serta kaki candi.
Menariknya, candi ini tidak memiliki relief maupun arca seperti kebanyakan peninggalan Hindu-Buddha lainnya di Jawa Timur.
Sumur Misterius Jadi Petunjuk Candi Hindu Era Majapahit
Salah satu bagian paling unik dari Candi Dadi adalah keberadaan sumuran besar di bagian tengah bangunan. Sumur itu memiliki diameter sekitar 3,5 meter dengan kedalaman mencapai 3 meter.
Keunikan sumuran tersebut terletak pada kondisinya yang tidak pernah dipenuhi air meski hujan deras mengguyur kawasan bukit. Air hujan disebut langsung meresap ke dalam tanah tanpa meninggalkan genangan.
Fenomena itu memunculkan berbagai dugaan masyarakat sekitar mengenai fungsi asli Candi Dadi pada masa lalu.
Para peneliti memperkirakan sumuran di bagian tengah candi menjadi petunjuk bahwa bangunan tersebut memiliki latar belakang keagamaan Hindu. Selain itu, bentuk bangunan yang berada di puncak bukit juga memperkuat dugaan bahwa Candi Dadi digunakan sebagai tempat ritual suci.
Beberapa ahli bahkan menduga Candi Dadi dipakai sebagai tempat perabuan atau pembakaran jenazah tokoh penting dan penguasa pada zamannya.
Meski begitu, hingga kini belum ditemukan prasasti ataupun data langsung yang benar-benar menjelaskan fungsi utama candi tersebut. Hal itu membuat sejarah Candi Dadi masih menyimpan banyak misteri.
Diduga Peninggalan Akhir Majapahit yang Belum Pernah Dipugar
Candi Dadi diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit sekitar akhir abad ke-14 hingga akhir abad ke-15. Periode tersebut menjadi masa menjelang runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara itu.
Berbeda dengan banyak situs sejarah lain yang telah direstorasi, Candi Dadi disebut belum pernah mengalami pemugaran sejak pertama kali ditemukan. Karena itu, bentuk bangunannya masih dianggap asli atau orisinal.
Lokasi candi yang langsung menghadap ke Lembah Boyolangu juga menciptakan pemandangan megah dari atas bukit. Kondisi alam itu dinilai mendukung fungsi spiritual candi sebagai tempat pemujaan pada masa lalu.
Keaslian bentuk bangunan dan minimnya perubahan membuat Candi Dadi menjadi salah satu situs penting untuk mempelajari arsitektur peninggalan Majapahit di wilayah selatan Jawa Timur.
Meski akses menuju lokasi cukup berat, keberadaan Candi Dadi tetap menarik perhatian wisatawan, peneliti, hingga pecinta sejarah yang penasaran dengan misteri peninggalan Majapahit tersebut.
Editor : Divka Vance Yandriana